"Gwen, jika kau mengantuk kenapa kau tidak makan malam duluan? Jangan menungguku seperti ini." tegur Theo saat melihat Gwen yang berkali-kali hampir membenturkan dahinya kepada meja makan.
"Tidak bisa. Aku tidak mau kau kabur seperti tadi pagi." tolak Gwen. Dia menipiskan bibirnya, mencoba menghalau rasa kantuk yang sepertinya hampir menguasai tubuhnya, "Lagipula... jika bukan sekarang, kapan lagi aku bisa mengatakan yang aku inginkan padamu? Baru satu hari aku disini, tapi kau selalu terlihat sibuk." lanjutnya
Theo menelan sesendok terakhir makan malam nya dengan susah payah. Entah kenapa dirinya merasa jika tenggorokan nya tercekat sesaat setelah mendengar ucapan perempuan itu. Dia meraih segelas air putih yang ada di dekatnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Gwen.
"Apa saat ini kau sedang merajuk?" tanya Theo
Gwen terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk, "Anggap saja seperti itu. Tapi aku tidak mau mengakui nya karena gengsi."
Theo tanpa sadar meloloskan tawa nya. Dia kembali melirik Gwen yang sudah menyangga wajah dengan kedua tangan dan mata terpejam.
"Lagipula... dulu Ibu ku juga selalu seperti ini. Ibu selalu menunggu Ayahku pulang. Sebelum tidur, Ibu juga biasanya menanyakan bagaimana hari yang sudah dilalui oleh nya. Lalu Ibu akan mendengarkan Ayahku bercerita." gumam Gwen tanpa membuka matanya
"Jadi kau mengikuti kebiasaan kedua orang tua mu?" tanya Theo pelan
Gwen mengangguk, "Uhm, ya. Begitulah. Setidaknya hal inilah yang aku lihat sejak kecil sampai aku dewasa dan memutuskan untuk pisah rumah dengan kedua orang tua ku." ungkapnya
"Well, aku iri pada kedua orang tua mu." ujar Theo
"Apa yang harus membuatmu iri? Mulai sekarang, kau juga akan mendapat perlakuan yang sama dariku. Aku akan menunggumu pulang, menemanimu makan malam dan mendengarkan semua keluh kesahmu sebelum tidur." sahut Gwen
Sesaat kemudian, Gwen merasakan sebuah tangan mengusap pucuk kepalanya dengan hangat dan penuh kelembutan. Wanita itu membuka mata nya dan mendongkak, dia menemukan Theo tengah berdiri tepat di samping nya dan tersenyum menatapnya.
"Baiklah. Terima kasih. Sepertinya kau orang pertama yang memperlakukanku seperti ini."
Sekilas, Gwen tertegun sebelum akhirnya turut mengulas senyumannya.
"Tapi, kau tetap harus tidur di kamar. Pergilah duluan. Aku akan membereskan bekas kita makan terlebih dahulu." lanjut Theodoric
"Uh? Biar aku saja. Aku sama sekali tidak membantumu tadi." tukas Gwen sambil mencoba berdiri dari duduknya. Namun kedua bahunya ditahan oleh Theodoric. Pria itu mengangkat jari telunjuknya tepat di depan mulut, meminta Gwen untuk diam.
"Biar aku saja. Kau mengantuk, bahaya jika kau masuk ke dapur. Jika kau tidak mau ke kamar duluan, tunggu aku disini." tolak Theodoric
Gwen terdiam membisu. Dia memang mengantuk. Sepertinya dia juga hanya akan merepotkan jika memaksa membantu. Theo benar, dapur adalah tempat yang berbahaya jika dimasuki oleh seseorang yang sedang mengantuk.
Gwen kemudian hanya bisa terdiam dan mengikuti langkah Theodoric dengan tatapan matanya. Dari meja makan, dia bisa melihat Theodoric menyimpan piring bekas mereka makan di dalam sebuah mesin pencuci piring. Pria itu melakukan semua nya tanpa kesulitan sama sekali.
Seolah sudah terbiasa melakukan nya sendiri.
Awalnya, Gwen kira jika Theo tetap akan dilayani oleh para pelayan jika makan malam dengan terlambat. Tapi dari cerita yang disampaikan Theo saat dirinya bertanya tentang kemana para pelayan, pria itu menjawab jika semua pelayan pasti sudah tidur karena sudah terlalu larut malam.
Tanda nya... setiap malam, Theo memang melayani dirinya sendiri tanpa bantuan pelayan.
Melihat sisi lain Theodoric yang seperti ini sedikit mengingatkan Gwen pada malam saat mereka bertemu. Jujur saja, malam itu Theodoric memperlakukannya dengan sangat lembut. Sisi Theodoric yang saat ini ditunjukan, terasa mirip dengan malam itu.
Apalagi saat pria itu bergerak dengan lembut dan menggenggam kedua tangannya saat pelepasan itu terjadi.
