Chapter 14: Permainan dan kehangatan Gwen

2114 Kata
Gwen menatap tangan putih yang terjulur ke arah nya. "Oh! Kartu identitasku!" seru nya saat melihat tangan itu menyodorkan sebuah kartu yang bertuliskan nama nya. Gwen menoleh dan mendapati jika yang menyodorkan benda itu adalah Grace, anak pertama Theodoric. "Terima kasih ya. Baru saja besok aku berniat kembali ke sekolah untuk mengambil ini." ucap Gwen Grace mengangguk kecil dan berjalan menaiki tangga. Sesekali dia menatap punggung Gwen yang tengah membuat sebuah sup cream di dapur dengan tatapan yang sulit di artikan. "Kau melihat apa?" tanya Lukas saat Grace hampir saja tersandung anak tangga Grace melirik Lukas dan mengendikan dagu nya kepada Gwen. Lalu tanpa berkata apapun lagi, perempuan itu melanjutkan langkah nya menaiki tangga. Saat melewati kamar Ruby yang pintu nya terbuka lebar, perempuan itu melihat sesuatu yang membuatnya tertegun. Dia melihat sang Ayah yang biasanya sangat sibuk ada di dalam kamar Ruby. Pria itu tengah mengusap dahi Ruby yang basah oleh keringat. Saat tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Theodoric, Grace segera mengalihkan tatapannya ke arah lain dan melanjutkan langkah menuju kamar nya sendiri. Sesaat setelah dirinya memasuki kamar, Grace langsung melepaskan jas almamater sekolah nya dan berjalan menuju meja rias. Dia menatap pantulan diri nya sendiri dan termenung. Ada begitu banyak hal baru disekitar nya. Sosok perempuan yang di bawa Ayah nya dan tiba-tiba diperkenalkan sebagai anggota keluarga baru mereka, apa yang dilihatnya semalam, ekspresi yang ditunjukkan oleh Gwen saat menjemput Ruby siang tadi pun hinggap di ingatan Grace. Dan yang terakhir, sosok Ayah nya yang hadir di kamar Ruby. Jujur saja, Grace terlalu bingung bagaimana cara menanggapi semua hal yang terjadi di sekeliling nya. "Mama, Papa." ucap Grace sambil menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin. Dia tersenyum canggung sesaat setelah mengatakan hal itu. "Mulut ku sudah sangat lama tidak pernah mengucapkan kata semacam itu. Apa di masa depan aku bisa mengucapkan nya tanpa merasa canggung?" Grace kemudian menunduk dan menatap jari-jari nya yang berwarna hijau kebiruan. Dia menghela nafasnya saat merasakan semua jari nya terasa kaku saat di gerakan dan kemudian mengganti seragam sekolah nya dengan pakaian rumahan. Setelahnya, Grace melirik tumpukan buku yang ada di meja belajar nya. Sejujurnya dia sudah jenuh dengan semua hal itu. Dia membahas berbagai materi di sekolah dan ditempatnya les. Grace tidak mau menyentuh semua buku nya untuk hari ini. Tetapi dia kembali tertampar fakta dengan tidak ada hal lain yang bisa dia kerjakan selain belajar dan mengurung diri di kamar hingga waktunya makan malam tiba. *** Gwen menghela nafasnya sesaat setelah menuangkan cream soup yang dibuatnya ke mangkuk kecil untuk makan malam Ruby. Perhatiannya keluar dari dapur dan menemukan Theodoric tengah menunggu nya di meja makan. "Eh? Tidak menjaga Ruby?" tanya Gwen sambil melirik kamar Ruby yang terlihat dari posisi nya itu Theodoric menggelengkan kepalanya, "Tidak. Ruby sedang tidur pulas setelah kau menyuapinya dan memintanya minum obat." jawabnya. Pria itu kemudian menatap lekat Gwen yang duduk di seberang nya, "apa yang kau katakan kepadanya?" "Katakan apa?" "Apa yang kau janjikan kepada Ruby hingga Ruby mau makan tanpa penolakan sama sekali?" "Rahasia. Itu rahasia antar gadis. Pria sepertimu tidak boleh tahu." sahut Gwen sambil tertawa kecil. Senyumannya kian melebar saat melihat Theodoric menatapnya dengan penuh curiga. "Kau bukan lagi seorang gadis, Gwen. Jadi katakan padaku. Aku harap kau tidak menjanjikan hal bodoh kepada Ruby." tukas Theo "Hal bodoh apa, sih? Tidak ada hal bodoh yang aku lakukan. Sungguh." Hening kemudian. Theodoric sibuk mencari tahu apa yang di janji kan Gwen kepada Ruby. Sementara Gwen sendiri tengah berkutat dengan pikirannya untuk mencari ide agar bisa keluar dari rumah Theodoric untuk sementara. "Theo, aku rindu kedua orang tua ku." ucap Gwen pada akhirnya. Perempuan itu tersenyum kecil kepada Theodoric, "apa aku boleh menginap di rumah kedua orang tua ku?" "Apa ini yang kau janjikan pada Ruby? Menghindari rumah ini?" tandas Theo yang tepat sasaran Dugaan pria itu yang benar adanya, membuat Gwen langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menghindari tatapan Theo yang menghujam nya. "Kenapa sih?" "Hanya dengan cara itu Ruby mau makan." balas Gwen dengan suara mencicit. Dia menatap Theodoric dengan pandangan memohon, "hanya sebentar, Theo. Setidaknya sampai Ruby sembuh. Ruby pasti ingin menghabiskan waktu nya dengan mu. Tanpa diganggu oleh orang asing sepertiku." "Kau bukan orang asing. Kau adalah istriku." tukas Theo "Iya, aku tahu. Tapi bagi Ruby, pernikahan kita terlalu tiba-tiba, Theo. Dia pasti terkejut. Kalau aku pergi, walau hanya sementara, Ruby akan menghabiskan waktunya dengan mu. Kau bisa mengajaknya berbicara pelan-pelan dan memberikan pengertian kepada dirinya." Gwen melebarkan kedua tatapannya, menatap Theodoric dengan tatapan memohon. "Aku pikirkan nanti. Tapi jangan berharap banyak. Aku harus mempertimbangkan keadaanmu juga." ucap Theodoric pada akhirnya Mendengar hal itu, Gwen langsung menyunggingkan senyuman cerah nya, "Terima kasih, Theo." Dalam hatinya, dia berharap keputusan nya saat ini bisa membuat hubungan Theo dan Ruby menjadi lebih dekat. Sudah seharusnya kesalahpahaman yang terjadi selama ini diselesaikan. "Theo, kau bisa tenang. Aku dan bayi ku sama kuat nya." Tepat di lantai dua rumah tersebut, seorang remaja laki-laki menatap kedua orang dewasa yang tengah duduk di meja makan itu dengan tatapan rumit. "Apa sih yang sedang mereka lakukan?" *** Malam harinya, Gwen kembali melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kamar Ruby. Dia kembali melewatkan makan malam bersama Theo dan yang lainnya dengan alasan ingin menjaga Ruby. Wanita itu duduk tempat di samping Ruby yang tertidur dengan pulas. Sesekali tangannya akan terangkat untuk menyeka keringat yang membasahi dari anak itu. "Kau... masuk dan keluar dari kamarku seenaknya..." lirih Ruby saat dia mengerjapkan matanya dan melihat Gwen ada di dekatnya "Maaf ya. Tapi aku benar-benar cemas. Dalam satu hari ini demam mu benar-benar naik turun tanpa henti. Kalau sampai besok masih seperti ini, mungkin kau harus pergi ke lab untuk menjalani pemeriksaan." sahut Gwen. Dia menatap Ruby dengan lekat dan menyunggingkan senyumannya, "tidurlah lagi. Aku tidak akan mengganggu. Aku akan keluar dari kamar ini setelah Theodoric dan yang lainnya selesai makan." "Kasian. Apa mereka tidak menerima keberadaanmu?" ledek Ruby dengan suara seraknya "Bukan atau mungkin saja iya, hahaha. Tapi aku hanya tidak mau Grace dan Lukas merasa tidak nyaman karena kehadiranku." balas Gwen sambil tertawa kecil Ruby melirik Gwen saat mendengar wanita yang menjadi istri Ayah nya itu sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan sarkas dan sindiran nya. "Oh iya. Ruby... kemungkinan besar, Theo akan mengantarkanku ke rumah orang tua ku besok. Katanya, Theo juga akan bekerja dari rumah sambil menjaga dirimu." ujar Gwen. Dia tersenyum tipis saat melihat kedua mata sayu Ruby secara perlahan melebar. "A-apa yang kau