BAB 9

1068 Kata
            Leo mengiris daging panggang dengan rasa barbeque yang asapnya masih menguar. Dia tidak tahan untuk tidak segera memasukkan daging panggang itu ke dalam mulutnya. “Aku hanya heran saja kenapa kau tidak membersihkan ruangan atas itu.” Sebuah pernyataan meluncur. Alena masih sibuk dengan gelas yang diisi teh, gula dan air hangat.             “Aku hanya tidak ingin mengunjungi lantai atas. Banyak kenangan yang membuatku—“ Alena terdiam, menatap kosong jendela dapur.             “Tidak usah cerita kalau kau tidak siap. Aku akan selalu siap mendengarkan ceritamu sampai puluhan tahun lagi. Itu kalau aku masih hidup.”             Entah kenapa perkataan Leo menciptakan senyum di wajah Alena. “Kau bisa memprediksi kematianmu?” candanya.             “Tidak. Terkadang manusia itu sombong kalau dia bisa hidup sampai puluhan tahun lalu. Padahal siapa yang tahu, Tuhan sang pemegang jiwa bisa mengambil nyawa manusia kapanpun.” omelnya seraya melahap daging panggang.             Alena duduk dan mengiris daging panggang untuknya.             “Kau bisa bermain piano.”                                                                Alena menggeleng.             “Bohong!” sembur Leo. “Kau pasti bisa.”             “Aku sudah lama tidak pernah bermain piano.”             “Alena itu mobil siapa?!” suara meledak Perry yang mendekat membuat Leo tersedak.             Kedua daun bibirnya terbuka dan matanya membulat sempurna ketika mendapati Leon yang duduk di meja makan bersama Alena dengan bertelanjang d**a.             “Ya Tuhan...” Perry lemas seketika.             “Perry, ini Leo—“                                              “Dia kekasihmu?!” Perry mendekati Alena. “Kau sudah punya kekasih?” dia menatap Alena dan Leo secara bergantian. Leon tampak bingung. “Lena, aku tidak tahu bahwa kau sekarang sudah memiliki kekasih dan pria itu menginap di sini ya. Ya Tuhan, aku sok dan agak takut. Entah kenapa aku tidak tahu aku hanya merasa aneh dan ganjil.” Perry terus mengoceh, mengeluarkan semua pemikirannya.             “Lena, kau pasti sudah tidak perawan lagi.”             Alena merasa lehernya dicekik. Dia menatap Leo yang balik menatapnya dengan terheran-heran. ***             “Oh... seperti itu ceritanya.” Komentar Perry setelah Alena menceritakan semuanya dengan menggebu-gebu karena Perry suka mengambil kesimpulan sendiri tanpa mengetahui jalan ceritanya sebenarnya.             Alena mendekatkan bibirnya di telinga Perry. “Tolong jangan bahas soal keperawanku di depan Leo.” Bisiknya pada Perry. Perry mengangguk cepat.             “Kau pasti penyuka film-film disney ya?” terka Leo.             Perry tersipu malu. “Kau tahu?”                        “Ya, aku sedikit bisa meramal. Hanya sedikit. Maksudku, aku bisa membaca apa yang disukai dan dibenci seseorang. Begitu, hehe.” Leo nyengir.             “Kau tahu aku membenci apa?”             “Kau membenci tikus dan kelelawar. Kau benci dua hewan itu.”             Perry terbahak. “Kau benar, Leo.”             Mata Perry tertuju pada Alena. “Dan bagaimana dengan dia?” Perry menunjuk Alena dengan lirikan matanya.             “Aku tidak mau diramal.” tolak Alena.             “Aku tidak bisa meramalnya.”             “Kenapa?” tanya Perry antusias.             “Terlalu susah. Mungkin besok-besok aku bisa membaca banyak hal darinya.”             Perry tampak kecewa. Alena hanya diam dengan ekspresi datar meski di kedalaman hatinya dia senang karena Leo tidak bisa menelusuri apa pun darinya. Entah pria itu benar-benar bisa meramal atau hanya omong kosong belaka.             Selesai makan, bala bantuan dari kota datang untuk menggandeng mobil Leo. Leo yang sudah mengenakan kaos polos milik almarhum ayah Alena, menatap Alena dan mengucapkan terima kasih dengan gaya khasnya yang ceria sekaligus memesona.             “Kau kapan akan main ke sini lagi, Leo?” tanya Perry yang sudah akrab dengan pria asing berwajah campuran Eropa dan Timur Tengah ini.             “Kalau aku tidak ada urusan, aku pasti akan datang ke sini lagi. Oh—“ Leo menunjuk kebun anggur. Tepat saat itu ada Ranne dan Kris dan si Mandy yang entah bagaimana selalu mengikuti Ranne. “Itu kebun anggur?” Leo bertanya pada Alena.             Beberapa saat Alena dan Ranne bersitatap. Tatapan Ranne yang tidak terlalu disukai Alena membuat Alena cepat-cepat mengalihkan wajahnya.             “Iya,” jawab perry yang merasa Alena tidak mendengarkan pertanyaan Leo.             “Oke, aku pulang semuanya. Bye!” Leo memandang Fle yang menatapnya dengan tatapan angker. “Bye, Fle!” ujarnya pada kucing hitam itu. Si kucing hanya diam sembari terus mengawasi Leo. ekornya terus bergoyang-goyang sampai Leo lenyap dari kedua matanya.             Saat Leo pergi, Ranne, Kris dan Mandy masih menatap mereka. Alena menatap sekilas sebelum masuk ke rumahnya di susul Fle. Perry melambaikan tangan pada Ranne dengan wajah cerah. Ranne tersenyum seadanya.             “Aneh sekali! Bagaimana bisa kau mengizinkan Leo menginap di rumahmu? Kenal saja tidak. Kenapa sih, ada apa? Ini bukan kau deh, kau tidak seperti ini dalam menyikapi orang asing apalagi seorang pria asing yang tampan.” Perry mengoceh saat Alena membereskan piring-piring di atas meja makan dan berniat mencucinya.             Perry mengekor Alena di wastafel untuk mencuci piring. “Kau bisa-bisanya ya?” tanya Perry heran pada sahabatnya itu. “Bisa-bisanya mengizinkan pria asing menginap di rumahmu. Aneh, sungguh aneh!”             “Aku juga tidak tahu.” Alena mengangkat bahu. “Semacam—“             “Semacam ketertarikan?” Perry tak sabar memotong kalimat Alena.             “Iya—entahlah, aku tidak mengerti.”             “Kau tertarik padanya? Pada seorang pria asing itu?” Perry mengoceh dengan mata melebar-lebar menatap Alena.             “Kau tidak tertarik pada Ranne? Dia memiliki—“             “Perry,” protes Alena.             “Mulutku memang nakal Alena.” kata Perry menyesal. ***             Di kebun anggur, wajah Ranne tampak mengkerut muram. Dia menanyakan soal pria yang baru saja pergi dari rumah Alena pada Kris dan Kris menjawab hanya dengan mengangkat bahu dan menggeleng-gelengkan kepala.             Jawaban Mandy bahkan frontal dengan nada bicara yang memanas-manasi. “Sepertinya pria itu dibayar Alena untuk mengencaninya semalam. Sepertinya begitu—kupikir. Alena itu kan wanita kesepian. Dia pasti butuh sentuhan dari laki-laki. Dan yang pasti dia bukan tipe wanita yang setia. Aku pernah melihatnya membawa seorang pria agak tua ke rumahnya dan aku yakin mereka tidur bersama. Oh, pria itu lumayan tampan dan dia sering datang ke rumah Alena.” mungkin pria yang dimaksud Mandy adalah Tom. Tentu saja Tom dan pasti itu Tom. Mandy tahu tentang Tom sebagai pengacara Alena. Dia berbohong demi memuluskan jalannya mendapatkan Ranne.             Ranne hanya menatap tanpa menginterupsi perkataan kotor gadis itu. Dia yakin Alena tidak seperti yang dibicarakan Mandy. Jelas ada keirian pada sepupu Kris itu. Alena bagi Ranne adalah apa yang dilihatnya. Indah, elegan, misterius dan memesona. Dan Ranne sempat memikirkan ulang perkataan Mandy tentang Alena, ‘butuh sentuhan laki-laki’. Oke, kalau Alena tipe wanita seperti itu tentu saja ketika Ranne datang padanya dia tidak akan bersikap dingin atau bahkan menolaknya. Ranne tentu paham jenis wanita bagaimana yang dibicarakan Mandy. Lagian, mobil pria itu sebelum pergi digandeng oleh mobil yang lebih besar. Jadi kecil kemungkinan apa yang dikatakan Mandy itu benar bahwa Alena mengencani pria itu semalam. Bahkan tidak mungkin. Bisa saja dia saudara Alena.             “Aku yakin mereka berada di atas ranjang Alena semalam.” Mandy berkata lagi dengan asumsinya sendiri yang jelas untuk membuat ketertarikan Ranne pada Alena berkurang dan sialnya dia tidak berhasil.             “Kau bisa diam.” Itu kalimat perintah yang diluncurkan kedua daun bibir Ranne dengan dingin. Dia heran kenapa wanita ini sering sekali ke kebunnya padahal yang kerja adalah sepupunya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN