Chapter 10: Keadaan yang berbeda dari biasanya

1701 Kata
Keesokan paginya, Gwen terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Mungkin karena efek sikap Theo yang lebih memperhatikannya. Seperti saat ini. Pria itu menjadikan lengannya sebagai bantal bagi Gwen sepanjang malam. Walau itu romantis, tentu saja Gwen juga tahu jika pria itu akan merasa pegal saat terbangun nanti. "Morning?" sapa Theo saat menyadari jika Gwen tengah menatapnya "Kau bangun sepagi ini? Tidur lah lagi. Kemarin malam kau tidur larut karena menungguku, kan?" lanjut pria itu Gwen menyunggingkan senyuman lebarnya, "Aku mau memasak." "Memasak?" "Iya. Untuk kita semua sarapan pagi ini." Dahi Theodoric berkerut samar. Dua menatap Gwen dengan ragu. "Aku bisa masak, tenang saja. Apa saat ini kau tengah meragukan kemampuanku?" tanya Gwen saat melihat raut tidak yakin yang ditunjukan oleh Theo padanya. Dia bersedekap, "Pasta yang kemarin kau makan rasanya enak?" Theo mengangguk, "Iya. Aku menyukainya." "Itu aku yang memasak." tukas Gwen sombong Alih-alih mempercayainya, Theo malah terlihat semakin tidak yakin dengan perkataan sombong yang diutarakan oleh Gwen. Melihat itu, Gwen mengerucutkan bibirnya dan menatap sebal Theo. "Kau masih tidak percaya?" tanya Gwen "Iya..." "Kalau begitu aku akan menunjukan nya padamu. Ayo cuci muka dan turun ke dapur. Kapan lagi kau melihat mantan calon chef sepertiku bekerja di dapur?" ajak Gwen Theo terkekeh kecil. Dia bangkit dari posisi tidurannya dan melangkah ke kamar mandi, mengikuti ajakan Gwen untuk turun ke dapur di jam setengah enam pagi. Padahal biasanya, dia akan tidur sedikit lebih lama sebelum akhirnya pergi ke kantor. Setelah melihat Theo yang menuruti perintahnya, Gwen kembali mengulas senyuman lebarnya. Siasat nya berhasil. Sesaat setelah dirinya melihat Theo keluar dari kamar mandi, Gwen mengikuti apa yang dilakukan Theo sebelumnya. Kemudian keduanya berjalan keluar kamar dalam keadaan rumah yang masih gelap gulita. Theo mendudukkan dirinya disebuah kursi yang ada di dapur, dia memperhatikan punggung ramping Gwen yang tengah memakai sebuah apron. "Apa yang ingin kau makan pagi ini?" tanya Gwen Theo terdiam selama beberapa saat, "Pancake." jawabnya. Pria itu memiringkan kepalanya, "Kau bisa membuatnya?" "Tentu saja. Apa yang aku tidak bisa?" balas Gwen sambil tertawa kecil. Tangannya mulai bergerak lincah meraih beberapa bahan makanan untuk membuat pancake. Theo memperhatikan bagaimana wanita itu bergerak menguasai dapur. Tidak terlihat canggung ataupun ragu-ragu. 'Sepertinya dia memang terbiasa memasak.' batinnya Sambil membuat pancake, Gwen juga menyiapkan secangkir kopi untuk Theodoric. Sesuai kebiasaan pria itu sejak lama. "Tunggu sebentar ya. Pancake nya sudah hampir matang." ucap Gwen tanpa menatap Theodoric. Tangannya sibuk mengiris buah-buahan yang akan dijadikan sebagai topping pancake. Untuk menyahuti ucapan Gwen, Theodoric hanya terkekeh dan mengangguk. "Iya. Aku akan menunggu." Pagi ini, kediaman keluarga Blake memiliki pemandangan yang lain dari biasanya. Namun hal yang berbeda itu juga yang membuat Bibi yang biasanya bertanggung jawab untuk urusan dapur menjadi ragu untuk melangkahkan kakinya memasuki dapur. Belum lagi karena sesekali suara tawa terdengar dari sana. Hal itu semakin membuatnya ragu untuk melangkah. "Apa yang terjadi?" tanya Donna, Kepala pelayan yang melihat rekan kerja nya hanya mengintip dari pintu dapur tanpa terlihat berniat melangkah masuk sama sekali "Tuan Theo dan Nyonya Gwen ada di dalam sana." jawab Bibi Penasaran dengan apa yang dilihat oleh rekan kerja nya, Donna melakukan hal yang sama. Kedua wanita paruh baya yang sudah cukup lama bekerja di kediaman Blake itu jelas baru mendengar suara tawa lepas seperti itu di dalam rumah. Sebelumnya, jangankan suara tawa. Suara anggota keluarga yang mengobrol saja belum pernah terdengar di rumah itu. Keduanya mengulas senyuman masing-masing sebelum akhirnya dengan tenang