lakukan? Ayahku bukan tipe yang seperti itu. Aku tidak butuh siapapun merawatku." Gwen menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa begitu. Orang yang sakit harus dijaga dengan baik. Aku tahu kadang akan ada mimpi buruk yang datang jika demam nya terlalu tinggi. Saat sedang bermimpi buruk seperti itu, kau akan bersyukur saat ada orang yang membangunkan mu dari mimpi itu." Perempuan itu menoleh kecil ke arah pintu kamar Ruby. Samar-samar, dia masih mendengar suara sendok yang beradu dengan piring dari meja makan. Pertanda jika Theodoric dan kedua anaknya masih melangsungkan makan malam mereka. "Ruby, kenapa kau tidak tidur lagi?" Ruby hanya menggelengkan kepalanya. Entah kenapa ada sesuatu yang asing menyusup ke hatinya karena keberadaan Gwen disana. "Apa kau mau mendengarkan piano? Aku bisa memainkan nya. Katanya, suara melodi yang lembut, bisa jadi lagu pengantar tidur yang bagus." "Suara nya tidak akan terdengar sampai sini." sahut Ruby sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Enggan menatap Gwen yang entah kenapa berhasil membuat dirinya kehabisan kata-kata untuk menyerang nya. "Aku bisa membawamu ke lantai 3. Nanti disana kau bisa duduk dan mendengarkan ku main. Kalau kau ketiduran, Theo pasti akan membawamu kembali ke kamar." Theo. Sesuatu tentang Theo, selalu bisa membuat Ruby menatap ke arah nya dengan kedua mata yang berbinar walau terlihat sangat kentara jika Ruby berusaha terlihat tidak tertarik kepada tawaran dari Gwen. Seharian dengan Ruby, membuat Gwen sadar jika Ruby benar-benar merindukan Theo sebagai sosok ayah nya. Karena itu, Gwen juga menawarkan diri untuk menjauh sementara untuk membiarkan Ruby menghabiskan waktunya dengan Theo. Gwen menyodorkan tangannya kepada Ruby, "Ayo. Kau mau?" Perlahan, dengan ragu-ragu Ruby menyingkap selimut nya. Dia meraih tangan Gwen dan mencoba untuk bangkit dari ranjang nya dibantu oleh Gwen. Wanita itu sedikit terkesiap saat merasakan tangan Ruby yang kelewat panas. Dengan sigap, dia melingkarkan tangannya di bahu Ruby dan membantu anak itu keluar dari kamar. Ruby melangkah dengan tertatih. Kepalanya langsung di dera oleh pusing yang hebat saat dirinya memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan. Tanpa sadar, dia benar-benar menumpu kan tubuhnya kepada Gwen. Sepertinya Ruby bahkan tidak akan bisa berdiri jika Gwen tidak menyangga dirinya. Setelah berjalan dengan penuh perjuangan, Gwen dan Ruby akhirnya sampai di lantai tiga. Gwen membantu Ruby untuk duduk di sofa yang ada di dekat piano. Sementara dirinya akan memainkan benda itu dan membuat lullaby yang akan membantu Ruby untuk kembali terlelap. Perlahan, suara tuts piano yang dimainkan oleh Gwen mulai mengalun terdengar ke seluruh penjuru rumah. Perempuan itu memainkan sebuah melodi lembut yang sempat membuat banyak orang terhipnotis untuk sejenak. Termasuk Theodoric. Pria itu terdiam mendengarkan suara alunan piano yang berasal dari lantai tiga. Begitu pula dengan Grace dan Lukas. Seingat mereka, hanya Grace dan Ruby lah yang bisa memainkan piano di rumah ini. Keduanya pun sudah sangat jarang memainkan benda itu akhir-akhir ini. Tapi sekarang, siapa yang memainkan nya? Ruby tengah sakit, sementara Grace sendiri sibuk dengan makan malam nya. 