Dia menoleh padaku setelah mematikan gawainya. Lalu wajah sumringah itu mengecup pipi Hani dan pipiku bergantian. Gak ada tampak terkejut atau rasa bersalah terlintas di wajah dia. Baiklah, aku pura-pura gak tahu saja kalau dia janjian dengan seorang perempuan. Siang ini kita sama-sama di kantor juga, jadi … aku bisa mengawasinya. “Putrinya Ayah cantik banget, sudah mandi ya … pinteeeer.” “Iya, Yayah. Nda buat aku cantik.” “Oh gitu, ya? Hani seneng ada Nda? “Seneeeeeeng, tapi sedikit gak senang kalau malam saja.” “Kenapa gitu?” Mas Suami menatap Hani dengan kedua alis saling bertaut. “Hani gak seneng karena Nda tidurnya sebentar doang sama Hani. Kalau malam Hani bangun gak ada Nda lagi.” Sontak aku dan Mas Suami saling melempar pandang. Rupanya dia sadar kalau setelah dia le

