Ya, Beginilah nasib pria yang hanya lulusan SMP. Bagi seorang Bima, menyentuh buah d**a sapi adalah makanan sehari-hari. Bukan hanya menyentuh, ia juga meremas semua s**u betina-betina semok yang ada di peternakan tempatnya bekerja. Tidak ada satu pun s**u yang belum pernah Bima sentuh di sana, bahkan si pemilik tak menolak saat dua tangan Bima melecehkannya setiap hari. Mereka tetap anteng makan rumput, entah karena pasrah atau jangan-jangan malah menikmati sambil mendesah ala bahasa hewan. Bima tidak terlalu mau ambil pusing masalah hidup sapi karena itu sudah menjadi nasib mereka sebagai sapi perah.
Begitulah sepenggal kisah tentang pekerjaan Bima setiap waktu baik di musim hujan ataupun panas. Menyentuh, meremas, hingga s**u-s**u itu terkuras.
Masalahnya, pandangan hidup Bima mulai berubah semenjak ada kehadiran Mia di kasurnya. Meskipun d**a sapi adalah tugas dinasnya setiap hari, ia tetap ingin menyentuh s**u berlogo halal. Maksudnya milik manusia sungguhan yang katanya kenyal dan enak itu. Mau bagaimanapun juga pegang-pegang s**u sapi tak membuat Bonteng Cihuy-nya puas. Rasa penasarannya pada hal-hal baru tak bisa dipungkiri. Sayang si manusia tidak ada pekanya sama sekali. Gadis itu sibuk berfoto-foto dan memainkan gawai KW pemberian Bima. Hingga dengusan kasar keluar dari hidung Bima pun, Mia tak mendengar apalagi sadar.
"Mi, kamu belum ngantuk 'kan, ya?" tanya Bima seraya mengambil ancang-ancang, mana tahu Mia langsung agresif membuka sarung miliknya.
"Belum nih, Mas. Aku lagi download game dan beberapa aplikasi di hape, soalnya isinya masih kosong," ujar Mia tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pintar tersebut.
Lagi-lagi Bima mendengkus, sampai hidungnya kembang-kempis seperti tutorial ibu membuat kembang goyang.
"Sini dong, Mi! Jangan jauh-jauh duduknya. Kamu kayak orang takut kena virus korona. Kita itu sudah dites swab dulu sebelum nikah, jadi nggak perlu sosial distancing seperti itu, atuh."
"Eh, maaf Mas!" Mia merapatkan duduknya lebih dekat hingga kulit mereka saling bersentuhan. Refleks pria itu segera mengambil bantal di punggungnya secepat kilat, guna menutupi Bonteng Cihuy yang hobi mengacung saat dalam mara bahaya.
Ia letakkan bantal itu di atas paha agar semuanya aman terkendali. Lalu Bima berkata lagi, "Kamu beneran suka hapenya, Mi? Maaf ya, baru mampu beliin yang kw dulu. Soalnya yang asli mahal banget. Mas belum siap jual ginjal."
"Suka banget! kw juga nggak papa, Mas. Maafin kelakuanku yang tadi ya. Ini juga sudah alhamdulillah banget, Mas. Daripada nggak pegang hape sama sekali. Soalnya hape Mia udah rusak dari setahun yang lalu, bapak tidak mampu beli semenjak pandemi, karena warung usaha mi ayam bapak sepi total. Mungkin takut kena virus, jadi tidak ada yang mau beli," ujar gadis itu mulai membuka kehidupan keluarga yang Bima sendiri sudah tahu seperti apa ceritanya.
Sejak pandemi menyerang bumi, pengusaha F & B memang mengalami dampak hebat yang luar biasa. Beberapa restoran ternama dan pengusaha kecil di kota-kota besar harus ditutup paksa karena sepinya pengunjung dan juga program lock down. Adapun yang masih tetap memaksa buka, mereka nyaris tak mendapat keuntungan sepeser pun. Hal itu tentunya berlaku juga di wilayah perkampungan. Para masyarakat mulai hati-hati dan mengurangi konsumsi makanan dalam bentuk jadi. Mereka takut terkena virus korona. Virus yang ditandai dengan demam, batuk, dan pilek, namun targetnya adalah merusak jaringan imunitas tubuh manusia.
