Perry menatap layar laptopnya. Memantau surelnya untuk mengecek apakah ada salah satu orang kaya yang dikenalnya untuk setuju membeli keperawanan Alena. Dan kosong. Tidak ada surel masuk. Dia sengaja mengirim surel ke orang-orang kaya yang memiliki reputasi baik yang dikenalnya. Perry ingin Alena mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia tahu Alena melakukan ini bukan hanya soal misi sosialnya. Ada hal lain. Perry menyipitkan matanya. Dia mencoba berpikir keras. Ada apa dengan Alena?
“Ya Tuhan, andai saja aku punya saudara pria yang kaya raya, aku akan menawarkan keperawanan Alena. Aku tidak ingin pria berengsek menikmati keperawanan sahabatku.” Lalu pikiran Perry tertuju pada Ranne. Dia menempelkan ujung pensil di dagunya. “Apa itu ide buruk?” Perry menggeleng. “Jangan beritahu Ranne. Pria itu tertarik pada Alena tentu saja dia akan membeli keperawanan Alena kalau dia pria yang kaya. Masalahnya—aku tidak ingin merusak nama Alena.”
Dengan wajah bimbang Perry terus berpikir keras.
***
Hujan deras mengguyur rumah Alena. Hujan yang disertai petir yang mengerikan. Alena menepuk-nepuk kedua tangannya yang berdebu setelah menempelkan meja dan kursi kayu yang tidak dipakai di pintu belakang rumahnya.
“Seharusnya aku berterima kasih pada Evans karena dia sudah mengingatkan aku tentang pintu belakang rumah ini.” Alena menoleh pada Fle yang setia menemaninya. Fle mengeong.
“Ayo, Fle, kita nonton film favoritmu.” Alena berjalan menuju ruang favoritnya—ruang tamu yang juga dijadikan ruang bersantainya. Fle menyusul Alena.
Suara debuman pintu depan rumah membuat Alena begidik ngeri. Hujan masih turun dengan derasnya. Dia menatap Fle dengan perasaan takut dan khawatir. Fle balik menatap Alena dengan arti tatapan yang sama. Jelas seseorang mengetuk-ngetuk pintu. Ketukan yang mendesak. Alena bimbang, apakah dia perlu membuka pintu atau menelpon polisi.
Selama tinggal di rumah sendirian, inilah yang Alena takutkan. Orang asing yang datang ke rumah saat malam. Alena mempompa keberaniannya. Dia melangkah, Fle setia mengikutinya. Kalau orang di depan pintu rumahnya berniat jahat, Fle bisa menyerang dan menggigit orang. Meskipun gigitan kucing tidak sekuat dan seanarki anjing tapi Fle bisa diandalkan.
Alena membuka pintu perlahan. Dia sudah menyiapkan kuda-kuda dengan membawa sebuah carter di sebelah tangannya yang disembunyikan di punggung.
Pintu terbuka dan seorang pria asing berdiri di depan pintu. Dia pria asing. Bukan Ranne.
***
Apa yang akan kau lakukan jika ada seorang pria berwajah khas campuran Eropa dan timur tengah datang di malam hujan petir dan masuk ke rumah karena ingin ke toilet? Alena nyaris tak percaya bahwa pria yang meminta izin masuk ke toiletnya sekarang sedang duduk di sofa abu-abu tuanya dengan teh manis hangat dan roti. Pria ini seperti berasal dari dimensi lain. Dimensi Rapunzel? Sekilas wajahnya mirip seorang boy band yang sudah bubar.
Fle terus mengawasi pria itu di atas lantai dengan ekor yang terus bergerak-gerak. Matanya menatap tajam pria asing itu. Alena bergerak-gerak tak nyaman di samping pria berhidung menakjubkan itu.
“Aku sangat bersyukur menemukan sebuah rumah di sini. Mobilku mogok parah dan aku sendirian di tengah derasnya hujan petir sialan.” Dia berceloteh dengan ekspresif. “Ini teh paling manis dan roti paling enak. Aku tidak bohong.” Alena menyadari kekuatan pria itu selain hidung yang menakjubkan, matanya indah. Bukan indah tapi cantik. Bulu matanya lentik seperti mata James Arthur.
Tatapan pria itu mengarah pada Fle yang menatapnya dengan waspada. “Kucingmu lucu juga ya.” Dia menoleh pada Alena. “Tapi tatapannya benar-benar menakutkan. Bisakah kau menyuruhnya untuk tidak menatapku seperti itu?” Dia meminta pada Alena dengan tatapan yang seakan Fle adalah harimau yang ingin menerkamnya tapi tidak jadi.
“Dia memang selalu begitu pada orang asing.” jawab Alena sedikit ramah. Alena bertanya dalam hati kenapa suaranya tidak sedingin seperti biasanya. Bahkan dia mengizinkan pria berwajah manis ini di dalam rumahnya. Meminta dibuatkan teh dan meminta roti. Tamu asing yang absurd, mengenalnya pun tidak. Apakah dia memang berasal dari dunia antah berantah.
“Kau, siapa namamu?” dia bertanya menatap Alena dengan enteng seakan-akan bertanya ‘siapa pacarmu?’ kepada temannya sendiri.
“Alena.”
“Aku Leo.” Dia mengulurkan tangan. Alena menatap wajah manis itu. Wajah keceriaan. Dia melihat bahwa pria ini memang pria yang ceria dan tidak ambil pusing dalam hidup. Dan anehnya, dia malah menjabat uluran tangan Leo. Aneh! Dia tak pernah berniat mau berkenalan dengan siapa pun dan Alena cenderung bersikap cuek pada orang termasuk Ranne. Tapi kenapa pada pria ini sikapnya berbeda.
“Kau suka baca buku Harry Potter?” pertanyaan itu meluncur dengan riang.
“Ya,” sahut Alena.
“Kau mirip Ibu Harry Potter. Lilly Potter.”
Dahi Alena mengernyit. Leo tertawa.
“Wajahmu itu seperti perpaduan antara Nicole Kidman dan Scarlett Johansson.” Lalu tatapan Leo dari mata Alena turun ke bibirnya. “Bibirmu unik.”
Menyadari tatapan Alena berubah tajam, Leo cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan. “Oke, biar kutebak kau pasti pengaggum Shakespare kan?”
Alena menggeleng. “Aku pernah membaca ceritanya tapi—“
“Ya, aku salah. Kukira kau menyukai Shakespare karena wajahmu benar-benar wujud nyata dari keromantisan.”
“Aku tidak suka keromantisan.”
“Sungguh?” mata Leo membulat seketika.
“Lebih baik kau pulang. Hujan sudah reda.” Dia menatap jendela. Hujan memang sudah reda dan petir hanya sesekali.
“Nona, aku tidak bisa pulang. Mobilku mogok di depan rumahmu. Dan jarak ke rumahku itu lumayan jauh, lho. Bolehkah aku menginap di sini? Semalam saja. Sungguh. Besok aku akan menelpon orang rumah untuk menggandeng mobilku.” Leo berkata dengan wajah berbagai ekspresi sehingga sulit bagi Alena menentukan apakah pria ini bercanda atau serius.
Alena menggeleng. “Aku tidak bisa.”
“Kenapa? Aku bukan orang jahat, sumpah demi bintang-bintang yang tidak muncul malam ini.” Sebelah tangan pria itu terangkat ke atas membentuk huruf V. “Aku juga tidak berani menyentuh wanita yang tidak kukenal—tapi, hei, aku sudah mengenalmu.” Leo tertawa.
“Oke, aku bercanda, A-l-e-n-a.” Dia mengeja nama Alena.
Pria ini cukup aneh. Bagi Alena dia cukup lucu meskipun tidak sepenuhnya Alena mau menerima pria ini di rumahnya. Tapi, apakah dia akan tega membiarkan pria itu bermalam di dalam mobilnya?
“Baiklah, ikuti aku.” Leo menyusul Alena ke kamar tamu yang dekat dengan dapur. Kamar itu dulunya dipakai untuk tamu-tamu ayahnya yang datang dari kota.
“Aku sudah lama tidak membersihkannya.” pandangan Alena menelusuri setiap sudut kamar berwarna hijau tosca kelabu itu. Ada kelambu warna putih di atas ranjang yang menguning di makan usia. Sebuah lemari kecil dari kayu jati di samping ranjang.
Alena meninggalkan Leo yang menatap antara setuju dan tidak setuju untuk tidur di kamar yang tampak horor dan suram ini.
***
Leo merasa geli saat tubuhnya ditindihi bulu-bulu halus yang aneh. Dia menggeliat, mencoba menyingkirkan tubuh mungil yang cukup berat di atas tubuhnya. Dia mengerang sebal dan matanya terbuka saat menyadari ada bau aneh.
“Ahhhh!” pekiknya menyingkirkan Fle yang sedari tadi berusaha membangunkannya.
“Apa-apaan kau, kucing hitam menakutkan?” omelnya seraya meraih guling dan memeluknya.
Fle yang kesal karena dilempar, mengaung. Menyerang Leo. Leo kewalahan terhadap serangan Fle yang membabi buta dan dia berlari.
“Alena tolong! Kucingmu menyerangku!” dia berlari menaiki tangga ke lantai atas. Lantai yang jarang sekali di datangi Alena.
Leo yang panik membuka sebuah pintu di lantai atas. Matanya melebar takjub. Ketakutannya pada Fle yang mengamuk lenyap. Dia lebih tertarik masuk ke ruangan ini. Fle yang kemarahannya mereda mengikuti Leo.
Leo membuka kain putih yang menutupi sebuah piano klasik. Dia membuka semua kain putih yang menutupi patung wanita yang mengenakan dress, patung anak kecil dengan biola di atas bahunya, patung pria berkumis yang mengenakan jas. Semua benda-benda kuno ini ditutupi kain putih. Fle agak ketakutan saat Leo membuka semua kain putih yang dijadikan kain penutup karena dia tidak pernah masuk ke ruangan atas ini. Alena juga tidak pernah ke sini.
Alena tidak pernah membuka ruangan ini. Dia jarang sekali naik ke lantai atas. Seakan rumahnya hanya memiliki lantai satu.
Leo begidik. Rumah ini horor. Dan wanita itu hanya tinggal dengan seekor kucing yang baru saja beberapa menit lalu menyerangnya. Leo memperhatikan dengan seksama semua patung, piano klasik dan beberapa boneka ukuran besar yang juga ditutupi kain putih. Dia membuka gorden yang bau apak dan berdebu.
Leo tidak menyudutkan Alena atas kekotoran rumah ini, wanita itu pasti punya alasan kenapa dia memilih untuk tidak membersihkan ruangan yang disebut Leo sebagai gudang horor.
Pria itu tidak tahan untuk tidak menyentuh tuts piano yang penuh debu dengan asal.
“Apa yang kau lakukan?” Leo menoleh pada suara dingin yang mengandung kemarahan.
Alena menatap tajam Leo. Dia membawa beberapa plastik bahan makanan.
***