Chapter 12: Ruby

1684 Kata
Gwen menghela nafasnya, dia menatap jalanan di depannya. Walau jalanan kosong tanpa kemacetan yang berarti, entah kenapa dia merasa jika waktu jarak sekolah Ruby sangatlah jauh. Jujur saja, dirinya cemas akan kesehatan Ruby. Walau mulut anak itu sedikit menyebalkan, tapi Gwen tahu jika Ruby adalah anak yang baik. Ruby sepertinya hanya terkejut dengan keberadaan dirinya. Setelah menghabiskan beberapa waktu hanya dengan meneliti jalanan di depannya, Gwen akhirnya sampai disebuah sekolah berukuran besar bertuliskan Ravent International High School. Wanita itu melangkah turun dari mobil, dia berjalan memasuki gerbang sekolah setelah sebelumnya menyimpan sebuah kartu identitas di pos keamanan. Sesekali Gwen akan menanyakan letak UKS kepada beberapa siswa yang ada disana sebelum akhirnya berlari kecil. "Nyonya, pelan-pelan. Ingat jika Nyonya sedang hamil." ucap supir yang menemani Gwen menjemput Ruby "Maaf. Aku hanya panik." sahut Gwen sambil tersenyum tipis Sesaat kemudian, dia menemukan sebuah ruang perawatan tujuannya. Dia melihat ada dua petugas UKS dan seorang guru yang berjaga di luar ruangan. Dengan seulas senyuman tipis, Gwen menyapa keduanya. "Halo, selamat siang." "Ah, selamat siang!" "Aku... wali dari Ruby Madeline Blake. Sebelumnya aku menerima kabar jika Ruby pingsan dan hidung nya berdarah." jelas Gwen Salah satu dari petugas UKS itu berseru pelan. Dia segera bangkit dan mengajak Gwen untuk masuk ke dalam ruang perawatan. Di dalam, Gwen melihat Ruby terbaring diatas ranjang pasien dengan wajah pucat pasi. Dia berjalan menghampiri anak itu dan menyentuh dahi Ruby. "Benar-benar panas." gumam Gwen "Ruby kehilangan kesadaran saat belajar. Hidung nya juga cukup banyak tadi. Kami baru bisa menidurkannya setelah darah nya berhenti." jelas petugas UKS itu "Ah, terima kasih atas bantuannya. Aku akan membawa Ruby pulang." sahut Gwen dengan seulas senyuman tipis. Dia merapikan anak rambut Ruby yang terjatuh diatas dahi nya yang basah sebelum mencoba mengubah posisi tidur Ruby menjadi duduk. "Eh... apa ini?" Gwen menoleh saat mendengar Ruby bergumam pelan. Anak itu menyadari keberadaan nya dan memberikan tatapan tajam kepada Gwen. "Aku tidak mau pulang." tukas Ruby "Ruby, kau sedang sakit. Jika belajar pun, kau akan tetap kesulitan mencerna pelajaran. Ayo pulang. Setelah kau sembuh, baru kau boleh kembali ke sekolah." bujuk Gwen lembut. Dia meraih bahu Ruby, "Pulang ya? Kau sangat pucat dan suhu tubuh mu sangat tinggi. Kau demam parah." "Jangan pura-pura peduli padaku! Kau senang aku sakit, kan?!" seru Ruby Gwen menghela nafasnya, dia tersenyum dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien. "Ruby, kau sedang sakit. Dan aku cemas padamu. Kau juga anakku. Tidak mungkin aku tidak mencemaskan keadaanmu yang seperti ini." ucap Gwen pelan. Dia terdiam sejenak, "Ruby, apa kau membenciku?" "Iya." "Nah, kalau kau sakit kau tidak akan bisa membenciku. Energimu terkuras habis karena tengah sakit. Supaya bisa tetap membenciku, kau harus sembuh. Dan supaya sembuh, kau harus pulang dan mendapatkan perawatan." jelas Gwen "Pulang, ya? Kau bisa memarahiku atau membenciku setelah sembuh nanti." lanjutnya Ruby menatap Gwen dengan tatapan tajam, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Entah apa yang dipikirkan anak itu. Tapi karena perlahan Ruby mau beranjak turun dari ranjang pasien, Gwen tidak terlalu memikirkannya. Dia bersyukur hanya karena Ruby mau mendengarkan bujukannya. Gwen kemudian dengan cepat meraih lengan Ruby saat anak itu hampir jatuh tersungkur. Sepertinya kaki anak itu terlampau lemas hingga tidak bisa menompang tubuhnya sendiri dengan benar. "Lepas!" lirih Ruby Gwen menggelengkan kepalanya, "Nanti kau jatuh." Wanita itu kemudian mengalihkan atensi nya kepada penjaga UKS yang terlihat bingung dengan apa yang