Chapter 19: Sebuah langkah besar

1309 Kata
"Jadi... apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Gwen pada Lukas yang sudah duduk di hadapannya Ya. Gwen berhasil menyeret Lukas untuk masuk ke dalam rumah nya. "Eh? Siapa ini?" Gwen menatap sang Ibu yang berjalan ke arah mereka dengan raut sumringah. Dia langsung mengurungkan niatnya untuk meminta penjelasan kepada Lukas tentang keberadaan nya di tempat ini. "Ibu, ini anak kedua Theodoric. Nama nya Lukas." ujar Gwen Wanita paruh baya itu langsung menatap Lukas dengan penuh ketertarikan. "Wah, kau tampan seperti Ayah mu." puji sang Ibu Gwen tersenyum tipis dan kembali mengalihkan tatapannya kepada Lukas. Dia menunggu apa yang akan dilakukan anak itu kepada Ibu nya. Di luar dugaan, Lukas mengangguk kecil dan menyunggingkan senyuman tipisnya untuk menyapa Ibu dari Gwen. "Kau sudah makan? Duh, kau bahkan masih memakai seragam sekolah tapi menyempatkan diri untuk datang berkunjung kemari." ucap Ibu Gwen. Wanita paruh baya itu mengarahkan tatapannya menuju ruang makan sebelum kembali menatap Gwen, "Gwen, ajak Lukas makan ya? Jika mengetahui ada Lukas, Ibu pasti tidak akan menyetujui ajakan teman Ibu untuk bertemu. Tapi Ibu sudah terlanjur menyetujui ajakannya." lanjutnya gelisah "Tak apa, Ibu. Nanti... aku bisa mengajak Lukas untuk berkunjung lagi. Gwen juga tidak tahu jika Lukas akan berkunjung." sahut Gwen sambil tersenyum menenangkan "Baiklah, kalau begitu Ibu pergi dulu ya? Lukas, nanti tolong berkunjung lagi kesini ya! Nenek ingin membicarakan banyak hal denganmu." seru Ibu Gwen sambil melambaikan tangannya dan berlari kecil menuju keluar rumah "Astaga! Tanpa terasa aku sudah menjadi Nenek dari 3 cucu. Dan akan bertambah menjadi 4." Samar-samar, Gwen dan Lukas bisa mendengar Ibu nya yang memekik senang. Sesaat setelah memastikan jika sang Ibu sudah keluar dari rumah, Gwen kembali mengalihkan tatapannya kepada Lukas. "Terima kasih." ucap Gwen "Untuk?" "Untuk tidak menunjukan tatapan yang biasanya kau tunjukan padaku dari Ibu ku." jelas nya Lukas kembali mengatupkan bibirnya. Dia menatap lurus Gwen dan membuat perempuan yang sudah menjadi Ibu nya itu merasa sedikit bingung. Gwen berdeham kecil dan tersenyum, "Lukas, aku ingin memintamu untuk jujur. Kenapa kau mengikutiku?" "Untuk memastikan jika kau tidak bertemu dengan laki-laki selain Theodoric." jawab Lukas enteng. Dia menyunggingkan senyuman miring nya, "hanya sekedar berjaga-jaga. Siapa tahu kau bermain api?" Mendengar hal itu, Gwen hanya bisa terdiam. Dia bisa melihat sebuah binar penuh ketidakpercayaan yang bersarang di mata Lukas. "Lukas, sebenarnya... kau pernah di khianati separah apa hingga sebegitu tak percaya nya padaku?" tanya Gwen setengah bergumam "Cukup banyak dan cukup parah. Setidaknya sampai hampir membuatku tidak menyukai semua perempuan dewasa seperti mu." Gwen menghela nafasnya. Dia merasa sangat bingung, namun tetap saja... entah kenapa dia tidak tega untuk mengatakan hal yang jahat kepada Lukas. "Kau pasti sangat menyayangi Papa mu, ya? Walau kau menyebut Theodoric dengan nama nya, tapi aku tahu kau sangat menyayanginya." timpal Gwen Sebelum Lukas menyangkal ucapannya, Gwen kembali menambahkan, "Buktinya, kau sampai seperti ini. Bolos dan mengekoriku seharian ini." "Apa kau menyadari keberadaanku? Karena itu kau tidak bertemu dengan pria lain, karena takut kebusukan mu terbongkar?" tanya Lukas Gwen menggelengkan kepalanya, "Aju kira kau justru tengah memiliki janji dengan orang lain. Karena itu kebetulan kita bertemu disana. Dan satu lagi, aku tidak bertemu dengan seorang pria disana bukan karena keberadaan dirimu. Tapi karena aku memang tidak berniat bertemu siapapun selain Celestine." "Lukas, dengarkan aku... walau aku seorang model, bukan berarti aku dekat dengan banyak pria. Pria yang pertama menjalin hubungan denganku adalah Theodoric. Selain itu, kami hanya berteman biasa dan hanya bertemu saat ada pesta atau saat menjalani photoshoot. Jika kau mau, aku bisa mengajakmu dalam setiap pertemuan itu. Kau bisa menilainya sendiri" jelas Gwen tanpa menghilangkan senyumannya. Dia menatap Lukas dengan tatapan hangat, "Walau mungkin kau pernah disakiti oleh seorang wanita, bukan berarti semua wanita yang mendekatimu sama jahat nya. Tidak masalah jika kau tidak mau menerima ku sebagai orang tua mu yang baru. Tapi setidaknya... jangan memusuhiku. Kita mungkin bisa menjadi teman. Boleh?" *** Ruby mengerjapkan matanya menatap sang Ayah yang terlihat menyembunyikan kegelisahannya. Walau Ayah nya itu tidak mengatakan apapun, tapi