'Hmmmm, Gwen? Apa yang baru saja terlintas di kepalamu itu? Sejak kapan kau menjadi m***m?'
Teguran dari sisi warasnya membuat Gwen berdeham kecil. Dia kembali melirik Theo dan menemukan pria itu berjalan mendekatinya dari dapur.
"Sudah selesai?" tanya Gwen
Theodoric mengangguk. Pria itu kembali menyodorkan tangannya untuk di genggam oleh Gwen, untuk menjaga agar perempuan itu tidak terjatuh saat menaiki tangga.
Namun setelah melihat Gwen yang sempoyongan saat berdiri, Theo berbalik menunggungi Gwen dan berjongkok.
Apa yang dilakukannya memancing tanda tanya besar bagi Gwen.
"Kenapa kau seperti itu?" tanya Gwen penasaran
"Cepat naik. Kau tidak akan bisa berjalan dengan benar karena sudah terlalu mengantuk." ujar Theo
"Eh? Boleh?" balas Gwen yang dibalas dengan anggukan oleh Theo
"E-eh tapi... nantinya perutku terhimpit?" lanjutnya pelan
Theo terdiam seketika. Pria itu kembali menegakkan tubuhnya dan meraih tubuh Gwen ke dalam dekapannya. Menggendong perempuan itu secara bridal style yang mengingatkan Gwen pada saat Theo membantunya membersihkan diri setelah berhubungan intim.
Oh ya. m***m lagi.
Tanpa kesulitan sama sekali, Theo melangkah menaiki tangga.
"Aku berat tidak?" tanya Gwen
"Tidak juga. Walau tengah hamil, tubuhmu masih terhitung ramping." jawab Theo
Gwen tertawa kecil. Dia menyembunyikan wajahnya di d**a Theodoric dan kembali memejamkan matanya.
Sesaat kemudian, terdengar pintu yang terbuka. Dalam mata terpejam, Gwen sempat merasakan perbedaan suhu luar dan suhu kamarnya. Sebelum akhirnya tubuhnya diturunkan diatas ranjang yang empuk dan nyaman.
"Aku matikan lampu nya sekarang ya." ucap Theo sambil menekan sebuah saklar yang terdapat di dinding, menyisakan cahaya lembut dari sebuah lampu tidur yang berada diatas meja nakas.
Tepat sebelum pria itu membaringkan tubuhnya di samping Gwen, tatapan Theodoric mengarah pada meja nakas yang terlihat kosong.
"Rasanya ada yang janggal. Apa ya?" gumamnya pelan
Theodoric kemudian kembali menegakkan tubuhnya. Dia melirik Gwen dan tertegun saat menyadari apa yang terasa kurang dari rutinitas malam nya.
"Gwen, bangun dulu." pinta nya
"Hngh?"
"Kau sudah minum s**u Ibu hamil mu?" tanya Theo
Hening sejenak.
"S-sepertinya belum. Terakhir aku meminum nya adalah pagi tadi. Tak apa. Aku hanya melewatkan satu kali."
Tepat setelah Gwen mengatakan hal itu, dia mendengar pintu kamar yang kembali terbuka lebar bersamaan dengan langkah kaki berderap menuruni tangga.
Saat Gwen membuka kedua matanya, dia menemukan jika dirinya sendirian di dalam kamar. Tidak ada Theo yang tadi hendak tertidur di samping nya.
Pria itu keluar dari kamar.
Gwen kemudian bangkit dan menyandarkan tubuhnya pada dipan. Dia memandang hampa pintu yang terbuka lebar.
"Kemana lagi dia?" gumamnya pelan
Sesaat kemudian, pertanyaan nya terjawab saat Theo kembali dengan segelas s**u rasa strawberry yoghurt di tangannya. Itu s**u ibu hamil untuk dirinya.
"Minum dulu." ujar Theo sambil menyerahkan gelas tersebut pada Gwen
Dengan patuh, Gwen segera meminum s**u miliknya. Dengan ujung matanya, dia melihat Theodoric mulai membuka pakaiannya satu persatu.
"Aku mau membersihkan diriku dulu sebelum tidur. Jika sudah selesai, taruh saja gelasnya diatas meja. Biar nanti pagi pelayan yang mengambilnya." tukas Theodoric sebelum melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Gwen mengangguk kecil, menyahuti ucapan Theodoric. Setelah segelas s**u yang dikhususkan untuknya itu habis, Gwen menatap gelas nya dan tersenyum.
"Aneh. Kenapa rasanya jadi jauh lebih manis, ya?"
Tanpa disadari oleh Gwen maupun Theodoric, sepasang mata memperhatikan interaksi mereka sejak di meja makan dari sudut yang tak terlihat. Orang itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat dengan kedua tangannya yang mengepal erat, sebelum akhirnya berjalan menjauhi kedua nya.