'Ahh, mungkin Gwen.' batin Theo yang mengingat jika perempuan itu sempat meminta izin untuk memainkan piano. Tetapi... kenapa Gwen memainkan piano saat malam hari? Terlebih karena sebelumnya Gwen menolak makan malam bersama dan mengatakan ingin menjaga Ruby. Theo kemudian memusatkan perhatiannya kepada makanan yang ada di piring nya. Dia akan menghabiskan makan malam nya sebelum datang ke lantai tiga dan menghampiri Gwen. Tepat lima belas menit kemudian, Theo berhasil menyelesaikan makan malam nya. Pria itu bangkit dari meja makan dan melangkah menuju tangga. Sebelum pria itu menaiki tangga, Theo melirik ke arah Grace dan Lukas yang masih makan malam dengan tenang. Seolah tak terusik sama sekali dengan alunan piano tersebut. Karena itu, Theo kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga ke lantai tiga. Pria itu yang tadinya hendak memanggil Gwen, langsung mengurungkan niatnya saat melihat Ruby yang tertidur lelap di samping wanita itu. Dari posisi nya, Theo bisa melihat siluet belakang tubuh Gwen yang masih memainkan piano. Dia juga melihat bagaimana Gwen menahan kepala Ruby agar tidak terantuk piano dan berakhir menyandarkan kepala Ruby di bahu nya. Pemandangan yang entah kenapa membuat hati Theodoric menghangat. Dia memutuskan untuk menunggu hingga Gwen mengakhiri permainan piano nya dan bersidekap sambil sesekali tersenyum tipis saat mendengar mulut Gwen turut menyenandungkan lullaby yang menenangkan. Sesaat kemudian, permainan piano Gwen terhenti. Dengan matanya sendiri, Theo melihat Gwen merangkul Ruby dan menyelimuti anak itu dengan selimut tipis. Gwen menghela nafasnya saat melihat Ruby yang tertidur di bahu nya. Dia menepuk-nepuk pelan punggung Ruby saat anak itu menggeliat pelan. "Ssshhh, tidurlah." gumam nya Saat Gwen menolehkan kepalanya ke belakang, tubuhnya tersentak kecil saat melihat Theodoric berada di ujung tangga. Pria itu tengah menatap lurus dirinya dengan kedua tangan bersedekap. "Uh, hai." sapa Gwen dengan suara setengah berbisik. Dia tersenyum riang kepada Theodoric, "bisa bantu aku? Ruby harus dipindahkan ke kamar." Tanpa mengatakan apapun, pria itu melangkah mendekati Gwen dan segera meraih tubuh Ruby ke dalam gendongan nya. "Permainan mu bagus." puji Theodoric Gwen kembali tersenyum, dia bergerak menyelimuti Ruby yang ada di gendongan Theodoric dengan selimut tipis yang sebelumnya Ruby pakai. "Tadi Ruby tidak bisa tidur. Jadi aku memainkan piano untuknya." Keduanya melangkah turun dari lamtai 3, berpapasan dengan Grace dan Lukas yang tengah menaiki tangga untuk kembali ke kamar mereka setelah menyelesaikan makan malam. Lukas tanpa mengatakan apapun langsung berjalan cepat menuju kamar nya. Sedangkan Grace, seperti biasanya. Anak pertama Theodoric itu sulit untuk di tebak. Grace memandangi Theo, Gwen dan Ruby untuk beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya untuk ke kamar. Sementara itu, Theodoric menukar tatapannya dengan Gwen sebelum melanjutkan langkah nya ke kamar Ruby. Pria itu menidurkan tubuh kecil Ruby di atas tempat tidur. Atensi nya kemudian teralih pada Gwen yang berada tepat di dekatnya. "Makan malam dulu." perintah pria itu. Theo mengusap dahi Ruby sebelum akhirnya beranjak dari kamar anak ketiga nya itu, "ayo, aku akan menyiapkan makanan dan s**u untukmu." Gwen menganggukkan kepalanya, "Kau duluan saja. Aku mau menyelimuti Ruby dulu." Theo menatap Gwen dan Ruby bergantian sebelum akhirnya mengangguk dan pergi. Gwen bergerak ke samping Ruby. Dia mengganti selimut tipis yang sebelumnya dengan selimut yang agak tebal. "Ruby, setelah aku pergi nanti, kau harus makan banyak ya? Jangan buat Ayah mu cemas." Gwen kembali mengusap hangat rambut Ruby sebelum akhirnya melangkah pergi keluar dari kamar. Saat pintu kamar Ruby tertutup, sepasang mata yang tadinya tertutup itu perlahan mulai terbuka. Menatap pintu yang tertutup dan kepergian Gwen dengan tatapan sendu. "Kenapa rasanya hangat sekali?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN