Tak ingin berlama-lama lagi, Derren mengajak Aira untuk berbelanja. Dengan manja Aira menggandeng lengan Derren tepat di depan para staf yang tadi membicarakan raja hatinya itu. Dengan tatapan seakan mengolok, ‘Dia milikku, bisa apa kau!’ di tambah dengan senyum smrik yang di tunjukkan Aira. “Aku milikmu, tak ada yang berani bermain dengan singa lapar. Sayang,” ucap Derren seakan mengetahui apa yang tengah di pikirkan oleh Aira. “Selamanya?” “Of course!” senyum Aira semakin mengembang mendengar jawaban dari Derren. “Tak perlu takut aku jatuh di pelukan wanita lain, aku pastikan jika wanita itu hanya kamu seorang!” tambahnya lagi. “Janji,” “Janji ku sudah terucap saat aku menikahi mu, terucap dengan lantang di depan orang tuamu dan penghulu yang menikahkan kita. Ja