Ruby tahu apa yang membuat Ayah nya gelisah. Berkali-kali, Theodoric terlihat melirik ke arah ponselnya. Bahkan walau tengah berkutat dengan berkas-berkas itu, sesekali Theodoric akan melirik ponsel dan Ruby yang terduduk di atas tempat tidur secara bergantian. "Papa," panggil Ruby Theodoric mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Ruby dengan seulas senyuman tipisnya. "Ya?" sahut Theodoric "Apa Papa sedang memikirkan perempuan itu?" tanya Ruby Theodoric terdiam sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya, "Papa tidak mengerti apa maksud mu." Bohong. Dia mengerti jelas apa yang sedang di tanyakan oleh Ruby. Hanya saja, dia mengingat pesan Gwen yang mengatakan padanya untuk tidak membahas apapun tentang Gwen kepada Ruby. Tapi jika Ruby sendiri yang mau membahas nya, apa Theo harus menghindar seperti yang diminta oleh Gwen? "Jangan bohong, Papa." tegur Ruby dengan suara seraknya. Dia memiringkan tubuhnya dan menatap Theodoric dengan kedua mata sayu nya, "Ruby mendengar tadi Papa menelfon nya." Merasa jika tidak ada yang bisa disembunyikan dari Ruby, Theodoric hanya bisa berdeham kecil. Dia membuat catatan kecil dalam ingatannya. Untuk tidak menelfon Gwen di hadapan Ruby. Padahal sebelumnya pria itu mengira jika Ruby tengah tertidur sangat nyenyak dan tidak akan mendengar apa yang dikatakan nya kepada Gwen. "Apa Papa sebegitu khawatirnya kepada dia?" tanya Ruby lagi Pria itu menghela nafas nya. Dia menyimpan berkas yang tadi sedang di pelajarinya dan beranjak mendekat ke sisi Ruby. Tangan besarnya mengusap puncuk kepala Ruby dengan lembut. "Papa minta maaf jika Papa mencemaskannya. Tapi dia sedang hamil dan sendirian. Walau di rumah ini juga Gwen terhitung lebih sering sendiri, tapi disini ada banyak pelayan yang siap menjaga nya. Papa tidak tahu dengan pasti keadaan disana bagaimana. Walau tentu saja, seharusnya aman karena Gwen berada di rumah kedua orang tua nya." sahut Theodoric. Dia termenung selama beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya, "tapi Papa tetap merasa cemas. Mungkin ini insting seorang suami dan juga seorang Ayah." "Apa Papa juga mencemaskanku?" tanya Ruby pelan Theodoric mengangguk, "Tentu. Papa mencemaskan kalian setiap harinya." "Tapi Papa bahkan tidak pernah menyapaku." lirih Ruby "Maaf... Papa hanya merasa sedikit bingung dan juga canggung." Hening setelahnya. Theodoric hanya bisa terdiam sambil mengusap lembut rambut panjang Ruby. Dia menunduk dan menatap sang anak yang terbaring di dekatnya dengan tatapan hangat. Sejak kapan anak ketiga nya jadi sebesar ini? Seingatnya, Ruby belum sebesar ini. Theo masih ingat bagaimana dia dulu mendekap Ruby setiap malam, membuatkan s**u untuk anak itu, dan baru bisa tertidur setelah Ruby berhenti menangis. Benar juga. Sejak kapan bayi yang dulu di dekapnya itu menjadi sebesar ini? "Papa," Lamunan Theodoric terhempas saat mendengar suara Ruby yang memanggilnya dengan lirih. "Hmm?" balas Theo "Apa Papa mencintainya?" Cinta. Sebuah perasaan yang hampir dilupakan oleh Theodoric selama belasan tahun ini. Dia lupa kapan terakhir kali dia merasakan hal semacam itu. Belakangan ini, dia merasa lebih hidup daripada biasanya. Akhir-akhir ini juga, Theo selalu dihinggapi oleh sensasi asing yang membuatnya merasa jauh lebih senang dari pada sebelumnya. Dia memiliki sesuatu yang bisa dicemaskan selain ketiga anaknya. Dan saat melihat tubuh ramping yang memasak di dapur, bercengkrama dengannya dan memasakkan sesuatu yang dia sukai... entah kenapa Theodoric merasa hatinya menghangat. Entah terbawa suasana karena dapur yang sebelumnya hanya digunakan oleh Bibi dapur itu terlihat lebih hidup atau justru karena hal lain. Yang jelas, Theo merasa sangat senang saat melihat raut yang ditunjukan Gwen saat memasakkan sesuatu untuk dirinya dan anak-anak nya. Dia juga merasa tersentuh oleh Gwen yang selalu bersembunyi di tempat lain dan memberikan waktu untuk dirinya sarapan bersama anak-anak. Setelah memikirkan semua itu, Theo tertegun. Ekspresi yang ditunjukkan oleh Ayah nya, membuat Ruby menyunggingkan senyuman tipis. "Papa mencintainya ya?" terka nya "Papa, jujur saja... Ruby takut. Takut jika Papa akan melupakan kehadiran Ruby setelah Papa memiliki perempuan itu dan adik bayi nya." "Tapi... kalau Papa berjanji akan tetap membagi rata perhatian Papa, Ruby merasa jauh lebih baik. Tolong jemput perempuan itu, Papa. Minta dia untuk kembali." "Ruby tidak apa-apa. Asal Papa mencintai dan menerima cinta dari perempuan itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN