Ragha yang sudah siap dengan setelan kerjanya menatap Adara yang masih berdiam diri di sisi ranjang. Sejak kalimatnya terakhir kali, Adara masih betah dengan kediamannya. Enggan menyapa, bahkan mengabaikan Ragha dengan segala persiapannya sebelum ke kantor. Hari ini Ragha memang sudah harus kembali ke kantor. Mama belum kembali membuat pekerjaan kian menumpuk kalau terus ditinggalkan. Sementara Adara masih dalam masa cutinya. Vigo memberi waktu lebih banyak untuk Adara berdiam diri setelah kehilangan ayahnya. Setelah helaan napas yang kesekian, Ragha akhirnya berjalan mendekati Adara. Yang lagi-lagi diabaikan kehadirannya. Sebelah tangannya terulur, menepuk kepala Adara beberapa kali. Berhasil menyadarkan Adara dari lamunan panjangnya. “Aku nggak bisa jamin kalau Mama nggak akan bicara

