BAB 7

1014 Kata
            Alena tak habis pikir kenapa pria itu muncul lagi dan lagi. Alena tidak membenci Ranne tapi dirinya memang tidak bisa akrab dengan siapa pun kecuali Perry. Dan sejak kehadiran pria itu dia merasa ada yang aneh. Seperti Mandy yang mengintip dari jendela. Dan bocah laki-laki yang menendang bola di kaca jendelanya.             “Tidak mungkin ada kaitannya dengan Mandy yang pagi-pagi mengintip rumahku.” gumamnya seraya membuka laptop. Sebuah surel masuk.             Kenapa harga dirimu terlalu mahal? Aku tertarik pada iklanmu tapi aku rasa kau mematok harga tinggi yang hanya bisa dibeli kaum jet set. Wanita berengsek!             Alena menelan ludah membaca kalimat terakhir. Wanita berengsek!             Dia tersenyum sinis. Tersenyum pada kebodohannya. “Aku memang berengsek. Tapi setidaknya keberengsekanku mempunyai makna, Tuan—yang tidak mampu membeli harga diriku.”             Tidak ada yang tahu kenapa dia mematok harga tinggi untuk keperawanannya meskipun dia sudah memberitahu bahwa uang yang didapatnya itu akan disumbangkan. Tapi, lebih dari itu—menurutnya itu harga yang pantas untuk wanita yang tak pernah terjamah seperti dirinya. Toh, uang itu bukan untuk gaya hidup hedonisme. Dia hidup sederhana dan ala kadarnya. Dia tidak melakukan perawatan gila-gilaan hingga membuat wajahnya aneh. Karena dia sadar kecantikan fisik yang tidak natural hanya akan membuatnya kurang bersyukur. `           “Hai, Fle.” Alena menyapa Fle yang naik ke atas meja dan duduk di samping laptopnya. Dia menatap Alena sambil mengeong sedih.             “Kau kenapa?” tanya Alena menatap kucing itu.             “Nona,” seorang bocah laki-laki yang kemarin memecahkan kacanya muncul. Tangannya menggenggam snack milik Fle. “Bolehkah aku meminta ini. Aku kelaparan.” Dia mendekat tanpa rasa takut pada Alena.             “Astaga...”                                                                      “Kenapa, Nona?” wajahnya tampak memelas.             “Itu makanan kucing. Kau sudah memakannya.”             Anak itu menggeleng.             “Tapi aku sangat lapar. Aku melihat kucingmu sedang makan ini di dapur.”             Alena mengambil snack kucing dari tangan mungil bocah itu. “Ikut aku.” Alena berdiri dan melangkah menuju dapur disusul bocah laki-laki dan Fle.             “Duduklah,” bocah laki-laki itu duduk di kursi kayu eboni. Dia menatap jendela sekilas yang menampakkan kebun anggur yang indah milik Ranne.             Tanpa basa-basi Alena membuatkan ommelet sederhana. Dia tahu kalau orang-orang di pemukiman sebagian besar adalah orang miskin tapi dia tak pernah menyangka akan kedatangan tamu yang meminta makanan kucing.             “Siapa namamu?”             “Evans, Nona.”             “Nama orang tuamu?” dia meletakkan sepiring ommelet di atas meja. “Makanlah.”             “Nama ibuku; Jenar dan ayahku; Napa.”             “Apa pekerjaan ayahmu?” Alena duduk di hadapan Evans.             “Ayahku sudah meninggal.”             Alena merasa bersalah sudah bertanya demikian. “Ma’af, Ibumu?”             “Sudah meninggal juga.” Evans memakan ommelet dengan lahap.             “Dia benar-benar kelaparan.” Gumam Alena sedih.             “Aku seorang yatim piatu, Nona. Aku tinggal di rumah tua bersama kakakku.”             “Apa pekerjaan kakakmu?”             “Dia bekerja untuk Tuan Ranne. Di kebun anggur samping rumahmu.” Mulutnya penuh dengan ommelet.             Alena tahu rasanya menjadi yatim piatu, tapi dia tak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi yatim piatu di usia seperti Evans. Kecil dan tidak punya siapa pun kecuali kakaknya.             “Nona, apa Anda tahu kalau Tuan Ranne tinggal di pemukimanku, lho.” Anak itu bercerita dengan wajah berbinar. Alena suka bola matanya yang berwarna biru muda.             “Setiap anak gadis di sana berusaha mendekati Kris untuk bisa berkenalan dengan Tuan Ranne. Tapi Mandy selalu menghalangi mereka. Dia bilang Tuan Ranne sudah memilihnya sebagai kekasih.”             Dahi Alena mengernyit. Kekasih?             “Aku rasa Mandy berbohong.” Komentarnya. Dia tahu teman sekelasnya itu suka dan pandai berbohong.             “Kau mau minum apa?”             “Aku jarang sekali minum s**u. Bolehkan aku minum s**u, Nona.” Suara anak itu membuat Alena tersentuh. Semiskin itukah?             Alena mengangguk. Yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana bisa anak ini ada di dalam rumahnya? Dari mana dia masuk? ***             Evans duduk di sofa abu-abu tua dengan setumpuk cemilan kue kering, segelas s**u putih, dan kentang goreng. Dia makan dengan lahap seperti anak yang tidak makan selama berhari-hari. Fle duduk dengan tatapan aneh pada Evans. Alena memilih menatap layar laptopnya dengan jendela yang tidak sepenuhnya utuh karena ulah Evans yang memecahkannya.             “Bagaimana kau bisa masuk ke sini, Evans?” setelah merasa cukup tenang, Alena bertanya dan sesekali menatap Evans yang mulutnya penuh kentang goreng.             “Dari belakang rumahmu, Nona. Kau tidak mengunci pintu belakang rumahmu.”             Alena baru ingat bahwa pintu belakang rumahnya rusak dan tidak pernah dikunci karena kerusakan parah yang menyebabkan kuncinya tidak mau masuk di lubang kunci. Mendadak Alena merasa khawatir. Dia tidak tahu jelas tentang anak ini. Kemarin dia memecahkan kaca jendela Alena yang Alena yakini itu adalah kesengajaan, esoknya di masuk ke rumahnya dari pintu belakang.             Alena menatap Evans dengan curiga. Matanya menyipit tapi mungkinkah anak sekecil itu punya alasan kriminal terhadapnya? Tidak mungkin. Tapi... bisa jadi orang-orang di pemukiman menyuruh Evans bertindak kriminal terhadapnya karena ketidaksukaan mereka terhadap Alena.             “Nona, aku senang sekali bisa makan kue sebanyak ini,” matanya membulat menatap meja yang dipenuhi toples-toples kue kering. “Boleh aku bawa satu toples saja?”             Alena mengangguk. “Bawa tiga toples.”             Mata anak kecil itu kembali membulat cerah. “Boleh, Nona?”             Alena kembali mengangguk.             “Nona, kau baik sekali. Tapi, kenapa orang-orang di pemukiman membencimu. Kalau kau benar penyihir kau penyihir yang baik, Nona.”             “Kau tidak takut denganku?”             Evans menggeleng. “Kalau aku takut aku tidak akan datang ke rumahmu.” Evans menoleh pada Fle. “Dan aku sangat suka kucing hitam ini.” Dia membelai gemas kepala Fle hingga Fle mengeong. Alena tersenyum.             Wajah Evans yang agak bengal dan kepolosannya mengingatkan Alena pada sosok Peterpan. Bocah yang tak pernah dewasa. “Evans, kau pernah membaca buku Peterpan?”             “Peterpan?” Evans menggeleng. “Tidak, Nona. Aku tidak pernah membaca buku Peterpan.”             “Kau mau membacanya?”             “Ya, tapi kurasa aku harus pulang.”             “Kau boleh membawanya.”             Alena mengantar Evans keluar dari rumahnya dengan tiga toples kue kering dan buku Peterpan di kantong plastik putih. Evans menatap Alena dan mengucapkan terima kasih atas kebaikan Alena padanya.             “Nona, kalau aku sering main ke sini boleh?” matanya menatap Alena penuh harap.             “Ya. Panggil aku ‘kak’ ya.” Alena tersenyum.             “Iya, Nona—eh, Kak.” Evans tersenyum malu.             Di kebun anggur barisan kedua, Ranne dan Kris menatap dari jauh adegan Alena mengusap rambut Evans. Ranne tersenyum.             “Dia tidak sepenuhnya buruk kan, Kris?” dia menoleh pada Kris.             “Tapi kita tidak tahu yang sebenarnya terjadi, Tuan.”             Ranne abai akan perkataan Kris. Secara tidak sengaja Alena melihat Ranne. Mata mereka bersitatap dari jarak yang cukup jauh. Ranne tersenyum. Alena membuang wajah dan masuk ke rumah.             “Masih saja seperti itu,” gumam Ranne. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN