Mahaputra memandang pelayan yang baru saja tiba dan duduk bersimpuh di depannya. Ia tak hanya sendiri saja, ada Bima juga duduk di sana. Panglima perang itu menyempatkan diri untuk sowan, hatinya merasa tempat itu memberikan sebuah petunjuk tentang keberadaan penyamun yang masuk ke dalam kamar istrinya. ‘Bau cendana. Istriku sempat mengatakan bau cendana begitu kuat tercium saat dia tak sendirian. Dan bau yang sama juga tercium di depanku sekarang,’ gumam Bima dalam hati. Tangannya seolah-olah ingin menghantam sesuatu di depannya dengan sangat kuat. “Sudah kau dapatkan apa yang kuminta?” Mahaputra memandang abdinya yang menunduk dan tak mengatakan sepatah kata pun. “Sudah Gusti Pangeran,” jawabnya sembari menangkupkan dua tangan di atas kepalanya. “Kau boleh pergi. Masih ada pekerj

