Gwen tersentak kecil dan melihat Theo yang melangkah masuk ke dalam rumah dengan tergesa. Dasi pria itu sudah terlihat cukup berantakan, begitupun dengan jas yang sudah tidak dipakai rapi seperti sebelum berangkat bekerja.
"Bagaimana keadaan nya?" tanya Theodoric
Gwen menipiskan bibirnya dan menyerahkan gelas yang ada di gemggaman nya kepada Theo.
"Minum dulu." balasnya
Theo meraih dan meneguk air yang disodorkan oleh Gwen. Sesekali matanya menatap sudut kamar Ruby dengan cemas.
"Ruby masih istirahat. Demam nya sempat turun, tapi kembali naik lagi. Tapi setidaknya dia tidak mimisan seperti sebelumnya." jawab Gwen. Dia tersenyum dan menepuk pelan bahu Theo yang terlihat tegang, "Tenang ya? Ruby pasti akan segera sembuh."
Gwen kembali meraih gelas yang ada di genggaman Theodoric sebelum akhirnya meraih tangan pria itu dan mengajaknya ke kamar Ruby.
"Aku... aku tidak mau masuk." gumam Theo
"Kenapa?"
Theo hanya terdiam dan menatap pintu yang membatasinya dengan kamar Ruby.
"Aku takut Ruby membenci keberadaanku." ujar Theo
"Tidak ada yang membencimu." sangkal Gwen. Dia tersenyum dan mulai menyentuh gagang pintu kamar Ruby, "Aku buka ya?"
Namun tangan pria itu terangkat dan menahan pergerakan Gwen, "Tidak. Kau saja yang masuk. Ruby tidak akan suka melihat keberadaanku."
Gwen terdiam menatap Theo yang terlihat menampilkan ekspresi rumit di wajahnya.
"Theo, kau pasti bercanda." ucap Gwen. Dia menghiraukan tatapan memperingati yang Theo berikan padanya dan langsung membuka pintu kamar Ruby dengan sekali percobaan.
Keduanya sontak menatap Ruby yang masih terbaring diatas tempat tidur dengan kedua mata terpejam.
"Masih tidur. Ayo masuk, Theo." ajak Gwen. Dia melangkah masuk terlebih dahulu sebelum akhirnya menarik Theo untuk mengikuti langkahnya.
Gwen melirik Theodoric yang terlihat canggung saat memasuki kamar Ruby.
Keduanya berhenti tepat di samping tempat tidur Ruby.
"Katanya... Ruby kelelahan dan tertekan belakangan ini." gumam Gwen
"Tertekan? Bagaimana bisa?!" seru Theodoric dengan suara tertahan
Gwen terdiam sejenak, "Aku juga tidak yakin."
"Tapi Theo... apa menurutmu Ruby tertekan karena keberadaanku?" lanjutnya ragu
Theodoric terdiam menatap Gwen, "Mana mungkin..." balasnya
"Tapi entah kenapa aku yakin jika itu benar." sahut Gwen
Perempuan itu menghela nafasnya, dia menarik Theo untuk berjalan menuju sudut lain kamar Ruby.
"Ayo kita pikirkan baik-baik, Theodoric. Ruby mungkin saja terkejut dan juga tidak siap dengan kehadiranku. Keberadaanku mungkim membuatnya tertekan." jelas Gwen
"Kau berfikir terlalu jauh, Gwen."
"Tapi bagaimana jika itu benar?" sela Gwen sambil memotong ucapan Theodoric. Dia mendongkak dan menatap Theodoric dengan seulas senyuman tipis, "Jika itu benar, aku tidak keberatan untuk pergi menjauh sementara dari rumah ini."
"Jangan gila, Gwen. Kau sedang hamil. Aku tidak bisa melepaskan mu pergi begitu saja. Aku tidak tenang jika tidak melihatmu."
Theo tersentak kecil setelah menyadari jika ucapannya terdengar sedikit aneh di telinga nya. Namun pria itu menggelengkan kepalanya untuk menepis pemikiran aneh tersebut dan menatap Gwen dengan tatapan tegas.
"Tidak. Aku tidak bisa melepaskan mu jauh dari pengawasanku." tolak Theo
"Hanya sebentar, Theo. Setidaknya sampai Ruby sembuh."
"Tapi ini baru dugaanmu, Gwen. Rasanya aneh karena kau mengambil langkah sebesar ini hanya karena dugaan mu itu." elak Theo
'Dugaan ku bukan tanpa dasar, Theo. Ruby selalu meracau dalam tidurnya dan mengatakan jika aku dan bayi ini akan merebutmu darinya. Dia takut kehilanganmu.' batin Gwen
Dia menghela nafasnya dalam diam. Tak mungkin dia menyuarakan hal itu kepada Theodoric. Dia tidak mau terkesan menyudutkan Ruby.
Gwen melihat Theodoric kembali menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku tidak mau mengabulkan permintaanmu yang satu itu."
Suara Theo yang kelewat keras, membuat Ruby melenguh pelan dalam tidurnya. Anak itu kembali meracau dan memanggil Theodoric.
Mendengar hal itu, Theodoric langsung berjalan cepat hendak keluar dari kamar Ruby. Namun langkahnya terhenti saat tangannya di cekal oleh Gwen.
"Mau kemana?" tanya Gwen
"Keluar. Takut Ruby terbangun." jawan Theodoric
Gwen memicingkan matanya dan menatap Theodoric dengan sebal, "Jika dipanggil seperti itu, seharusnya kau menghampiri nya, Theo. Bukan menghindarinya." ucapnya kesal
"Ruby membutuhkan mu." lanjut Gwen
Theo mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar sesaat setelah mendengar Ruby meracaukan dirinya. Pria itu menghembuskan nafasnya dan berjalan mendekati sisi ranjang. Dia menatap Gwen yang duduk tepat di samping nya.
"Ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Gwen
"Sebelumnya Ruby belum pernah sakit... aku jadi bingung harus bagaimana." lirih Theodoric. Pria itu mengusap wajahnya dan mendesah kecil, "Saat diimunisasi, Ruby saat bayi juga tidak demam setinggi ini."
Gwen melirik Ruby, tangannya kembali terangkat untuk mengusap dahi basah anak itu dengan hati-hati. Tangannya yang lain bergerak meraih tangan Theodoric. Dia membuat pria itu menggenggam tangan Ruby.
"Aku tahu kau sangat menyayangi Ruby. Begitu juga Ruby, Theo. Dia sangat menyayangimu." ucap Gwen
"Tidak. Aku yakin semua anak-anakku membenciku." sangkal Theo
"Eum... walau mereka membencimu, kau tetap menyayangi mereka, kan? Theo, aku tahu bagaimana besarnya rasa sayang mu kepada anak-anak."
"Aku tidak mengerti apa yang membuatmu mengira jika anak-anak membencimu." gumam Gwen
"Mereka menatapku dengan datar. Dan tidak mengatakan apapun kepadaku walau aku ada di hadapan mereka."
"Kau juga melakukan hal yang sama, kan? Kau juga tidak banyak berekspresi dan tidak banyak berbicara dengan mereka. Aku memperhatikan hal itu kemarin dari dapur." tuding Gwen. Dia mengusap pelan punggung tangan Theodoric yang menggenggam tangan Ruby, "Walau bersikap seperti itu, bukan berarti kau membenci mereka, kan? Aku yakin mereka juga seperti itu." sambungnya
"Kau ingat waktu aku memperkenalkanmu pada anak-anak?" tanya Theodoric yang dibalas dengan anggukan oleh Gwen. "Mereka sama sekali tidak menjawab ucapanku." tukas pria itu
"Karena mereka canggung, Theodoric. Aku tidak tahu sudah berapa lama kau berpisah atau ditinggalkan mantan istrimu. Tapi sepertinya, selama itu kau menghabiskan waktumu sendirian. Tidak menjalin hubungan yang baru dengan perempuan manapun." cetus Gwen. Perempuan itu menipiskan bibir nya, "Lalu tiba-tiba kau memperkenalkanku sebagai Ibu baru mereka. Jangankan mereka yang terkejut dengan kehadiranku. Jujur saja, aku juga terkejut karena keberadaan mereka. Disaat tengah terkejut seperti itu, mana mungkin mereka bisa mengatakan sesuatu? Saking terkejutnya mereka pasti tidak bisa berkata apapun, Theodoric."
***
Sore harinya, Gwen kembali memasuki kamar Ruby dengan nampan berisi bubur dan obat-obatan yang harus diminum oleh anak itu. Dia mengulas senyuman tipisnya saat melihat Ruby tengah termenung dan bersandar pada dipan.
"Sudah lebih baik?" tanya Gwen
Tidak dijawab, tentu saja. Gwen juga tidak mengharapkan pertanyaan nya dijawab.
Hanya saja, dia akan bersyukur jika Ruby mau membalas pertanyaannya.
Gwen kemudian duduk di samping ranjang Ruby. Dia menaruh punggung tangannya di dahi Ruby dan kembali tersenyum saat merasakan suhu tubuh perempuan itu sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
"Makan ya? Setelah itu minum obat nya. Supaya Ruby bisa cepat sembuh." ucap Gwen. Dia bergerak menyendokan bubur dan menyodorkannya kepada Ruby. Wanita itu menaikan satu alisnya saat Ruby tidak kunjung membuka mulutnya.
"Apa kau takut aku meracuni bubur ini?" tanya Gwen. Dia meraih sendok cadangan dan menyendokkan bubur yang ada diatas nampan sebelum akhirnya memasukan bubur itu ke dalam mulutnya.
"Aman. Tidak ada racun sama sekali. Kalau pun ada racun... aku pasti akan mati terlebih dahulu." lanjut Gwen
Ruby tak juga membuka mulutnya.
Gwen menghembuskan nafasnya dan menyimpan sendok milik Ruby kembali ke dalam mangkuk bubur. Dia menatap lembut Ruby yang terlihat pucat.
Tidak. Dia tidak marah ataupun tersinggung.
Gwen tahu mulut tajam dan sikap menyebalkan yang Ruby tunjukan padanya hanya karena anak itu tengah merajuk. Ruby hanya takut kehadiran Gwen dan bayi yang sekarang ada di perut nya akan merebut semua perhatian Theodoric.
Disaat Ruby sendiri juga kekurangan perhatian dari sosok Ayah nya itu.
Ruby hanya seorang anak yang tengah merajuk. Bukan anak yang menyebalkan ataupun anak yang memiliki kebencian padanya.
"Maaf, Ruby..." ucap Gwen lirih
"Aku tidak tahu jika kehadiranku akan membuatmu tertekan seperti ini. Jika kau memang tidak menyukaiku... aku akan pergi dari rumah ini. Aku akan meminta Theodoric untuk mengizinkan ku tinggal jauh dari sini. Asal kau sembuh dan tidak sakit lagi seperti sekarang."
"Ruby... kau mungkin tidak tahu. Tapi Theodoric terluka dengan keadaan mu yang seperti ini. Jadi, daripada kehadirkanku melukai dua orang sekaligus, lebih baik aku pergi."