membubarkan diri mereka dan membiarkan Tuan dan Nyonya keluarga Blake itu bersama di dapur. *** "Ugh, perutku tidak nyaman sekali!" keluh Gwen sambil menyentuh perutnya dengan ekspresi kesakitan Theo yang melihat itu langsung turun dari kursi nya dan menghampiri Gwen yang baru saja menyelesaikan acara memasaknya. "Kau baik-baik saja?" tanya Theo Gwen menggelengkan kepalanya, "Sepertinya aku harus istirahat." jawabnya pelan. Dia mengangkat kepalanya pada Theo dan menatap pria itu dengan raut penuh permohonan, "Sepertinya aku akan terlambat sarapan. Kau duluan saja, ya?" lanjutnya Terlihat Theo tersentak kecil sebelum akhirnya terdiam ragu. "Semua makanan nya sudah selesai. Kau hanya tinggal duduk di meja makan dan sarapan bersama anak-anak. Jika perutku sudah lebih baik, aku akan segera menyusul." tukas Gwen masih sambil menyentuh perutnya "Apa kita tidak sebaiknya pergi ke dokter saja?" tanya Theo "Tidak, tidak. Tidak usah. Ini hanya sakit perut biasa. Percayalah." jawab Gwen cepat. Perempuan itu melirik ruang makan yang terlihat dari dapur. Samar-samar dia mendengar suara kursi yang digeser, pertanda jika anak-anak Theodoric mungkin sudah berada di sana dan bersiap untuk sarapan. "Pergilah sana!" ucap Gwen sambil mendorong Theo untuk keluar dari dapur Dengan langkah ragu, pria itu melangkah mendekat ke meja makan. Dapat dia lihat, ketiga anak-anaknya menatap dirinya dengan tertegun. Seolah baru saja melihat sesuatu yang mengejutkannya. Hingga saat Theodoric duduk di tempatnya, tatapan itu sama sekali tidak menghilang. Dari dapur, Gwen mengintip hal itu dengan seulas senyumannya. Walau memang terlihat canggung, tapi entah kenapa Gwen merasa senang dengan pemandangan di depannya. Dari kejauhan, di juga bisa melihat Ruby yang tertegun sebelum akhirnya mengubah ekspresi wajahnya. Yahh... walau begitu, di mata Gwen, anak itu tetap tidak bisa menyembunyikan ekspresi senang nya karena melihat kehadiran Theodoric disana. "Kenapa mereka tidak mengobrol juga?" gumam Gwen yang merasa gemas dengan suasana canggung di meja makan "Nyonya, tidak mudah memperbaiki hubungan yang sudah bertahun-tahun renggang." ucap Bibi dapur pelan Gwen mengerucutkan bibirnya. Tapi akhirnya dia hanya bisa menghela nafasnya dan mengangguk mengerti. Theo mau duduk di meja makan saja, merupakan hal yang patut di syukuri. Gwen kemudian melangkah semakin memasuki dapur. Dia duduk di kursi tempat Theodoric duduk sebelumnya dan memakan buah-buahan sisa hiasan pancake dengan seulas senyuman yang tidak memudar. "Nyonya? Sudah lebih baik? Kenapa tidak menyusul Tuan untuk makan?" tanya Bibi dapur dengan dahi berkerut melihat Gwen duduk dengan santai. Seolah rasa sakit perut yang sebelumnya di rasakan oleh nya itu menghilang bagaikan mimpi. "Oh, aku?" tanya Gwen. Dia mengerjapkan matanya pelan sebelum akhirnya menyunggingkan cengiran nya pada sang Bibi, "Sebenarnya aku tidak sakit perut." "Lalu kenapa Nyonya berbohong pada Tuan?" "Sengaja. Aku tahu jika aku ikut duduk disana, pasti atmosfer nya akan jauh lebih canggung dari sekarang. Makanya aku tidak ikut sarapan disana." jelas Gwen Bibi menatap sang Nyonya dengan ekspresi wajah tertegun. Apalagi melihat wanita yang tengah hamil di hadapannya itu mengatakan hal tersebut dengan santai nya. "Bibi, tidak mudah menerima orang baru sepertiku. Jadi sudah sudah seharusnya aku tahu diri. Aku harus mendekat dengan perlahan. Aku juga tahu, anak-anak Theodoric tidak membenciku. Mereka hanya belum mengenalku." *** Gwen melangkah keluar dari dapur tepat sesaat setelah Theo dan anak-anaknya menyelesaikan sarapan mereka. Saat melewati meja makan, wanita itu melirik semua piring diatas meja yang kosong. Pancake buatan nya dimakan hingga habis oleh Theo dan anak anak. Yah, tidak apa jika dirinya tidak duduk bersama dengan mereka sebagai anggota keluarga. Gwen sudah merasa puas hanya dengan melihat makanan buatan nya habis. Tidak seperti sebelumnya yang berakhir sia-sia. Gwen melangkah