“Pram! Sarapan!” Kudengar Om Agi berbicara. Namun Mas Suami hanya menggumam. Timer dari alat pemanggang sudah berhenti. Kini giliran mengangkat roti kedua yang dibakar. Bakar saja bakar, biar hangus sekalian seperti rasa cemburu yang datang dan memporak porandakan segalanya. “Kopi saya sudah dibuatin, Ra?” Kudengar dia membuka suara. Aku menghela napas kasar. Namun, Ibu bilang kan sama suami itu harus taat. Ya walau lagi kesal juga tetap saja aku harus bergegas membuatkan kopi. Dia duduk di samping Om Agi. Gak enak lah kalau buat kopinya cuma satu, harusnya dua. Namun beruntung Bi Sari seolah paham. Dia yang tengah menata roti bakar ke tas piring, gegas mengambil alih gelas untuk Om Agi. Kopi sudah selesai dibuat. Aku lebih memilih duduk bareng Hani. Mamer datang dan bergabung ju

