Adara tidak pernah memiliki rumah untuk pulang. Sekian tahun menjalani hidup, ia hanya mengenal tempat singgah. Di mana ia hanya bisa hadir untuk beberapa saat, untuk melepas rasa lelah, baru setelahnya kembali melanjutkan perjalanan. Tanpa memiliki keinginan untuk kembali hadir di tempatnya singgah. Karena itu artinya, ia harus siap menoleh ke belakang dengan segala rasa sakit yang berusaha ia lupakan. Muak menjalani kehidupan yang tidak ada artinya. Setelah kepergian Ibu di usia lima belas, motivasi untuk tujuan kehidupan itu tidak lagi hadir dan dengan ramah menyapa. Justru berjalan kian jauh, menyisakan Adara seorang diri dalam kesenduan yang entah sampai kapan akan berakhir. Hari demi hari dilalui dengan tetesan air mata. Setiap detikan jarum jam selalu ada helaan napas lelah yang

