“Ma, kenapa Mama harus usir Mbak Dara dari rumah?” Dhia berteriak keras begitu mendapati sang mama memasuki rumah di jam delapan pagi. Entah ke mana perginya Mama sampai-sampai di waktu sepagi ini sudah kembali membawa wajah muram yang nampak jelas. Beberapa kali memijat pelipis guna menghilangkan pening yang tiba-tiba hadir. Belum lagi tambahan semburan marah dari Dhia yang jarang terlihat. Mama menatap Dhia sejenak. Tidak menanggapi lebih. Tidak penting untuk merespon lebih panjang. Daripada menanggapi pertanyaan tidak berbobot itu, Mama justru memilih duduk tenang sembari berteriak meminta diambilkan minum oleh Bibi. “Mama bisa ‘kan setiap kali ada hal yang mengganggu dibicarakan sama Dhia, sama Mas Agha, sama Papa? Mama nggak bisa terus melakukan sesuatu atas kehendak Mama sendiri.”