menaiki tangga. Tepat saat dirinya menginjak anak tangga yang ada di tengah, kedua netra nya melebar saat melihat Ruby berdiri di depan pintu kamarnya dan Theodoric. Anak ketiga Theo itu terlihat mengangkat tangannya, seolah ingin mengetuk pintu di hadapannya. Namun Ruby terlihat kembali mengurungkan niatnya. Anak itu mengepalkan tangannya dan kembali menurunkan tangannya. Gwen memperhatikan anak itu dari belakang dengan seulas senyuman. Merasa gemas dengan tingkah ragu-ragu Ruby. Seolah merasa tahu jika tengah diperhatikan, Ruby menolehkan kepalanya. Dia menatap lurus Gwen yang beberapa meter berada dibelakang nya. "Hai." sapa Gwen. Dia kembali melangkahkan kakinya menaiki tangga dan menhentikan langkahnya tepat di samping Ruby, "Mau masuk?" tawar nya Terlihat Ruby menatapnya datar sebelum akhirnya berbalik pergi menjauh darinya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Jika sebelumnya dia akan merasa sakit hati. Tapi tidak dengan sekarang. Dia tidak ada waktu untuk merasa sakit hati. Misi nya saat ini hanya satu, yaitu mempersatukan keluarga Theodoric yang tidak sempurna. Tidak ada niat lain. Gwen tersenyum kecil sebelum melangkahkan kakinya memasuki kamar. Bertepatan dengan kedatangannya, dia melihat Theo baru saja keluar dari kamar mandi. "Kau sudah lebih baik?" tanya Theodoric sambil melangkahkan kakinya mendekat kepada Gwen. Dahinya berkerut samar, terlihat khawatir pada Gwen 'Ahh, aku sedikit merasa bersalah...' batin nya. Tapi Gwen tetap mengangguk tanpa menghilangkan senyumannya, "Iya. Aku sudah lebih baik." "Kalau begitu mau aku temani sarapan? Kau belum sarapan, kan?" "Kau harus bekerja, Theo. Jika kau menemaniku sarapan dulu, nanti kau terlambat." tolak Gwen dengan halus Theo terdiam selama beberapa saat, menatap Gwen dari atas ke bawah seolah memastikan dengan matanya sendiri jika wanita yang menjadi istrinya itu baik-baik saja. "Aku tak apa jika terlambat sekali." ujar Theo "Benarkah?" "Iya. Kau mau sarapan, kan? Tunggu aku sebentar. Aku akan berpakaian dan menemanimu di meja makan." ucap pria itu sambil melangkah mendekati lemari pakaiannya Gwen melakukan hal yang sama. Dia berdiri tepat di samping Theo dan membantu mengambilkan setelan kerja pria itu. "Terima kasih." tukas Theo yang dibalas anggukan oleh Gwen Wanita itu melangkah mendekati ranjang dan duduk di bagian samping. Dia memperhatikan Theo yang tengah berpakaian dengan seulas senyuman tipis. "Theo," panggilnya Pria itu menoleh dan menatapnya dengan satu alis terangkat tinggi, "Ya?" "Apa kau tahu? Tadi Ruby ada di luar kamar ini." "Sungguh? Kau serius?" Gwen mengangguk sambil melebarkan senyumannya saat melihat raut terkejut sekaligus antusias yang ditunjukan Theo padanya. "Iya. Tapi sepertinya dia ragu-ragu untuk mengetuk pintu. Saat aku menawarkan dia untuk masuk, dia menolak." jelas Gwen Terdengar helaan nafas yang berasal dari Theodoric. Pria itu mengancingkan kemeja nya sebelum melangkah mendekati Gwen. "Sepertinya dia tidak ingin bicara denganku." gumam Theo pelan. Pria itu menunduk menatap dasi di tangannya yang di ambil alih oleh Gwen. Dia menatap lekat wajah Gwen yang tengah memasangkan dasi nya. "Tapi tak apa. Aku bersyukur karena bisa makan bersama dengan mereka. Tidak bicara pun tak apa." lanjut nya dengan seulas senyuman Mendengar itu, Gwen tertegun. Sekilas dia bisa melihat perasaan bersalah yang terbesit di kedua mata Theo. Dia juga bisa merasakan jika rasa sayang Theodoric pada anak-anaknya sangatlah besar. Jika pria itu begitu menyayangi anak-anaknya, kenapa hubungan mereka canggung? Di meja makan tadi, Gwen juga bisa merasakan jika ketiga anak Theodoric senang dengan kehadiran pria itu. Walau tentu saja ketiga nya masih memasang wajah datar. Tapi Gwen bisa merasakan ketiganya senang dengan keberadaan Theo. Jika Theo menyayangi ketiga nya dan ketiga anak-anak itu menyayangi Theo, lalu kenapa hubungan mereka renggang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN