Bab 62

1370 Kata

“Please, Pak! Lepasin … gak lihat apa kerudung saya sudah seperti apa bentukannya?” rengekku di antar kembang kempis napas ini. “Enggak,” tukasnya seraya menopang kepalanya dengan satu tangan dan miring menghadap ke arahku. Tangan lainnya masih melingkar di perut ini. Aku menelan saliva berulang, lalu membuang muka. Hawa panas menjalar ke mana-mana. “Pak, jangan iseng, ih. Lepas dulu … kerudung saya berantakan.” Aku mencoba melepas tangannya. Namun pelukannya begitu erat, susah aku mengusir tangan yang melingkar ini. “Ini tuh bukan iseng, Ra.” Dia mencubit ujung hidungku. “Lah segini usilnya kok gak mau dibilang iseng.” Aku menepis tangannya. Namun dia malah terkekeh dan mencubit ujung hidungku lagi. “Sudah dibilang itu tuh masih belum masuk tingkat keisengan saya, Ra. Kamu mau

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN