Apa Theodoric langsung melakukan apa yang Ruby katakan?
Tidak.
Bukannya dia curiga dengan kebaikan hati Ruby yang tiba-tiba. Tapi dia hanya takut Ruby terpaksa mengatakan hal itu karena melihat dirinya gelisah.
"Apa yang Papa tunggu?" tanya Ruby yang membuat lamunan Theodoric terhenti seketika
"Ruby, jangan merasa terpaksa mengatakan itu. Gwen sendiri sudah memperingatkan ku untuk tidak memaksamu langsung menerima Gwen. Dia bilang, dia tidak apa-apa menjauh sementara dari sini." ucap Theo
"Tidak. Ruby tidak merasa terpaksa, Papa. Jika memang keberadaan nya di rumah ini membuat Papa merasa jauh lebih tenang, jemput saja dia untuk pulang kesini. Ruby juga... mungkin akan berusaha menerima nya sebagai istri Papa dan juga... M-mama ku. Jangan khawatir." sangkal Ruby dengan seulas senyuman tipisnya
Theodoric tersenyum dan mengusap rambut Ruby.
"Nanti Papa akan membicarakan hal ini dengan Gwen. Aku yakin dia pasti langsung mengira jika aku memaksamu mengatakan hal ini." gumam pria itu
"Papa, di mata Papa sendiri... dia itu orang yang seperti apa?" tanya Ruby
"Gwen?" sahut Theo memastikan. Saat melihat anggukan dari Ruby, pria itu berdeham dan mulai memilah kata yang bisa digunakan untuk mengekspresikan Gwen kepada Ruby.
"Gwen itu... sedikit ceroboh. Tapi dia baik dan perhatian. Dia selalu memberikan hal-hal yang tidak pernah Papa dapatkan atau melakukan kegiatan Papa lakukan sebelumnya." ujar Theodoric. Bayang-bayang Gwen yang mengantuk saat menunggu nya pulang kerja kembali hinggap diingatan pria itu.
"Tapi jujur saja, Papa menyukai semua perhatian yang ditunjukan Gwen kepada semua orang yang ada di rumah ini. Semua pelayan bilang jika Gwen adalah sosok yang penuh kelembutan dan tidak segan untuk membaur dengan para pelayan." lanjutnya
Di atas tempat tidurnya, Ruby hanya bisa tersenyum tipis saat mendengar semua yang diceritakan oleh Ayah nya. Selama ini dia terlalu sibuk di sekolah dan bimbel. Dia tidak terlalu mengamati bagaimana Ibu tiri nya itu dekat dengan para pelayan atau mengerjakan pekerjaan rumah yang seperti Ibu rumahan lainnya lakukan.
Dan saat dirinya pulang, entah kenapa dia justru melihat Gwen sebagai penjahat.
"Dan untuk perasaan yang kau tanyakan tadi pada Papa... Jujur saja Papa bingung harus bagaimana menjawab nya. Papa menyukai semua yang ada pada Gwen, sikapnya, perhatiannya, dan sikap pantang menyerah yang dimiliki nya. Tapi disaat yang sama, Papa juga tidak tahu apakah ini perasaan cinta atau hanya sekedar rasa kagum."
Theodoric terdiam sejenak. Dalam hati, dia merutuki sikap sok puitis miliknya yang ditampilkan di hadapan Ruby. Terlihat anak ketiga nya itu memberikan tatapan bertanya sesaat setelah dirinya mengatakan hal semacam itu.
"Papa keluar sebentar, ya?"
Tanpa menunggu jawaban apapun dari Ruby, Theodoric segera berjalan cepat keluar kamar. Dia harus menjernihkan pikirannya yang sudah didominasi oleh semua sikap hangat Gwen kepadanya selama ini.
Sementara itu di dalam kamar, kedua tatapan Ruby berubah sendu. Dia memejamkan kedua matanya dan mengulas senyuman tipis.
"Papa bodoh sekali. Sudah jelas dia menyukai istri baru nya itu. Tapi masih sok menyangkal. Atau jangan-jangan Paoa lupa nagaimana rasanya jatuh cinta karena sudah terlalu lama sendirian, ya?" gumamnya pelan. Ruby kemudian membuka kedua matanya dan menunduk menatap kedua tangannya yang saling bertaut di atas selimut.
"Apa aku benar-benar akan memiliki sosok Mama yang aku inginkan? Yang bisa menjadi teman curhat, yang memperhatikanku dan yang bisa menjadi tempatku pulang selain Papa?"
***
Gwen mengerutkan dahinya saat mendengar ponselnya berdering nyaring. Kedua mata nya melebar melihat nama Theodoric terpampang disana.
"Apa Theo curiga jika Lukas bolos sekolah?" gumamnya
Tak ingin larut dalam dugaan tak berdasarnya, Gwen segera mengangkat telfon dari Theodoric dan berdeham.
"Selamat malam, Gwen."
"Malam, Theo. Semua nya baik-baik saja, kan?" sapa Gwen
"Yah... semua nya baik-baik saja."
"Gwen, besok kau bisa pulang ke rumah kan?"
Kerutan di dahi Gwen semakin terlihat, perempuan itu bingung dengan nada suara Theo yang terdengar ragu-ragu. Berbeda dengan biasanya.
"Sesuai janjiku pada Ruby, aku akan pulang setelah dia sembuh dan beraktifitas normal. Apa dia benar-benar sudah sembuh? Karena itu kau memintaku untuk pulang?" tanya Gwen
"Justru Ruby sendiri yang memintaku untuk menjemputmu pulang, Gwen." timpal Theo
"H-ha?" beo Gwen. Dia berdeham dan mengusap pelan telinga nya, "tunggu, Theo. Sepertinya telingaku bermasalah dan membuatku salah mendengar ucapanmu."
"Tidak, Gwen. Aku serius. Ruby memintamu untuk pulang."
Lalu mengalirlah cerita dari mulut Theo. Pria itu menceritakan apa yang Ruby katakan kepadanya hari ini. Tentu saja Theo tidak mengatakan tentang Ruby yang menanyakan perasaan nya kepada Gwen.
"Dia bahkan mulai mencaritahu tentang mu." tambah Theo sebagai bagian akhir dari cerita nya
Gwen tidak bisa menahan diri nya untuk tidak terkejut-dan juga bingung.
"Theo... kau tidak mendoktrin Ruby dengan hal aneh kan? Kau sudah memastikan jika Ruby tidak sedang meracau setengah tidur saat berbicara denganmu, kan?" tanya Gwen setelah dia berhasil sadar dari keterkejutannya. Perempuan itu berdeham kecil, "Ingat, jangan memaksanya, Theo."
"Aku bersumpah, aku tidak memaksakan apapun kepada Ruby, Gwen. Aku mengikuti perintah dan permintaanmu dengan baik." balas Theo
Hening sejenak.
Gwen mendadak di dera perasaan bimbang. Seharusnya dia senang, tentu saja. Tapi Gwen takut Ruby memintanya pulang karena terpaksa. Apalagi dia mengingat bagaimana ekspresi wajah senang Ruby saat dirinya mengatakan akan keluar sementara dari rumah itu.
Dengan ekspresi sesenang itu, bukannya agak aneh saat dirinya yang baru sehari meninggalkan rumah, tapi sudah diminta untuk kembali?
"Jadi... bagaimana? Kau mau pulang? Kalau iya, besok pagi aku akan menjemputmu."
Gwen menggigit bagian dalam bibirnya, menyalurkan rasa bimbang nya melalui gigitan itu. Sesaat kemudian, perempuan itu menghela nafasnya dalam diam dan tersenyum untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Baiklah. Kalau Ruby tidak keberatan, aku akan pulang besok." jawabnya
"Okay. Aku akan menjemputmu besok pagi kalau begitu. Lagipula... bukannya beberapa hari lagi kita harus ke rumah sakit dan periksa kandungan?"
"Kau mengingatnya?" tanya Gwen terkejut
"Tentu. Aku sudah menandai kalender sejak pertama kali kau mengatakan soal pemeriksaan itu."
Kali ini Gwen tidak bisa menahan perasaan senang nya. Dia kira Theo melupakan soal pemeriksaan itu. Apalagi Ruby sedang tidak sehat, kan?
Tapi ternyata pria itu mengingatnya dengan baik. Gwen merasa sangat diperhatikan.
"Eum, jangan lupa makan malam dan minun s**u mu, Gwen. Jangan tidur larut malam juga. Good night." ucap Theo
"Ahh, tentu. Kau juga, Theo "
Lalu sambungan telfon itu pun berakhir begitu saja. Tapi meskipun begitu, perasaan senang yang membuncah di hati Gwen tidak ikut berakhir seperti sambungan telfon itu.
"Gwen, dear!" panggil sang Ibu dari luar kamar
Gwen segera menyimpan ponselnya ke atas meja dan berlari kecil keluar kamar. Dia tersenyum sumringah menatap sang Ibu yang terlihat kebingungan dengan tingkah anaknya.
"Kenapa senyum senyum seperti itu? Ayo makan malam. Ayah dan Ibu sudah menunggumu sejak tadi. Tapi kau tidak turun juga." ajak Ibu nya
Gwen tertawa kecil dan mengangguk, dia merangkul lengan sang Ibu dan menyenderkan kepala di bahu wanita yang melahirkan nya itu.
"Astaga Gwen, kau masih manja sekali. Kalau melihat tingkahmu saat ini, Ayah benar-benar bisa melupakan fakta jika kau sudah menikah." ucap Ayah nya yang melihat bagaimana tingkah Gwen saat ini
"Jangan iri, Ayah. Besok Gwen juga pulang ke rumah Theo. Jadi Ibu bisa memanjakan Ayah lagi." ledek Gwen sambil tertawa puas melihat ekspresi sebal Ayah nya
Dia duduk di meja makan dan bersiap untuk makan malam.
"Apa? Besok? Kau sudah mau pulang?" pekik Ibu
"Iya. Theo menghubungiku tadi. Katanya Ruby sudah sembuh. Jadi aku bisa pulang." sahut Gwen
"Hanya satu hari. Tapi Ayah lihat banyaknya pakaian yang kau bawa sepertinya bisa untuk satu minggu." cetus Ayah nya yang langsung disahuti tawa oleh Ibu
"Tidak ada salahnya berjaga-jaga, Ayah." sahut Gwen
Makan malam pun dimulai. Gwen memakan semua masakan yang dibuat oleh Ibu nya dengan lahap. Sesekali pipi nya akan terlihat menggembung kecil saat melahap makan malam nya.
"Ayah dengar dari Ibu mu, tadi anak Theodoric kesini."
Gwen mengangguk, "Iya. Katanya Lukas diminta Theo untuk melihat keadaanku." jawabnya berbohong
"Lukas benar-benar tampan, Ayah. Sangat mirip dengan Theodoric. Bahkan mungkin sepertinya, itu wajah Theodoric saat muda." timpal Ibu nya
"Lain kali, ajak ketiga anak Theodoric untuk datang kemari, Gwen. Kami juga ingin melihat wujud cucu-cucu kami." pinta wanita paruh baya itu
Yang membuat Gwen meringis dalam hati dan bertanya-tanya apakah dia bisa mewujudkan permintaan sang Ibu?