Gwen yang hendak memutar kepalanya untuk melihat pria yang dimaksud, di cegah oleh Celestine. Sahabatnya itu menatap Gwen dengan tatapan gemas.
"Jangan tiba-tiba melihatnya, Gwen!" pekik Celestine dengan suara tertahan
"Apa dia temanku?" tanya Gwen pada Celestine. Tidak aneh dia bertanya seperti ini. Pasalnya, Celestine mengenal hampir semua teman-teman Gwen.
Bisa dibilang, teman Gwen adalah teman Celestine juga.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya, "Bukan, sepertinya. Aku tidak pernah melihat wajahnya dimana pun. Jika dia temanmu, seharusnya aku pernah melihat wajah nya walau hanya untuk satu kali."
"Coba sebutkan ciri-ciri nya." pinta Gwen
"Tinggi, mungkin jauh lebih tinggi darimu. Rambutnya cokelat, kulitnya putih." gumam Celestine sambil mencuri pandang kepada orang yang dicurigai nya
"Itu ciri-ciri orang normal. Memangnya tidak ada ciri khas dari orang itu?" keluh Gwen yang sebal karena semua ciri yang disebutkan oleh Celestine merupakan ciri-ciri orang pada umumnya
Sesaat Kemudian, dahi Celestine berkerut, "Lebih muda darimu. Dia memakai seragam sekolah."
Kedua netra Gwen melebar saat mendengar lanjutan ucapan Celestine.
'Tidak mungkin dia, kan?' pikirnya merujuk pada seseorang yang ada di dalam dugaan nya
"Apa warna seragam sekolahnya?"
"Biru muda. Jas blazer yang dipakainya berwarna biru tua. Ada aksen garis di bagian kerah dan juga pin yang sepertinya berbentuk logo sekolah." jelas Celestine. Dia mengerjapkan matanya dan menatap Gwen, "apa dia fans mu? Penggemarmu datang dari kalangan remaja juga? Padahal kau sudah menikah." sambungnya
Gwen pastikan, dirinya tidak akan salah mengira.
"Itu anak kedua Theodoric. Bukan fansku." ringis Gwen
Celestine terlonjak di kursi nya. Perempuan itu kembali melirik remaja yang tadi menjadi bahan pembicaraan nya dengan Gwen.
"Serius?!" serunya dengan suara tertahan
Gwen mengangguk. Dia penasaran dengan apa yang sedang di lakukan Lukas di tempat ini. Pasalnya, sekolah anak itu terhitung jauh dari mall ini. Apalagi, seingatnya ini masih pukul 2 siang. Lukas seharusnya masih berada di sekolah untuk belajar.
Namun sesaat kemudian, Gwen mengingat ucapan Celestine yang mengatakan jika Lukas beberapa kali melirik ke arahnya.
"Sepertinya Lukas bukan melihatku, Celestine. Seperti yang ku bilang, hubungan kami canggung. Tidak mungkin dia kemari untuk mengawasi ku. Seingatku, Theo juga tidak meminta siapapun mengawasiku." jelas Gwen. Dia kembali tenang setelah mengetahui jika yang melihat dirinya hanyalah Lukas, bukan orang asing menyeramkan seperti yang di takuti nya.
"Mungkin Lukas juga kemari untuk bertemu seseorang. Dia mengedarkan pandangannya berkali-kali untuk mencari keberadaan partner nya." lanjut Gwen santai
Mendengar itu, Celestine pun kembali mengangguk. Dia mencoba mengabaikan remaja laki-laki yang disebut Gwen dengan nama Lukas itu dan kembali larut pada obrolan mereka.
Setelah Celestine dan Gwen menghabiskan jus masing-masing, keduanya beranjak dari tempat itu.
"Apa yang mau kau beli?" tanya Gwen saat Celestine menyeretnya ke sebuah toko barang-barang wanita.
"Sepatu, gaun tidur, pokoknya aku ingin beli banyak hal." jawab Celestine
Entah sudah berapa kali keduanya mengambil barang sambil sesekali berbincang. Gwen sibuk mendengarkan, sementara Celestine juga sibuk meluapkan perasaan bosan, kesal dan malas yang bersarang di d**a nya karena berkali-kali teman mereka mengajaknya pergi, namun berakhir mengabaikannya.
"Mereka seperti sengaja melakukan hal itu! Mereka tahu aku hanya dekat denganmu dan kemana-mana, kita pergi berdua." dengus Celestine
"Kalau begitu, kenapa kau ikut?" sahut Gwen
"Di paksa!" ketus lawan bicara nya
Gwen tertawa kecil dan mengikuti langkah Celestine membawa semua barang belanjaan nya ke kasir. Saat Celestine hendak membayar semua belanjaan nya, kedua netra Gwen tanpa sadar menatap pantulan seseorang yang di kenalnya melalui sebuah mesin scan.
Lukas. Anak itu terlihat beberapa kali melirik ke sekitar dan disaat tang sama, terlihat menyibukan diri dengan barang-barang yang ada di etalase toko.
Masalahnya... ini toko khusus untuk perempuan. Apa yang Lukas lakukan disini? Terlebih, berdiri di depan sebuah etalase pakaian dalam?
Gwen ingin menegur dan menyapa, tapi dia mengingat bagaimana terakhir kali pembicaraan nya dengan Lukas berakhir. Dia tidak mau Lukas mengatakan hal yang menyakitkan di depan Celestine.
Sahabatnya itu rem mulut nya blong. Bisa bahaya jika Celestine mendengar kalimat hinaan yang dilayangkan Lukas padanya.
Celestine mungkin akan mengamuk dan mengancam akan memberitahukan hal ini kepada orang tua Gwen. Situasinya bisa menjadi kacau.
Karena itu, Gwen kembali mencoba mengabaikan keberadaan Lukas. Dia hanya akan menyapa anak itu saat sudah tidak ada Celestine.
"Gwen, ayo. Aku sudah selesai membayar nya." ajak Celestine. Tanpa mengatakan apapun, Gwen beranjak mengikuti Celestine keluar dari toko untuk menuju toko lainnya.
"Bagaimana denganmu? Kau ingin belanja sesuatu?"
Gwen bergumam kecil sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya, "Mungkin tidak dulu. Tidak ada yang ingin aku beli."
Celestine mengangguk kecil mendengar jawaban itu. Namun dia tidak bisa menahan diri untuk menyeret Gwen kesana kemari memasuki berbagai toko yang dirasa memiliki berbagai hal yang bagus.
Dan selama itu, Gwen bisa melihat Lukas selalu berada beberapa meter di belakang nya.
'Mungkin Lukas memang mengikutiku. Bukan menunggu orang lain seperti yang aku pikirkan.'
***
"Gwen, tolong jangan jera menemaniku belanja." ucap Celestine saat Gwen hendak keluar dari mobilnya dan pulang ke rumah
Gwen tertawa kecil, "Tidak akan. Aku sudah berkali-kali menemanimu belanja. Kalau kau butuh teman, hubungi aku saja. Jangan ikut bepergian dengan orang-orang yang mengabaikanmu."
Gwen kemudian melambaikan tangannya dan keluar dari mobil Celestine. Di tangannya, ada beberapa paper bag kecil berisi kue manis dan sebotol parfum pemberian Celestine untuk dirinta.
Sesaat sebelum Gwen menaiki tangga pekarangan rumah nya, dia mendengar Celestine memanggilnya. Sahabatnya itu membuka kaca jendela dan atap mobil miliknya, lalu membuat sebuah love sign besar di atas kepala nya.
"GWEN, KAU SAHABAT TERBAIK KU, HUHUHU!" teriaknya
Gwen tertawa dan kembali melambaikan tangannya. Dengan kedua mata nya sendiri, dia melihat Celestine menjalankan mobilnya dan beranjak pergi dari beranda rumah nya.
Gwen kemudian kembali membalikan tubuhnya. Dia berniat untuk masuk ke dalam rumah nya, ketika tanpa sengaja dirinya menatap sebuah pantulan bayangan Lukas yang duduk di atas motor berada tak jauh dari pagar rumah nya.
Mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah, Gwen berbalik dan berjalan menghampiri pemilik motor itu.
"Lukas." panggil Gwen dengan seulas senyuman kecil
Yang disebutkan namanya membuka helm dan menatap Gwen dengan datar.
"Ini baru jam 4 sore. Bibi Donna bilang, jika kau dan Grace biasanya akan pergi les kursus sebelum pulang ke rumah jam 5. Apa kursus nya libur? Aku melihatmu ada di mall sejak pukul dua siang." ujar Gwen
"Kau melihat ku dari pukul dua, tapi baru menghampiri ku jam 4?" balas Lukas
"Sengaja. Aku kira kau menunggu orang lain dan kita hanya kebetulan bertemu." timpal Gwen. Dia tersenyum tipis, "kau bolos?"
"Lalu kenapa jika aku bolos? Kau akan mengatakan hal ini pada Theodoric?"
"Dia Ayahmu, Lukas. Dan tidak. Aku tidak akan mengatakan apapun kepada Theo." tukas Gwen. Dia kembali melirik pintu rumah nya yang dibuka dari dalam, menampilkan sesosok wanita paruh baya yang terlihat mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Mau masuk? Ini rumahku. Kita bisa berbincang di dalam sambil menunggu jam 5 sore. Jika kau pulang sekarang, Theo pasti akan mencurigaimu karena ini belum jam pulang mu yang biasanya. Sekaligus... aku juga ingin tahu apa yang membawamu mengikuti ku seharian ini."