Hal inilah yang membuat Mia memantapkan diri untuk segera menikah. Mumpung ada yang mau, asalkan dia baik, mapan, punya motor, punya rumah, tidak cinta pun bukan sebuah masalah. Toh mereka masih bisa melakukan pendekatan setelah menikah. Malahan lebih seru karena apa pun yang mereka lakukan jatuhnya ibadah.
"Ya sudah, Mi, jangan dipikiran lagi. Yang penting sekarang kamu sudah punya hape baru." Bima mencoba menghibur sang istri yang mulai memasang wajah murung.
"Mas," panggil Mia.
"Iya."
"Sebenarnya ada hal penting yang mau aku bicarakan, tapi sebelumnya aku mau minta maaf dulu sama Mas Bima." Ia letakan ponsel barunya di bawah bantal bermotif kembang, lalu mulai menatap Bima dengan binar penuh keseriusan.
"Ngomong aja, katakan semua yang mengganjal di hati kamu," balas Bima mencoba mengerti wanita.
"Kalau bisa kita jangan langsung melakukan hubungan suami istri dulu ya, Mas. Aku belum siap melakukan itu."
Eh, kok jadi gini? Harapan Bima benar-benar auto lenyap. Lupakan s**u murni orisinal. Entah kapan ia bisa menyentuh benda berlogo halal itu kalau sang pemilik sudah memasang pagar setinggi langit.
Namun Bima si baik hati tetap mencoba untuk selalu mengerti. "Iya, tidak apa-apa, Mi. Aku ngerti kok kalau kamu masih dini, mungkin belum siap," balas Bima. Tentunya ada rasa kecewa besar yang ia sembunyikan rapat-rapat.
"Bukan masalah kecil sih, Mas. Masalahnya aku belum menyukaimu. Waktu itu 'kan Mia sudah pernah bilang kalau Mia mau menikah sama Mas Bima karena kasihan lihat ibu dan bapak yang kerepotan ngurusin tiga anak."
"Iya aku tahu," jawab Bima tanpa intonasi.
Mia meraih tangan Bima hati-hati, ia tahu betul bahwa pemuda yang melamarnya bulan lalu sudah jatuh hati kepadanya.
"Tapi satu hal yang harus Mas Bima tahu! Meskipun Mia belum cinta sama Mas Bima, kamu tetap pria terbaik yang aku pilih langsung dari hati, Mas. Aku melakukan salat istikharah setiap malam hanya untuk mendapatkan jawaban ini. Dan akhirnya aku memutuskan mau menerima lamaranmu meskipun belum ada rasa cinta." Mia menghentikan ucapannya sebentar untuk mengambil napas. Lalu ia berkata lagi,
"Aku ikhlas dinikahimu, Mas. Bukan terpaksa menikah seperti di novel-novel itu."
Kalimat Mia membuat Bima luluh dan terenyuh.
"Iya Mia, makasih ya sudah bersedia menikah denganku." Bima mencoba mengulas senyum walaupun rasanya masih berat seperti ditimpa gunung Tangkuban Perahu.
"Jangan marah ya, Mas. Aku hanya ingin memulai semuanya dari awal sama kamu. Melakukan pendekatan, penyesuaian, hingga akhirnya kita saling jatuh cinta," jelas Mia malu-malu.
"Iya, aku tahu yang kamu inginkan, Mi. Ya sudah kita tidur yuk, besok mamas harus kembali memeras s**u sapi." Kalimat itu Bima ucapkan dengan intonasi menyedihkan, yang menunjukkan bahwa malam ini ia gagal memeras s**u manusia.
"Tunggu dulu, Mas. Aku punya hadiah buat kamu sedikit."
"Apa itu?"
Bima menoleh. Bertepatan dengan itu, satu kecupan melesat cepat. Menerjang pipi kiri Bima hingga tanpa sadar ia terlonjak bahagia. "Selamat malam Mas Bima, sayang."
Mia langsung mengambil posisi tidur dan menarik selimut hingga menutupi kepala. Tindakan ekstrem pertama kali gadis itu sukses membuat Bima serasa ikut ajang uji nyali di rumah kosong angker.
Alamak, kasihanilah Bonteng hamba!
Bima yang seharusnya tenang dan bisa tidur menjadi gelisah lantaran Bonteng Cihuy-nya menjerit minta dilepas. Andai mulut Bonteng Cihuy memiliki suara, ia akan murka sambil memaki,
"Anyiing istri sia, Bima!"
(Anjing istri lo, Bima!)