Mata Batin

825 Kata
Petunjuk jam jatuh pada angka sepuluh saat Mia baru saja keluar dari kamar. Dua jam melepas penat dengan mata terlelap membuat rasa lelah Mia sedikit berkurang. Tidurnya tenang, Mia pun senang. kalau bukan karena haus, Mia juga tidak mau bangun lagi sampai pagi menjelang. Rupanya gadis lugu nan lucu itu sudah ganti baju. Mia memakai daster tidur unyu bermotif beruang tanpa kepala yang duduk di atas batu. Karena bagian kepalanya tak sengaja luntur terkena gosokan, baju bergambar kartun itu terkesan mengenaskan. Namun tenang saja. Meskipun bajunya jelek, tidak membuat kecantikan Mia serta merta hilang begitu saja. Dia masih cantik jelita khas gadis seusianya, apalagi di mata Bimanyu Irham. Terlalu sempurna. Cantik, segar, baik, mulus, enak, bergizi, tanpa ada cacat dan tanda-tanda keburikan sedikit pun di sekujur tubuhnya. Hanya kurang tinggi saja. Catat! Lalu, Mia melenggang dengan gaya setengah limbung sambil mencari di mana letak dapur. "Loh, Teteh dari tadi tidur? Capek banget, ya?" tanya ibu yang masih asyik berbincang dengan Bima sejak habis Isya. Ada bapak yang sedang menyesap kopi di samping ibu. Pria paruh baya itu langsung mematikan roko yang tinggal setengah, takut Mia protes karena anak itu kurang suka dengan asap roko. "Iya, Bu. Ini keluar juga karena haus." Anak itu mengucak kedua matanya sambil berjalan ke arah dapur yang tidak sulit ia temukan lantaran rumah Bima tidak terlalu besar. Mia mengambil segelas air putih dari dispenser, lalu meminum semua isinya hingga tandas. "Teh, sini dulu sebentar, ada yang mau kami bicarakan!" Ibu berteriak dari ruang tamu. Mia langsung berjalan agak cepat, lalu ikut bergabung dan duduk di samping Bima. "Ada apa, Bu?" tanya Mia tanpa berani melirik Bima yang sedari tadi memperhatikannya dengan mata lapar. "Jangan cuek begitu atuh Teh, suamimu mau memberi kamu hadiah tuh," tukas ibu, hobinya memang seperti itu, gemar memberi spoiler agar Mia semakin penasaran akut. "Hadiah apa, Mas?" Tatapan Mia beralih pada Bima. Pria itu mengulurkan sebuah kotak istimewa yang membuat mata ngantuknya membelalak seketika. "Ini hape, Mas?" teriak Mia kegirangan. Ia langsung mengambil barang itu dari tangan Bima tanpa numpang ngamen dulu ... maksudnya permisi. "Iya Hape." Bima tersenyum cerah. Usaha pertama untuk mengambil hati istrinya lancar jaya. Benda pintar berlogo apel yang digigit setengah itu mampu membuat Mia sedikit berpihak kepadanya. Ternyata benar apa kata konten video kreator yang Bima lihat di media sosial waktu itu. Ponsel adalah benda yang mampu membuat wanita luluh. Dan katanya bisa dengan mudah membuat wanita menyerahkan tubuh. Ah, Bima jadi membayangkan yang enak-enak! "Dibuka saja, Mi. Lihat isinya dulu, suka atau tidak!" "Pasti suka, Mas!" Mia segera membuka segel yang membungkus kotak itu. Dikeluarkannya benda itu dari takhtanya di dalam kardus. Mia menutup mulutnya tidak percaya, lalu mengambil dan memperhatikan benda pipih berwarna perak itu dengan netra jeli. "Ya ampun Bu, mata kameranya ada tiga," ujar Mia memamerkan benda pipih itu dengan teriakkan yang lebih heboh. "Memangnya kenapa kalau ada tiga? Fotonya bisa jadi tembus pandang, gitu?" "Iskh, Ibu! Ya enggak, lah. Mana boleh jual hape seperti itu, nanti terjerat kasus porno." Berbicara tanpa melihat, Mia terus mengagumi benda itu seolah ia hidup di bumi hanya sendiri, yang lain tak dianggap. Masih ingin mengobati rasa penasarannya, Ibu menceletuk lagi. "Terus matanya buat apa? Mata batin?" "Ya, ampun, Bu. Mana bisa hape pakai mata batin, ibu ada-ada aja!" Mia menarik sudut bibirnya hingga pipi itu tertekuk setengah manyun. "Habisnya kamu bilang matanya ada tiga, ibu 'kan bingung. Namanya juga ponsel pintar, mana tahu sekarang dilengkapi fitur mata batin," ujar ibu. Bima menimpali agar kekesalan Mia sedikit surut. "Hanya hiasan, Bu. Biar lebih menarik mungkin." "Oh begitu." Ibu beralih pada Mia dengan mata setengah melotot. "Bilang apa sama Mas Bima, Teh?" Eh, Mia mendongak saat ia melupakan sesuatu yang wajib dikatakan penduduk bumi ketika diberi sesuatu. "Makasih banyak Mas Bima, tapi ini teh serius hapenya buat, Mia? Harganya mahal sekali loh, Mas. Kata temen Mia harus jual ginjal dulu kalau mau punya hape yang ada gambar apelnya." Mia harap-harap cemas. Takut Ponselnya diambil lagi. Bima tergelak kencang. "Tenang saja, Mi. Harganya cuma tiga jutaan, kata orang konternya versi KW super. Mas juga tidak tahu maksudnya apa," jelas Bima. Seketika Mia cemberut, padahal ia baru saja hendak foto di depan cermin, sambil memamerkan mata tiga seperti wanita-wanita kece dan gaul di luar sana. "Loh ... loh ... anak bapak kok jadi manyun, kenapa?" Yang sedari tadi diam saja mulai bicara, bapak seolah tahu apa yang dirasakan putrinya. "Gak papa, Pak! Tadinya Mia mau foto sama Mas Bima sambil pamer ke temen-temen habis dikasih hape mahal, tapi karena hapenya KW, Mia tidak bisa pamer, atuh, malu!" "Eleuuuh, pamer itu tidak boleh, Neng! Pamali! Nanti teh ada pelakor, suami kamu direbut, kamu bisa jadi janda bolong. Tong kitu, Neng. Bahagia cukup dirasakan bersama pasanganmu saja, tidak perlu diperlihatkan pada dunia." Bapak mengeluarkan kata-kata mutiara palsu yang entah ia copy paste dari mana. Translator: (Aduhh, pamer itu tidak boleh, Neng! Nanti ada pelakor iri suamimu bisa direbut, terus kamu bisa jadi janda bolong—)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN