Chapter 15: Pergi

1508 Kata
Theo menatap Gwen yang tengah memasukan beberapa pakaian nya ke dalam sebuah tas dengan putus asa. "Kau yang mengizinkan, tapi kau juga yang menatapku seolah olah dunia sudah berakhir." cetus Gwen yang merasa tidak nyaman dengan cara Theodoric menatap dirinya Pria itu menghela nafasnya, "Kalau aku memintamu untuk tidak jadi pergi, bagaimana?" "Theo, apa kau sedang mempermainkan ku?" Gwen menatap Theo sambil mengerjapkan matanya, sementara Theo membalas tatapan Gwen dengan seulas senyuman tipis dan terlihat putus asa. "Hanya sebentar, Theo. Sudah ya? Kebetulan aku juga merindukan kedua orang tua ku." bujuk Gwen Pada akhirnya, menyerah dengan keadaan, Theo pun benar benar mengizinkan Gwen untuk pulang ke rumah kedua orang tua nya. Namun dengan catatan, perempuan itu harus mengangkat telfon Theo setiap pria itu menghubunginya. Dan tentu saja Gwen menyanggupi hal itu. "Sudah?" tanya Theodoric yang dibalas anggukan oleh Gwen "Mau pergi sekarang? Atau kau akan pergi setelah sarapan?" Gwen terdiam sejenak. Dia melirik jam yang menunjukan jika sebentar lagi Grace dan Lukas akan turun untuk sarapan. Untuk menghindari situasi canggung, Gwen menggelengkan kepalanya. Dia akan pergi sekarang juga dan sarapan buah buahan di mobil. "Tidak. Pergi sekarang saja. Lagipula sebentar lagi Ruby pasti bangun dan kau harus menjaga nya." timpal Gwen "Baiklah, ayo." Theodoric meraih tas kecil yang memuat beberapa set pakaian Gwen dan melangkah keluar dari kamar. Keduanya yang berbincang pelan sambil keluar dari kamar, menarik atensi beberapa pelayan yang memang sudah datang sejak pagi. Terlebih bibi dapur dan kepala pelayan. "Nyonya pergi sekarang?" tanya Donna Gwen tersenyum dan mengangguk, "Iya. Selagi masih pagi dan terhindar dari kemacetan." "Kalau begitu... hati-hati, Nyonya. Tolong segera lah kembali setelah urusan Nyonya selesai." ucap Donna sambil tersenyum kecil Gwen hanya menganggukkan kepala nya dan melambaikan tangannya kepada Donna sebelum kembali melanjutkan langkahnya keluar dari rumah Theodoric itu. Kepergian Gwen, bertepatan dengan kedatangan Grace dan Lukas yang turun ke meja makan. Anak pertama dan kedua Theodoric itu menatap siluet Gwen dari pintu yang terbuka. Dahi Lukas berkerut samar saat melihat sebuah tas yang dibawa oleh Ayah nya. "Perempuan itu benar-benar melakukan apa yang dikatakan nya kemarin?" gumam Lukas yang membuat Grace mengalihkan perhatian kepada saudara nya itu Namun seolah tak menyadari arti tatapan Grace yang terarah kepadanya, Lukas malah melanjutkan langkah nya ke meja makan tanpa mengindahkan tatapan bertanya yang Grace lemparkan kepadanya. Masih di bagian tengah tangga, Grace menoleh dan menatap pintu kamar Ruby yang masih tertutup. "Nona Grace?" Grace menoleh dan menaikan satu alisnya saat Donna memanggil nya dari lantai satu. Tanpa berkata apapun, dia melanjutkan langkahnya untuk turun dan bergantung dengan Lukas. "Bibi, aku ingin pancake seperti yang kemarin." ujar Lukas "Boleh, Tuan. Tolong tunggu sebentar." sahut Bibi dapur Lukas menganggukkan kepalanya. Dia bersidekap dan menatap jendela yang menampilkan pemandangan luar. Tak lama setelahnya, Grace juga turut melakukan hal yang sama. Dia menatap jendela sesaat setelah mendengar suara deru mesin mobil yang beranjak pergi dari rumah nya. Kepergian mobil yang membawa Gwen serta Theo itu memunculkan tanda tanya dari perempuan itu. Sesaat kemudian, Bibi dapur muncul dengan setumpuk pancake di atas piring. Dia