Disembunyikan

1866 Kata

Bima menatap sebuah anak panah yang menancap di bagian dadaanya, lalu ia berpaling pada Mahaputra yang tengah menertawakannnya. Senjata itu begitu dalam merasuk sampai menembus dagingnya. Sakit luar biasa ia rasakan, terlebih lagi di dalam hatinya. Tak menyangka akan dipecundangi dengan cara memalukan seperti itu. Panglima perang itu mencabut anak panah di dadaanya, kemudian ia berusaha berdiri walau harus tertatih. Selanjutnya beberapa anak panah menyusul lagi menggantikan yang tadi. Lelaki tersebut tak diberi kesempatan untuk membela dirinya sendiri, dan Mahaputra masih menyaksikan kematiannya yang tak akan pernah tiba. Darah mulai mengalir dari bibir Bima. Ia tarik kembali satu per satu anak panah yang menancap, napasnya seakan tercerabut paksa, pandangan matanya mengabur dan kepalan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN