Kehilangan

1908 Kata

Sudah hampir satu purnama Bima tak pergi ke wilayah utara, hari-harinya hanya menemani dan membantu Ayu di balai pengobatan. Sesekali mereka berdua pergi berkeliling desa atau naik sampan menikmati keakraban yang tertunda di awal pernikahan. Mereka sama sekali tak berkuda, sebab Ayu hanya sedang menjaga diri, manatahu di dalam rahimnya benih itu telah tumbuh, meski tanda-tanda belum juga terlihat. “Tunggu sebentar, bisa berhenti di sana?” Mata cokelat Ayu terpukau melihat sebuah keindahan. Sebuah bunga dengan kelopak yang sangat besar dan berwarna merah darah. Jika tak salah ingat, ia dulu pernah diajarkan oleh gurunya, bunga itu hanya tumbuh seribu tahun sekali. Dan hanya orang beruntung yang bisa menemukannya. Sampan ditepikan oleh Bima, istrinya gegas turun mendahului dirinya. Ia pun

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN