Mahaputra menyentuh bibirnya sendiri berkali-kali. Saat masuk secara paksa ke kamar Ayu, ia sempat merasakan manis mulut wanita itu walau hanya sebentar. Putra Makhkota itu tertawa sendiri, bahkan semalam bersama selir baru saja tak bisa menghilangkan kenangan indah itu. Pagi itu ia masih agak malas untuk menghadap ayahandanya sendiri, sedangkan Gusti Prabu sudah tak sanggup lagi untuk membendung segala gerutu dan tuntutan dari petinggi lainnya. Kemudian, lelaki itu pun diberi kesempatan terakhir. Jika anak yang dilahirkan dari salah satu selirnya tidak juga seorang putra, maka kedudukan putra makhkota akan digeser pada saudaranya yang lain. Peringatan itu justru membuat sang pangeran semakin bermalas-malasan di griyanya. Ia sengaja tak hadir pada beberapa pertemuan penting, sebab past