menyimpan piring itu ke atas meja dan tersenyum tipis kepada Grace dan juga Lukas. "Selamat makan." ujar Bibi dapur Lukas menganggukkan kepalanya dan mulai meraih beberapa potong pancake dengan garpu nya. Tidak ada yang aneh awalnya. Tapi saat Lukas mulai mengunyah pancake tersebut, dahinya berkerut samar karena menemukan perbedaan antara pancake yang hari ini dan yang sebelumnya dia makan. Pria itu mulai menambahkan sirup maple sedikit demi sedikit, mengira jika yang kurang adalah sirup tersebut. Namun walaupun begitu, rasanya tetap berbeda. "Bibi, kenapa pancake hari ini rasanya berbeda dengan yang kemarin? Jangan tersinggung. Rasa nya enak, tapi jelas berbeda dengan yang kemarin aku makan. Yang kemarin lebih pas dan sesuai selera lidah ku." tukas Lukas dengan dahi berkerut samar. Diam-diam, Grace juga membenarkan ucapan Lukas dalam hati. Bibi dapur menukar tatapannya dengan Donna dan mengalihkan pandangannya kepada Lukas. Wanita paruh baya itu tersenyum kecil. "Pancake yang kemarin dibuat oleh Nyonya. Sedangkan yang hari ini... Bibi sendiri yang membuatnya." Sebuah ledakan fakta yang membuat Grace beserta Lukas tidak bisa merasa tidak terkejut saat mendengarnya. *** Hampir satu jam kemudian, Theodoric pulang ke rumah. Dia menatap Grace dan Lukas yang masih duduk di meja makan walau terlihat sudah menyelesaikan makan pagi nya. Theo kemudian turut bergabung ke meja makan. Kedatangan Theo yang tidak memakai setelan kerja nya menarik perhatian Lukas dan Grace. Namun seperti biasa, keduanya menyembunyikan raut bertanya-tanya mereka. Tapi ada hal lain yang menarik perhatian Grace. Dia tidak melihat Keberadaan Gwen dimana pun. 'Apa mungkin dia tidak ikut pulang dengan Papa?' Merasa jika dirinya tengah di tatap, Theo mengangkat kepalanya. Dia menemukan Grace dan Lukas tengah menatap ke arah dirinya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. "Kenapa?" tanya Theo pada akhirnya Grace dan Lukas kompak kembali menundukan kepalanya dan memusatkan perhatian kepada makanan milik mereka masing-masing. Tidak menjawab pertanyaan Theo sama sekal. Melihat itu, Theo menghela nafasnya dalam diam. Canggung. Dia juga tidak tahu angin apa yang membawanya langsung duduk di meja makan begitu saja padahal biasanya dia akan menghindari meja makan saat pagi. Well... sepertinya ini efek dari Gwen. Biasanya perempuan itu langsung membawa nya ke meja makan dan mungkin menciptakan sebuah kebiasaan bagi Theo. Berbeda dengan dirinya yang masih menikmati makanan nya, kedua anak Theodoric itu satu persatu mulai meninggalkan meja makan dengan piring yang sudah kosong. Tanpa berkata apapun, keduanya berjalan menaiki tangga meninggalkan Theodoric seorang diri. 'Sepertinya lain kali, aku sarapan di meja makan saat ada Gwen saja.' Beberapa saat kemudian, Theo sudah menyelesaikan sarapannya. Pria itu kemudian berjalan menuju kamar nya dan Gwen, meraih beberapa berkas yang ada di dalam lemari arsip lalu setelahnya berjalan menuju kamar Ruby yang masih belum menunjukan tanda tanda sang pemilik kamar sudah terbangun. Theo terdiam menatap Ruby yang masih tertidur dengan tenang. Dia meraih ponselnya dan menatap to do list yang sudah dikirimkan Gwen kepadanya. Ada sebuah catatan kecil yang disisipkan oleh Gwen di bagian bawah pesan nya. Jika panas nya sudah turun pun, jangan langsung meminta nya untuk sekolah, Theodoric. Ingat ini ya! Jangan-jangan kemarin Ruby tetap sekolah walau sakit karena paksaan dirimu :" Catatan kecil dari Gwen, sukses membuat Theodoric terkekeh kecil. Dia bukan orang yang kejam seperti yang dituduhkan oleh Gwen. Walau berisi tuduhan kepadanya, entah kenapa Theo tetap merasa jika catatan itu terasa lucu. Dia kembali memeriksa list hal pertama yang harus dilakukan. "Sarapan dan obat. Aku akan menunggu Ruby terbangun terlebih dahulu." *** Secercah cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar, membuat Ruby mengerutkan dahi dalam tidurnya. Perlahan, perempuan itu mengerjapkan kedua matanya. Kedua netra nya langsung disambut oleh sebuah pemandangan langka yang belum pernah Ruby lihat seumur hidupnya. Jika kemarin, dia pasti mengira jika hal ini hanyalah halusinasi akibat demam yang di derita nya. Tapi sekarang, dia bisa memastikan jika demam nya sendiri sudah turun. Jadi apa yang dilihatnya bukan lah sebuah halusinasi. Namun ada satu hal yang membuat Ruby mengerutkan dahinya. Kemana perempuan yang semalam mengurusnya? Apa perempuan itu sudah lelah dan membiarkan Theo mengurus dirinya seorang diri? Hmph. Sudah Ruby duga, ada sesuatu yang tidak beres dengan perempuan itu. "Kau sudah bangun?" Ruby terkesiap saat mendengar suara sang Ayah yang bertanya dengan nada lembut kepadanya. Karena terkejut, Ruby hanya bisa menganggukkan kepalanya. "Hari ini Papa akan bekerja di rumah menemani Ruby." ungkap Theodoric Samar-samar, dia bisa melihat anak ketiga nya itu mengerutkan dahinya bingung. "Aku harap Ruby tidak keberatan jika Papa melakukan ini. Gwen tengah pergi untuk sementara waktu. Katanya karena perjanjian yang kalian buat. Dia ingin kau menghabiskan waktu dengan Papa." lanjut pria itu Mendengar hal itu, Ruby tertegun. Dia tidak menyangka jika Gwen akan benar-benar pergi sesuai permintaan nya. Padahal sebelumnya Ruby mengira jika perempuan itu hanya berniat untuk membujuk Ruby dan mengatakan omong kosong hanya agar Ruby mempercayai dirinya. "A-apa dia... benar-benar pergi?" lirih Ruby Theo menganggukkan kepalanya, "Hm. Papa sendiri yang mengantarnya hari ini." "Bukannya dia sedang hamil...?" "Iya, memang. Tapi Gwen tetap bersikeras untuk pergi." "Ruby, kau mungkin terkejut karena pernikahan kami. Tapi Gwen sendiri menurutku adalah orang yang sangat baik. Papa tidak memintamu untuk langsung menyukainya atau memintamu langsung menganggapnya sebagai 'Mama' mu. Tapi setidaknya, cobalah untuk berteman dengan Gwen. Dia mungkin tidak seburuk dugaan mu." ujar Theo, mulai mencoba menjelaskan secara perlahan tentang sosok Gwen di mata nya. Jujur saja, hati dan pikirannya perlahan terbuka setelah berbincang banyak hal dengan Gwen sepanjang malam. Dia cukup terkejut dengan cara berfikir Gwen yang terlampau positif. Lalu entah sejak kapan, dia mulai selalu berdebar kencang setiap menatap wajah Gwen. Apa mungkin dia berdebar karena perhatian yang ditunjukan Gwen kepada ketiga anaknya? Semakin dipikirkan, hal yang hinggap di kepala Theo adalah wajah Gwen yang tersenyum lebar dan mengatakan jika dirinya dan bayi yang ada di dalam kandungannya adalah orang yang kuat. Theo jadi merasa tidak tenang. Tapi dia mengingat sebuah pesan dari Gwen. Yang mengatakan jika Theo tidak boleh menghubunginya saat tengah berbicang dengan Ruby ataupun menemani Ruby. Semua perhatiannya hari ini hanya boleh dicurahkan untuk Ruby. Setidaknya begitu kata Gwen. Dia tersadar dan menatap Ruby yang juga tengah berbaring menatapnya dengan kedua mata mengerjap pelan. "Ruby, mau makan? Papa akan menyuapimu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN