Chapter 16: Ibu hamil dan bayi yang kuat

1029 Kata
Gwen berbaring menatap langit-langit kamarnya. Sesekali dia akan menggembungkan pipi nya saat tengah memikirkan sesuatu tentang Theodoric dan juga Ruby. Dia harap, keduanya sudah bisa menghilangkan rasa canggung mereka hari ini. Yah, Gwen tidak mau berharap banyak. Seolah tahu jika dirinya tengah menyita pikiran Gwen, sebuah deringan telfon dengan nama Theodoric terpampang di layar ponselnya. Perempuan itu sontak mengangkat kedua alisnya dan meraih benda itu. "Ya, Theo? Tidak ada sesuatu yang buruk terjadi, kan?" "Tidak ada. Kau sudah makan? Ini sudah masuk jam makan siang." sahut Theodoric "Uh, belum. Tunggu, kenapa rasanya waktu berjalan cepat sekali ya? Rasanya hari ini aku hanya berbaring di atas tempat tidur tanpa melakukan apa-apa." tukas Gwen bingung "Pergilah makan. Jangan lupa minum s**u nya." "Iya-iyaaaa." "Kalau begitu aku tutup dulu telfon nya. Ingat, jangan lupa makan." Tut. Sambungan telfon itu berhenti begitu saja. Menyisakan Gwen yang hanya bisa menatap ponselnya sendiri dengan tatapan hampa. Tidak habis pikir dengan Theodoric yang entah kenapa terlihat random di mata nya. "Gwen, sayang? Ayo turun dan makan." Gwen menatap Ibu nya yang berdiri di depan pintu kamar dan menganggukan kepalanya. Dia memasukan ponselnya ke dalam saku celana dan berjalan mengikuti sang Ibu untuk turun ke meja makan. Sepi, tentu saja. Ayah nya tengah berada di tempat kerja. Hanya ada Gwen dan Ibu nya di rumah hari ini. Namun biarpun begitu, entah kenapa Gwen tidak merasa kesepian. Mungkin karena Ibu nya asik berceloteh mengajaknya berbincang dengan hangat seperti dulu. "Hubunganmu dan Theo baik-baik saja kan?" tanya sang Ibu Gwen menganggukkan kepalanya. Belum sempat dia membuka mulut untuk menjawab pertanyaan yang dilayangkan sang Ibu kepadanya, ponselnya kembali berdering nyaring. Perempuan itu mengatupkan mulutnya dan meraih ponselnya. Dahi nya lagi-lagi berkerut samar saat melihat nama Theodoric terdapat di layar. "Iya,Theo? Ada apa? Aku baru mau makan seperti yang kau perintahkan." tukas Gwen gemas "Serius? Kau tidak berbohong? Coba berikan ponselnya kepada Ibu. Aku mau berbicara." ujar Theodoric Dengan bibir mengerucut, Gwen menyerahkan ponselnya kepada sang Ibu yang terlihat bertanya-tanya tentang apa yang dikatakan Theo hingga Gwen memasang wajah seperti itu. "Ya, nak Theo?" tanya Ibu "Ibu, apa Gwen sekarang baru saja mau makan?" Wanita paruh baya itu melirik Gwen sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Theodoric, "Iya. Gwen baru saja mau makan. Ada apa?" "Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan. Kalau begitu, terima kasih Ibu. Maaf karena merepotkan Ibu untuk sementara waktu." "Oh iya, Ibu. Maaf, tolong beritahu kepada Gwen jangan sampai dia melupakan s**u Ibu hamil nya. Sekali lagi, terima kasih Ibu." Telfon itu pun ditutup begitu saja. Ibu Gwen menggaruk pelan dahi nya dan menyodorkan ponselnya kepada Gwen. "Baiklah, pertanyaan Ibu tadi tidak perlu dijawab. Mendengar nada cemas yang diberikan Theo padamu saja sudah cukup untuk menjawab nya." tukas sang Ibu sambil terkekeh pelan "Theo baru saja menelfon ku di kamar tadi. Menanyakan makan siang juga. Lalu tadi dia menelfonku lagi." ungkap Gwen sambil tersenyum kecil "Theo keliatannya sangat mencemaskan mu." Gwen hanya bisa melebarkan senyumannya saat mendengar ucapan sang Ibu. Dengan tenang, dia mulai menyantap makan siang nya. Karena sepertinya... dia sedikit merindukan masakan sang Ibu. "Gwen, bagaimana hubunganmu dengan anak-anak Theo?" tanya sang Ibu lagi "Uhm, ya... begitulah. Ketiga nya anak yang baik." jawab Gwen. Dia bergumam kecil, "hidup ketiga nya juga sangat teratur." "Kau tidak dijauhi oleh anak-anak Theo, kan?" Tepat sasaran. Dugaan yang tepat sasaran itu membuat Gwen terbatuk dan meraih gelas minum nya. Perempuan itu melirik wajah penasaran sang Ibu dengan ujung mata nya. Kembali dibuat merinding karena dugaan sang Ibu sangatlah tepat sasaran. 'Apa Ibu ku cenayang?' "Tidak ada yang seperti itu, Ibu. Seandainya ada pun... aku tidak melihatnya sebagai hal yang buruk." sangkal Gwen sambil tersenyum menenangkan "Lalu? Kenapa kau kemari secara tiba-tiba? Hubunganmu dan Theo terlihat baik-baik saja." tanya Ibu lagi Gwen mengerjapkan kedua matanya pelan, "Apa aku tidak boleh berkunjung?" "Bukan begitu. Hanya sedikit aneh saja. Biasanya pengantin baru akan mengurung diri di kamar selama sebulan." "Sebulan?!" pekik Gwen sambil menatap ngeri Ibu nya Menyadari tatapan yang di layangkan sang anak kepadanya, wanita paruh baya itu tertawa kecil. "Hanya perumpamaan nya, Gwen. Mereka tidak benar-benar mengurung diri di kamar selama itu." Mendengar hal itu, Gwen menghela nafasnya dan menghabiskan makanan yang ada di mulutnya sebelum membalas ucapan sang Ibu, "Anak ketiga Theodoric sakit. Katanya, agar aku tidak tertular, untuk sementara wakku aku tinggal dulu disini dengan Ayah dan Ibu." "Bukannya seharusnya kau membantu Theo merawatnya?" "Sudah, kok. Waktu hari pertama Ruby sakit, aku yang merawatnya. Theodoric merasa bersalah karena aku terlihat lemas setelah tidak tidur semalaman. Jadi aku diminta pindah kemari sampai Ruby sembuh." jelas Gwen mencoba tenang. Tentu saja, kan? Jantungnya berdebar sangat kencang karena terpaksa berbohong. Ini adalah narasi yang sudah disiapkannya bersama dengan Theodoric di mobil tadi. "Ahh, begitu..." gumam Ibu nya. Wanita paruh baya itu mengendikan bahunya, "yah tak masalah juga sih. Ibu senang karena kita bisa menghabiskan waktu lagi walau untuk sementara." Gwen dalam diam menghela nafasnya. Kemudian Gwen mulai mendengarkan wejangan dari sang Ibu. Tentang bagaimana Gwen harus menyiapkan diri selama kehamilan, apa yang harus dipersiapkan untuk kelahirannya nanti, dan masih banyak lagi. Saking banyaknya, Gwen kira dia bisa menghabiskan beberapa lembar buku untuk mencatat nya. "Inti nya, kau harus berhati-hati. Theo sudah menjadi suami siaga. Kau juga harus menjadi istri dan calon ibu siaga." *** Setelah menyelesaikan makan siang nya, Gwen juga tidak diperbolehkan melalukan kegiatan apapun oleh Ibu nya. Hal itu membuat Gwen hanya bisa terdiam di sofa dan menatap kosong televisi yang menyiarkan sebuah acara gossip yang terlihat tidak menarik dimata nya. Atensi Gwen kemudian teralihkan kepada ponselnya. Dia meraih benda itu dan membuka kalender. Dia nenatap sebuah titik yang merupakan sebuah pengingat. Beberapa hari lagi, dia harus nenjalani pemeriksaan kandungan. Tadinya, dia ingin meminta Theo untuk mengantarnya. Namun jika situasi nya tidak memungkinkan dan Ruby masih sakit, dia akan pergi sendirian saja. Dia tidak mau merepotkan Theodoric atau membuat Ruby semakin membencinya. Gwen tahu, di rumah Theodoric, dirinya masih sangatlah baru. Dia tidak boleh mencari musuh atau melakukan kesalahan. Dia harus menjadi Ibu hamil yang mandiri untuk berjaga-jaga seandainya ketiga anak Theodoric itu masih membenci dan tidak menyukai kehadirannya di rumah itu. "Seperti yang aku bilang sebelumnya. Kita kuat kan, nak?" bisik Gwen sambil mengusap perutnya sendiri yang sudah mulai membuncit
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN