Chapter 11: Seorang malaikat yang dikirim Tuhan untuk Theodoric dan keluarga nya

1679 Kata
"Makan yang banyak. Apa yang kau makan, nutrisi nya dibagi dua dengan bayi nya." Gwen mengangguk kecil, dia memakan makanan di hadapannya dengan perlahan. Tak ingin tersedak dan membuatnya malu dihadapan Theo. Apalagi... entah kenapa pelayan yang berlalu lalang terlihat memperhatikan mereka dengan wajah yang merona. Yah, Gwen juga tahu sih. Theodoric biasanya akan pergi dengan tergesa di pagi hari. Para pelayan, kepala pelayan dan Bibi dapur juga membenarkan hal itu. Jadi pemandangan Theo yang duduk santai di meja makan dan memperhatikan Gwen, tentu saja adalah hal yang mengejutkan. Apalagi walau dengan setelan kerja nya, pria itu terlihat santai menunggu Gwen menghabiskan makanan nya. Gwen jadi sedikit salah tingkah karena merasa diperhatikan dari berbagai sudut oleh para pelayan. "Mau tambah lagi?" tawar Theo saat melihat Gwen hanya terdiam menatap piring nya "Ini juga belum habis, Theo. Aku tidak yakin bisa menghabiskan nya." protes Gwen sambil menatap sebal Theo yang malah tertawa setelah mendengar protesan nya. Dia memicingkan matanya, "Porsi ku tidak sebesar ini. Tapi kau meminta Bibi memasukan banyak hal ke dalam piring." lanjutnya "Sudah ku bilang, kan? Nutrisi nya dibagi dua dengan anak kita." tukas Theo "Anak kita juga akan protes jika diberi makan sebanyak ini." decak Gwen Lagi-lagi, Theo hanya tertawa menanggapi ucapan bernada protes dari Gwen. Hingga kemudian, atensi Gwen teralihkan oleh sebuah suara langkah yang berderap menuruni tangga. Dia mendongkak dan melihat ketiga anak Theodoric yang sudah siap untuk pergi ke sekolah. Dia mengikuti pergerakan ketiga nya dengan tatapan mata. Berbeda dengan Lukas dan Ruby yang langsung melangkah keluar dari rumah setelah melihat keberadaan Gwen dan Theo di meja makan... Grace, anak pertama Theodoric itu terdiam di bagian bawah tangga dan menatap lurus ke arah Gwen. Entah apa arti tatapannya. Tapi Gwen membalas tatapan Grace dengan seulas senyuman. Cukup lama Grace berada di posisi itu. Hingga kemudian anak pertama Theodoric itu pergi beranjak dari sana mengikuti langkah Lukas dan Ruby yang sudah terlebih dahulu pergi ke sekolah dengan kendaraan masing-masing. 'Apa arti tatapannya tadi, ya?' pikir Gwen penasaran "Kenapa? Ada apa?" tanya Theo saat Gwen tidak juga mengalihkan pandangannya dari pintu rumah yang menghalangi pandangannya dari Grace "Tidak ada. Hanya sedikit merindukan masa sekolah." jawab Gwen sambil kembali menyendokkan makanan ke dalam mulutnya "Theo, aku sedikit bosan di rumah." ungkap Gwen setengah mengeluh "Kau boleh jalan-jalan keluar atau bertemu dengan teman-teman mu. Tapi jangan terlalu lelah." balas Theo "Sebelummya Ibu ku bilang ingin mengantarkan mobilku kesini. Boleh?" tanya Gwen meminta izin. Dia menatap Theo dengan kedua mata berbinar, "Itu mobil pertama ku yang aku beli dengan gaji ku sendiri. Mobil kesayanganku." lanjutnya setengah memohon "Tapi disini ada supir yang siap mengantar mu kemana pun, Gwen. Aku khawatir jika kau pergi menyetir sendiri." sahut Theo "Aku tidak akan memakainya tanpa izinmu. Aku hanya ingin menyimpan nya disini. Hanya itu." Theo terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk, "Baiklah. Tapi janji padaku, kau harus meminta izin dulu padaku jika ingin berkendara sendiri." "Ayeay, capt." *** Gwen menatap lurus mobil yang baru saja memasuki halaman rumah Tneodoric dengan seulas senyuman lebar. "Waah, itu mobil Nyonya?" tanya seorang pelayan yang berada tak jauh dari Gwen Gwen menoleh dan tersenyum, dia menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan pelayan itu kepadanya. "Itu mobil yang aku beli dengan gaji ku sendiri saat menjadi model." sahut Gwen "Wah, keren!" takjub pelayan tadi Seorang pria berjalan keluar dari mobil miliknya. Pria itu menyodorkan kunci mobil kepada Gwen bersama dengan sebuah berkas. "Halo Nyonya, ini mobil yang dikirimkan orang tua anda. Tolong tanda tangan disini sebagai tanda jika Nyonya sudah menerima mobilnya." ujar pria itu Gwen segera menandatangani berkas yang disodorkan pria itu. Setelahnya, dia mengalihkan perhatian nya kepada mobil yang sudah lama tidak dia lihat itu. "Kalau begitu saya pergi dulu, Nyonya." pamit pria yang mengantarkan mobilnya tadi. Gwen hanya menjawab pria itu dengan anggukan kecil. Dia masih sibuk memperhatikan mobil miliknya dan memastikan benda itu masih mulus tanpa ada goresan sedikit pun. "Apa Nyonya akan jalan-jalan dengan mobil ini?" tanya pelayan tadi "Tidak juga. Theodoric melarangku untuk pergi sendirian. Mungkin aku hanya diperbolehkan memakainya saat dalam keadaan darurat." jawab Gwen Setelah puas melihat mobilnya, Gwen kembali melangkah memasuki rumah. Dia bersenandung kecil tanpa menghilangkan senyumannya. Pagi ini mood nya benar-benar sangat baik. Dimulai dari perhatian yang ditunjukan Theodoric padanya, pancake buatan nya yang dimakan habis oleh semua anak Theodoric, hingga tatapan yang diberikan Grace padanya. Walau bukan tatapan yang hangat, setidaknya itu bukan jenis tatapan tak suka seperti milik Ruby. Gwen kemudian kembali melangkahkan kakinya ke ruang keluarga. Ruangan yang terasa dingin itu tidak membuatnya gentar sama sekali. Gwen malah berjalan menuju sebuah lemari kayu antik yang berada tepat di dekat jendela. Dia menatap beberapa album foto yang ada disana. "Tidak ada debu sama sekali. Apa di dalam ruangan ini, hanya lemari ini yang pernah disentuh oleh penghuni rumah?" tanya Gwen pada Donna yang menemaninya masuk ke dalam ruang keluarga Donna menggelengkan kepalanya, "Selain tidak ada yang memasuki nya, ruangan ini juga tidak pernah disentuh oleh siapapun selain para pelayan. Tidak ada debu karena dibersihkan dengan baik oleh para pelayan." jelasnya Gwen mengangguk mengerti. Dia merendahkan tubuhnya dan menyentuh satu persatu album foto yang bertuliskan masing-masing nama anak Theodoric. Tangannya kemudian berhenti disebuah album yang betuliskan 'Family'. Pertanda jika benda itu berisi semua kenangan dari seluruh anggota keluarga. Gwen melirik Donna, "Apa aku boleh melihatnya?" tanya nya "Tentu saja, Nyonya. Anda juga bagian dari keluarga ini." Sambil tersenyum sumringah, Gwen meraih album foto itu. Dia membawa benda itu ke sofa dan membuka halaman pertama album tersebut. Halaman pertama berisi tentang kesan dan harapan Theodoric terhadap keluarga nya. Terlihat semua tulisan itu ditulis oleh tangan Theodoric sendiri. Setelah membaca nya, Gwen tersenyum dan meyakini jika Theodoric adalah sosok Ayah yang baik. Halaman kedua terlihat kosong tanpa ada tulisan apapun seperti halaman sebelumnya. Lalu halaman ketiga dan seterusnya berisi foto Theodoric dan ketiga anaknya yang masih sangat kecil. Senyuman sama sekali tidak menghilang dari bibir Gwen. Entah kenapa dia seperti melihat kilas balik waktu saat Grace, Lukas dan Ruby baru lahir sampai berusia 5 tahun. Hingga kemudian, Gwen menyadari sesuatu. Di semua halaman yang dia lihat, dari pilihan foto yang dia lihat, tidak ada satupun foto yang menggambarkan sosok Ibu dari anak-anak atau istri dari Theodoric. Semua halaman yang ada hanya diisi oleh foto Theodoric dan anak anaknya. Karena dirinya penasaran, Gwen bergerak meraih album ketiga anak Theodoric. Dia membuka dan melihat dengan seksama setiap halaman yang ada di dalamnya. Tetapi nihil. Gwen kemudian menatap semua foto yang ada diatas perapian. Disana hanya ada foto Grace, Lukas dan Ruby dalam masing-masing frame. Dahi Gwen berkerut samar. Seandainya istri Theodoric meninggal, sudah tentu akan ada satu atau dua foto yang ditinggalkan untuk mengenang nya, kan? Namun menyadari jika Donna tengah memperhatikan nya, Gwen segera mengubah raut bingung nya. Dia mengulas senyuman tipis dan kembali menyimpan semua album foto itu ke dalam lemari kayu. "Isi album itu manis sekali. Aku tidak tahan untuk tidak tersenyum." ujar Gwen. Dia terdiam sejenak, "Apa anak anak tahu keberadaan album itu? Bagaimana reaksi mereka saat membuka nya?" lanjutnya Donna menggelengkan kepalanya, "Karena tidak ada yang memasuki ruangan ini, maka keberadaan semua album foto itu tidak diketahui oleh siapapun selain para pelayan dan Tuan Theo itu sendiri." Kedua alis Gwen terangkat tinggi. Dia mengerjapkan matanya pelan dan melirik lemari tempat semua album itu berada. "Sayang sekali." gumamnya "Apa Theo tidak berminat memindahkan semua album itu ditempat yang mudah terlihat?" tanya nya lagi Donna menggeleng, "Saya juga tidak mengetahui hal itu." Gwen hanya bergumam kecil untuk menyahuti ucapan Donna. Dia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruang keluarga bersama dengan Donna. Sesaat sebelum pintu ruangan itu ditutup, Gwen menatap lemari kayu tersebut untuk yang terakhir kalinya. Dalam hati dia berjanji untuk menghidupkan suasana ruang keluarga menjadi hangat. *** Gwen menatap cuaca siang hari yang panas melalui jendela. Sesekali tangannya akan menusuk buah-buahan yang ada diatas piring dengan garpu sebelum melahapnya. Dia bosan. Banyak hal yang bisa dia lihat di rumah Theodoric. Tapi disaat yang sama, tidak banyak hal yang bisa dilakukan olehnya karena sungkan. Gwen kemudian mengingat sebuah piano yang ada di lantai tiga. Setelah makan, dia berjanji akan memainkan benda itu untuk mengusir rasa bosan nya. Atensi Gwen kemudian teralihkan saat mendengar suara deringan telfon yang menggema seantero rumah. Dia memiringkan kepalanya, menatap lurus ruang tamu yang hanya terhalangi oleh tangga. Dia melihat seorang pelayan berlari menghampiri telfon itu. Kemudian, tanpa sadar tatapan mereka bertemu. Gwen menyunggingkam cengiran nya dan berlari kecil menuju telfon tadi. "Siapa?" tanya Gwen "Saya tidak tahu. Biasanya jika telfonnya masuk ke telfon rumah, mungkin itu berasal dari sekolah para Tuan dan Nona." "Boleh aku yang mengangkatnya?" tanya Gwen "Tentu, Nyonya." jawab pelayan itu Gwen segera meraih gagang telfon nya, dia berdeham sebelum mendekatkan benda itu ke telinga nya. "Halo?" sapa Gwen "Ah, selamat siang. Apa ini kediaman keluarga Blake?" "Benar. Ada perlu apa?" balas Gwen "Saya seorang guru dari Ravent International High School. Sepertinya, ada sedikit masalah disini. Ruby jatuh pingsan saat belajar dan darah keluar dari hidung nya. Suhu tubuhnya panas, mungkin dia demam." Gwen tertegun sesaat setelah mendengar orang yang menghubunginya mengatakan tentang Ruby. "Aku akan menjemputnya pulang." tukas Gwen "Baiklah. Akan saya tunggu di sekolah." Setelah mengucapkan terima kasih, Gwen segera berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Dia mengubah pakaian rumahan nya dengan pakaian semi formal. Setelah memastikan jika dandanan nya tidak berlebihan, Gwen kembali berlari ke lantai 1. "Nyonya? Apa yang terjadi?" tanya Donna "Ruby pingsan di sekolah. Sepertinya dia sakit. Aku akan menjemputnya." jelas Gwen dengan tergesa "Apa?! Ah, biarkan salah satu dari kami yang melakukannya. Nyonya diam saja di rumah." ujar Donna yang cemas karena melihat Gwen yang terlihat panik "Tidak bisa. Aku cemas sekali. Aku harus memastikan keadaan nya langsung. Aku tidak akan menyetir sendiri. Aku akan pergi dengan supir." tolak Gwen. Dia berpamitan pada Donna dan beberapa pelayan yang juga turut berada disana sebelum akhirnya berlari kecil keluar rumah. Dari dalam rumah, para pelayan bisa melihat Nyonya baru mereka menghampiri supir dan masuk ke dalam mobil untuk pergi ke sekolah. "Nyonya Gwen sepertinya memang orang baik. Kita bisa tenang karena sepertinya Tuhan mengirim seorang Malaikat untuk melindungi keluarga ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN