Gwen tengah membaca sebuah majalah ketika pintu rumah nya terbuka lebar dan menampilkan Celestine yang tersenyum lebar menyapa nya.
"GWEN PALMER!!" teriaknya senang
Yang dipanggil terdiam dengan wajah melongo sebelum akhirnya membalas Celestine dengan senyuman yang tak kalah lebar nya. Dia berjalan menghampiri Celestine dan memeluk sahabatnya itu.
"Darimana kau tahu jika aku ada disini?!" seru Gwen
"Ibu mu. Ibu mu menanyakan jadwal ku dan saat mengetahui jika jadwalku kosong, beliau memintaku datang untuk menemanimu." jelas Celestine. Dia menggandeng tangan Gwen dan membawa nya ke sofa.
Kedua tatapannya menatap lekat perut Gwen yang sudah mulai membuncit.
"Gwen, mau menemaniku belanja? Jujur saja, aku bosan sekali tidak ada dirimu. Beberapa kali aku diajak pergi oleh teman kita yang lain, tapi tidak seru. Mereka membahas hal yang tidak aku ketahui dan berakhir dengan mengatakan jika aku terlalu pendiam." gerutu perempuan itu
Mendengar hal itu, Gwen tertawa, "Padahal jangankan diam. Seorang Celestine biasanya tidak akan pernah menutup mulutnya."
"Nah, kau tau dengan jelas hal itu kan!" cetus Celestine
Gwen menganggukkan kepalanya, "Kalau begitu, aku harus izin dulu kepada Theodoric."
"Whutt?! Suami mu ada disini juga?!" pekik Celestine terkejut
"Tidak, bukan. Maksudku, akhir-akhir ini dia menjadi lebih cemas kepadaku. Dan aku tidak mau dia khawatir." jelas Gwen sambil tersenyum kecil. Dia meraih ponselnya dan berniat mendial nomor Theo. Namun tepat sebelum dia menekan tombol 'call', perempuan itu terdiam ragu.
'Apa Theo tengah bersama Ruby? Jika menelfon nya, apa Ruby akan berfikir jika aku mengganggunya?' pikir Gwen ragu
"Apa yang kau tunggu?" tanya Celestine yang melihat Gwen tiba-tiba terdiam. Kedua matanya memicing curiga, "Gwen, jangan jangan kau dan suami mu sedang berteng-"
Ucapan Celestine terpotong dengan suara deringan telfon yang berasal dari ponsel Gwen. Perempuan itu menunduk dan menatap nama Theo yang terdapat disana.
"Ah, dia duluan yang menghubungiku." tukas Gwen sambil tertawa kecil. Dia menekan icon hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Kau sudah makan camilan mu?"
"Aku sedang melakukannya. Oh iya, terima kasih untuk kiriman buah-buahan nya ya. Aku sedikit terkejut saat menerima nya. Karena aku dan Ibu tidak memesan apapun. Apalagi penampilan orang yang mengirim ini tidak terlihat seperti seorang kurir." jawab Gwen
"Baguslah. Aku menyuruh pegawaiku yang baru saja pulang dari rumahku untuk mengantarkan itu. Aku juga baru ingat saat memotong buah untuk Ruby." sahut Theodoric yang membuat Gwen terdiam
Namun sesaat kemudian, perempuan itu menyunggingkan senyumannya.
"Bagaimana keadaan Ruby? Sudah lebih baik?" tanya nya
"Iya, dia sudah tidak demam lagi. Ruby bilang... mungkin besok dia bisa sekolah lagi." ucap Theodoric
"Ahh, baguslah kalau begitu. Tapi kalau malam nanti dia masih demam, jangan biarkan dia sekolah."
"Iya, Gwen... aku akan mengingat itu."
"Oh iya. Theo, apa aku boleh pergi ke mall? Celestine mengajakku jalan-jalan. Aku akan pergi kalau kau mengizinkan. Tapi kalau tidak, ya sudah..." tanya Gwen
"Boleh. Tapi jangan sampai kau kelelahan. Disana tidak akan ada yang menggendongmu seperti aku saat kau kelelahan." balas Theodoric
Gwen bisa mendengar pria itu tertawa kecil di ujung kalimat. Ucapan pria itu membuat Gwen mencibirnya.
"Sebelum kau yang menggendongku, ada Ayah ku tahu!" ketusnya
"Memang nya kau tega membiarkan Ayah menggendongmu? Kau kan berat."
"Bye, Theo. Kau menyebalkan."
Gwen langsung menutup sambungan telfon nya dengan Theo. Dia melirik Celestine yang menatap dirinya dengan kedua mata memicing.
"Ahh Gwen, sepertinya ada banyak hal yang harus kau jelaskan kepadaku." ucapnya
Gwen terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menyunggingkan cengiran lebarnya. Dia menepuk pelan pipi Celestine sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.
"Tunggu sebentar, okay. Aku akan bersiap-siap dan menemanimu pergi ke mall."
***
"Pffffttsss"
"AH CELESTINE, AKU TIDAK BERCERITA UNTUK KAU SEMBUR SEPERTI ITU!" rengek Gwen saat Celestine menyemburkan jus melon pesanannya dan mengenai dirinya
Keduanya seketika menarik atensi banyak orang. Apalagi ketika Gwen berseru seperti itu.
Sementara Celestine, menggumamkan kata maaf sambil mengusap bekas basah jus miliknya dengan tissue. Setelah merasa bersih, dia kembali mengalihkan tatapannya kepada Gwen yang tengah mengerucutkan bibirnya dan menatap balik ke arah nya dengan tatapan sebal.
"Jadi Theodoric ternyata Duda tiga anak?" tanya Celestine
Gwen menganggukkan kepalanya.
"Dan tiga-tiga nya sudah cukup remaja?" tanya nya lagi
Gwen kembali mengangguk, dia menatap sebal kepada Celestine yang terlihat seperti tengah kehilangan setengah nyawa nya.
"Mau sampai kapan kau mengulangi ucapanku, Celestine?" tanya Gwen
"Aku hanya... tidak habis pikir." gumam Celestine. Dia kembali menyesap jus miliknya dan menatap Gwen lekat.
"Berarti kau beli satu dapat tiga?" lanjutnya
"Memang nya Theodoric itu produk makanan promo?"
Celestine terkekeh kecil dan bersedekap, "Tapi memang benar sih. Usia nya sudah 38 tahun. Aneh kalau dia adalah pria lajang. Karena tanda nya, kalau bukan selera nya yang terlampau tinggi, ya orientasi seks nya menyimpang." gumamnya
Mendengar hal itu, Gwen tersedak kecil. Dia menatap ngeri Celestine dan menepuk-nepuk d**a nya untuk meredakan batuk.
"Apa? Aku benar, dong? Usia nya udah matang, mapan, tampan. Aneh kalau dia lajang." tukas Celestine yang tidak peduli dengan tatapan ngeri yang di layangkan oleh Gwen kepadanya.
"Lalu bagaimana hubungan mu dengan ketiga anaknya?"
"Ya, begitu lah. Masih canggung. Apalagi anak pertama Theodoric usia nya hanya berbeda 9 tahun denganku." ungkap Gwen
"Uh wow. Keren. Jujur saja aku sangat terkejut dan bingung harus berkomentar apa."
Gwen menghela nafasnya. Pada akhirnya dia terpaksa jujur kepada Celestine yang terus mendesaknya untuk bercerita. Sahabatnya itu berbeda dengan sang Ibu.
"Tapi, Gwen? Apa Ibu mu tahu soal ini? Soal hubunganmu dan anak-anak Theodoric yang masih canggung?" tanya Celestine
"Tidak. Aku bilang hubungan kami sudah seperti sahabat dan keluarga."
Celestine menghembuskan nafasnya, dia menatap lurus Gwen yang terlihat terdiam sambil mengaduk jus dengan sedotan tanpa ada minat untuk meminum nya.
"Apa kau mau aku jujur? Aku datang karena Ibu mu menyuruhku datang. Ibu mu sudah lama curiga dengan hubunganmu dan anak-anak Theodoric. Ibu mu tidak mungkin tidak mengetahui hal yang kau sembunyikan ini, Gwen." tandas Celestine. Dia tersenyum tipis, "Ibu mu tahu. Tapi lebih memilih diam dan menunggumu menceritakannya sendiri. Atau bahkan mungkin menyelesaikan nya sendiri dengan cara mu."
Sebersit rasa bersalah menyusup di hati Gwen. Dia mengetuk pelan permukaan meja untuk melampiaskan rasa cemas dan gelisah nya.
"Tapi hubungan mu dan Theodoric baik-baik saja kan? Kalian tidak bertengkar?" tanya Celestine
Gwen menggelengkan kepalanya, "Tidak. Theo sangat baik padaku. Dia lembut dan perhatian. Kau mungkin mendengar cara nya berbicara tadi melalui telfon."
"Jadi masalah mu hanya dengan anak-anaknya?"
"Tidak bisa dibilang masalah juga. Kami hanya canggung."
Keduanya terdiam setelahnya. Gwen merasa lega karena ada yang mengetahui hal ini dari sisi nya dan Celestine juga merasa lega karena Gwen terlihat lebih baik setelah bercerita.
"Aku juga tidak bisa berkomentar banyak. Satu-satunya hal yang membuatku tidak bisa ikut campur adalah kehidupan pernikahanmu. Jadi aku juga tidak bisa sembarangan memberi saran. Tapi kalau kau butuh tempat cerita, kau tahu harus datang pada siapa." usul Celestine yang langsung diangguki oleh Gwen
"Oh ya, ngomong-ngomong... kenapa Theodoric menjadi duda? Cerai? Atau istrinya meninggal dunia?"
Sebuah pertanyaan yang mampu membuat Gwen mengatupkan bibirnya dan menggeleng ragu.
"Aku juga tidak tahu. Dulu aku pernah menanyakan hal itu kepada Theo. Aku bertanya apa istri nya meninggal? Dan pria itu bilang anggap saja begitu. Aku jadi bingung dan canggung. Theo terlihat tidak ingin membicarakan hal itu." ujar Gwen. Dia menyangga wajahnya dengan kedua tangan, "tapi kalau meninggal... aku tidak bisa menemukan foto mantan istrinya itu dimana pun. Bahkan di ruang keluarga yang memuat banyak foto-foto ketiga anak Theodoric sejak bayi, aku tetap tidak bisa menemukan foto mantan istrinya itu."
Dahi Celestine berkerut samar. Dia merapatkan tubuhnya kepada meja yang membatasi dirinya dan Gwen. Perempuan itu memasang ekspresi serius.
"Dari ceritamu, besar kemungkinan alasan Theodoric menjadi duda bukan karena mantan istrinya meninggal dunia. Tapi bercerai. Dan bukan jenis perpisahan yang secara baik-baik."
Gwen bisa merasakan Celestine menatap lurus ke arah belakang bahunya.
"Dan entah perasaan ku saja atau memang iya? Ada seorang laki-laki yang terus menerus melirik ke arah sini. Atau lebih tepat nya ke arah mu. Sangat mencurigakan."