terjadi di depannya. "Terima kasih sudah menjaga Ruby." ucapnya tulus "Ah, oh... iya. Itu sudah kewajiban kami." sahut petugas tersebut Gwen tersenyum dan mengangguk kecil untuk berpamitan kepada penjaga UKS tersebut. Tak lupa dia juga melakukan hal yang sama terhadap seorang penjaga dan seorang guru yang ada di luar UKS. Gwen melangkah pelan sambil memapah Ruby. Dia berjalan melintasi sisi lapangan yang tengah dipakai para siswa laki-laki bermain bola basket. "Ruby, kalau kau sakit sejak pagi, kenapa kau tidak mengatakannya? Kau tidak perlu sekolah jika sakit." tanya Gwen pelan. Dia menipiskan bibir nya saat Ruby tidak menjawab pertanyaan nya. Anak itu memejamkan kedua matanya sambil sesekali melangkahkan kakinya mengimbangi langkah pelan Gwen. Apa Gwen merasa diacuhkan? Tidak juga. Mungkin itu salah dirinya juga karena bertanya kepada seseorang yang sedang sakit. Setelah berjalan beberapa meter, Gwen akhirnya menghentikan langkahnya di depan gerbang sekolahan. "Pak, tolong bawa mobilnya kesini. Aku dan Ruby akan menunggu disini." pinta Gwen kepada supir yang menatapnya dengan tatapan kasihan "Nyonya yakin? Ingat, Nyonya sedang hamil." sahut supir tersebut ragu-ragu "Aku kan, hanya berdiri. Tidak melakukan apapun." balas Gwen santai. Dia mengulas senyuman lebar untuk meyakinkan supir tersebut untuk melakukan apa yang diminta nya, "Pergilah. Ambil mobil dan segera kembali." Supir itu mengangguk dan berlari cepat menuju sebuah mobil berwarna hitam mengkilat yang berada di ujung lahan parkir. Sementara Gwen menunggu di depan gerbang sambil menyangga tubuh Ruby yang lemas. Beberapa saat kemudian, mobil tiba di hadapan Gwen. Wanita itu dengan cepat namun berhati-hati, memasukan Ruby ke dalam mobil dan menyusul memasuki mobil dari pintu lain. Mobil itupun beranjak pergi meninggalkan sekolah bersama dengan Ruby dan Gwen di dalam nya. Tanpa disadari oleh Gwen, empat pasang mata memperhatikan dirinya dan Ruby dari tempat yang berbeda. *** Gwen melirik cemas Ruby yang terlihat gelisah dalam tidurnya. Keringat semakin membasahi dahi anak itu, pun dengan demam yang dirasa tidak berkurang sama sekali panas nya. Kedua tangan Gwen terangkat, dia meraih dan membuat Ruby bersandar kepadanya. Dengan lembut, dirinya menepuk-nepuk bahu dan mengusap dahi basah Ruby dengan tangannya sendiri. "Apa Theodoric punya dokter pribadi?" tanya Gwen pada supir yang fokus memperhatikan jalanan "Ada, Nyonya." Mendengar itu, Gwen segera meraih ponselnya dan menghubungi telfon rumah. Dia meminta pelayan untuk menghubungi dokter pribadi keluarga Blake agar Ruby bisa langsung mendapatkan pemeriksaan. Setelah menelfon, Gwen mencoba menenangkan dirinya. Ini kali pertama nya mengurus orang yang sakit. Jujur saja, dulu imun tubuhnya terhitung bagus. Gwen jarang merasa sakit atau demam seperti Ruby sekarang. Jika demam pun, biasanya tidak akan lama. Bahkan tidak bertahan setengah hari. Tetapi entah kenapa Gwen merasa jika suhu tubuh Ruby semakin panas. Wanita itu menghela nafas dan kembali mengusap rambut panjang Ruby. "Jangan sakit lagi, Ruby. Aku lebih suka melihatmu yang menatapku dengan tajam dibandingkan keadaan mu yang sekarang." bisik Gwen Saat Gwen tengah termenung memikirkan hal yang harus dilakukannya untuk merawat Ruby, sesuatu yang panas dan menetes di bahu nya membuat Gwen tersentak kecil. Dia melirik Ruby, kedua matanya melebar saat melihat darah kembali menetes dari hidung anak itu. Dengan cepat Gwen meraih tissue yang terletak di samping nya. Dia mengusapkan tissue tersebut di bawah hidung Ruby untuk mengusap darah yang menetes. Seolah terusik dengan apa yang dilakukan oleh Gwen, Ruby membuka kedua matanya. Dia terdiam saat melihat ekspresi cemas yang ditunjukan oleh istri baru Ayah nya itu. "Kau mimisan lagi. Biarkan seperti ini. Jangan dongkakkan kepalamu. Nanti darahnya berbalik mengalir ke kepala." ujar Gwen pelan Untuk kali ini, Ruby menurut. Dia menurunkan arah tatapannya dan menemukan jika darahnya menetes cukup banyak dipakaian wanita yang berwarna putih tersebut. 'Pasti akan susah dihilangkan, kan?' batin Ruby Dia merebut tissue yang dipegang oleh Gwen dan menahan darah yang menetes dengan tangannya sendiri. Sementara dari tempatnya duduk, Gwen menatap teduh Ruby. "Ruby, kau mimisan seperti ini terus karena demam mu terlalu tinggi. Kembali lah tidur. Biar aku yang memegang tissue nya." tukas Gwen "Darah nya menetes kemana-mana." gumam Ruby "Tak apa. Bukan salahmu juga. Kau tidur saja, Ruby. Aku akan membangunkan mu saat di rumah nanti." *** Sesampainya di rumah, Gwen sudah disambut dengan beberapa pelayan dan dokter yang ada di ruang tamu. Dibantu oleh para pelayan, dia memapah Ruby dan mengantarkan anak itu ke dalam kamar nya. Untuk yang pertama kalinya, Gwen memasuki kamar Ruby yang bernuansa merah muda itu. Namun hasrat ingin meneliti dan melihat isi kamar itu menguap seketika karen mengingat jika sang pemilik kamar saat ini tengah terbaring lemas. Walau saat ini Ruby tengah diperiksa oleh seorang Dokter, tapi Gwen tetap tidak bisa menghilangkan rasa cemas nya. Rasanya kekhawatiran nya kian memuncak karena Ruby juga sempat kehilangan kesadaran saat di mobil tadi. "Nona Ruby hanya kelelahan. Dan juga... tertekan. Apa akhir-akhir ini ada sesuatu yang membuatnya stress? Rasanya tidak bagus juga jika seorang anak merasa tertekan di usia dini." ujar Dokter pada Gwen yang berdiri dibelakang nya Mendengar itu, Gwen tertegun. Jujur saja, dia tidak mengetahui apapun tentang pemicu stress yang dialami oleh Ruby. "Ah maaf. Aku tidak tahu dengan pasti alasannya." gumam Gwen. Dia mengulas senyumam tipis, "Tapi aku akan merawatnya dengan baik." Dokter itu tersenyum dan menuliskan sesuatu diatas kertas, "Ini resep obat untuk Nona Ruby. Tolong pastikan Nona Ruby makan dan beristirahat dengan baik." Gwen menganggukkan kepalanya, "Terima kasih, Dokter." Setelah dirasa jika pemeriksaan nya sudah selesai, Gwen mengantarkan dokter tersebut keluar dari kamar Ruby. Dia kembali menggumamkan terima kasih atas jasa Dokter tersebut sebelum kemudian perhatiannya teralihkan saat mendengar racauan kecil Ruby dari dalam kamar. Dia dan Dokter tersebut saling bertukar tatap sebelum akhirnya sang Dokter tersenyum maklum. "Nyonya Gwen tak perlu mengantar saya. Sepertinya Nona Ruby membutuhkan teman." ucapnya "Maaf ya Dokter." Gwen menatap kepergian Dokter tersebut dari pintu kamar Ruby. Dia menghela nafas untuk yang terakhir kalinya sebelum kembali melangkah memasuki kamar Ruby. Gwen mendudukkan dirinya di atas lantai, tepat di samping Ruby yang tertidur di satu sudut ranjang. Dia menyentuh dahi Ruby yang tengah dikompres dan mengganti kompresan tersebut dengan yang baru. Hal itu dia lakukan setiap 20 menit. "Papa..." Kedua alis Gwen terangkat tinggi, dia tersenyum dan menatap Ruby dengan tatapan sendu. "Papa... jangan pergi..." Tak lama kemudian, racauan Ruby berubah menjadi isak tangis. Anak itu menangis dalam tidurnya. Satu tangan Gwen terangkat dan mengusap air mata perempuan itu. "Ruby, Papa mu tidak akan pergi kemana pun. Dia akan tetap menjadi Papa mu walau kini aku ada di samping nya. Keberadaanku sama sekali tidak mengubah apapun." Gwen menyandarkan kepalanya diatas tempat tidur, dia kembali tersenyum kecil dan mengusap rambut panjang Ruby dengan penuh kasih sayang. Sesaat setelah tangisan Ruby mereda, Gwen segera bangkit dari duduknya. Dia meraih ponselnya yang ada diatas meja dan beranjak menuju jendela yang ada di dalam kamar Ruby. Dia akan menghubungi seseorang dan tidak ingin mengganggu Ruby yang baru saja tidur dengan nyenyak. "Halo? Theo, apa kau bisa pulang sekarang? Ruby..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN