Mencoba bertahan

925 Kata
Mulut boleh berkata ‘Aku percaya kamu’ tapi mata tak mampu membohongi hati yang terluka. Air mata yang mewakili rasa getir dalam hati pun mencurahkan seluruh cairan bening yang tersimpan rapat.   Bukan tak tau mengapa Derren mengatakan itu, tapi Aira enggan untuk berkata lagi. Ia hanya mampu menahan mulutnya untuk tak bersuara. Pelukan erat pun memudar, dan saat itulah Aira merasa bahwa dia memang harus melepaskan lelaki yang memintanya bertahan.   “Kita pisahan saja! Kalau seperti ini, kita hanya akan saling menyakiti satu sama lain,” ucap Aira dengan kekuatan yang tersisa.   “Ai, kenapa kamu meminta untuk pisah? Aku minta kamu bertahan, aku benar-benar gak bisa kehilangan kamu,” ucap Derren lirih.   “Gue, gue gak cinta sama lu. Gue cinta sama Diki, dan pernikahan ini yang buat perasaan gue tertahan sama dia,” kata Aira dengan mata yang terus berair.   “Jangan bohongi dirimu sendiri Ai. Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu, tapi aku gak bisa buat ninggalin Maya,” ucap Derren mencoba meyakinkan Aira.   “Jangan ikat dirimu dengan pernikahan yang tak seharusnya ini Derren. Gue tau kalau kita berdua itu tersiksa dengan apa yang kita alami ini. Gue gak pernah minta lu buat bertanggung jawab sama gue,” ucap Aira dengan nada yang sedikit meninggi.   “Aira! Sadar gak lu, gue suami lu. Gue ayah dari almarhum bayi kita, gue gak tau segimana kecewanya dia di alam sana melihat mama papanya pisah,” ucap Derren dengan membawa calon bayi yang sudah tak berada di antara mereka berdua.   “Derren, gak usah bawa-bawa dia. Dia ada juga gak akan merubah apapun. Kita lebih baik pisah dan saling mengejar apa yang pernah kita inginkan sebelumnya!” Aira meninggalkan Derren dan membiarkannya terpaku oleh kata-katanya.   Rupanya Aira kekamar hanya untuk mengambil koper yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Derren memandang tanpa ada niatan untuk menghalangi atau menghentikan. Dia menatap kepergian Aira dengan tatapan kosong.   Malam berganti dan siang pun berlalu begitu saja. Ujian akhir sudah dekat, namun Derreb tak memiliki semangat untuk belajar. Pandangan setiap hari hanya tertuju pada Aira yang bersendau gurau dengan Diki sang rival.   Maya yang ada di sampingnya pun terus bergelayutan tak tahu tempat. Sedangkan pak Wang yang sudah kembali mengajar pun terlihat sangat getir ketika memandang kedua muridnya yang kembali tak saling mengenal.   Pikiran kacau yang menyelimuti Derren pun membuatnya malas untuk melakukan apa-apa.   “Ai, gue liat belakangan ini Derren kaya gak ada niatan buat idup. Gak pernah lu kasih jatah ya?” goda Thada di saat makan berdua dengan Aira.   “Gue udah putus sama Derren,” jawab santai Aira.   Plak   “Lu pikir hubungan elu sama Derren itu pacara biasa? Main putus seenaknya!” Thada yang geram pun memukul kepala Aira yang sedikit geser.   “Bisa jatoh otak gue kalau lu pukul, bego!” seru Aira.   “Lu yang bego, lu itu…. ah,” Thada sudah tak punya kata-kata lagi untuk di ungkapkan karena kekecewaan yang di rasanya.   “Akhirnya lu nyadar juga kalau Derren itu gak pantas buat elu,” ucapa nyinyir Tata yang duduk tak jauh dari mjanya.   “Diem lu Zubaedah! Kalau Aira gak cocok untuk Derren, terus siapa yang pantes? Elu? Ngimpiiiii… di pandang aja kagak lu,” jawaqb Thada dengan kekonyolannya.   “Siapa bilang gak di pandang? Gue sama Derren itu di gedein bareng, lagian Maya jauh lebih cocok dari pada wanita jadi-jadisn macam dia,” jawab Tata dengan menunjuk ke arah Aira menggunakan tatapan mata yang tajam.   “Siapa yang jadi-jadian? Di banding punya lu, d**a gue lebih gede,” jawab Aira dengan jari telunjuk mendorong salah satu gundukan yang ada pada d**a gadis itu.   “Hahahaha, benarkah gede? Sini gue periksa,” ucap Thada yang kaget dengan jawaban Aira yang terlalu frontal.   “Lu!” tak bisa melanjutkan lagi, Tata pergi meninggalkan Aira yang tertawa puas bersama Thada.    “Gila lu,” ucap Thada kembali mengajak Aira duduk menikmati baksonya.   “Abisnya geram kali gue, masak gue di kata jadi-jadian. Emang gue tumbuh kumis? Terus leher gue berjakun? Kagak kan! Cewek cantik kaya gini kok, alami ini.” Aira mengibas-ngibaskan rambut sepunggung miliknya kiri dan kanan.   “Asli, keren tadi mah,” Thada mengacungkan dua jempol dapa keberanian Aira.   “Kalau terlalu murahan ya seperti itu,” kini teriakan terdengar dari arah pojok kantin.   “Jangankan murah, mahalpun gue banyak yang mau. Dan lagi, kalau gue yang kemana-mana jalan biasa aja lu kata murahan, apa kabar sama lu yang suka bergelayutan di pacar orang?” jawab Savege Aira.   “Lu,” kembali, lawan debat Aira tak memiliki kata-kata yang bisa membelas apa yang di ucapkan.   Aira mendekati bangku pojok yang hanya terisi dua orang di sana.   “Kalau gak percaya d**a gue juga lebih besar dari elu, suruh Derren buat bandingin gede mana? Lagian d**a rata kaya punya lu itu, yakin bisa buat Derren puas?” Bisik Aira yang hanya di dengar oleh kedua orang itu.   Bukannya menjawab, Derren hanya tersenyum malu. Wajah memerah saat Aira mengatakan apa yang di milikinya. Derren mengingat saat dia bermain dengan bukit yang di miliki Aira di setiap malam sebelum tidur.   Sedangkan Maya melihat senyum Derren pun merasa di permalukan secara tidak langsung. Maya pergi begitu saja meninggalkan Derren dan juga Aira yang masih berpandangan.   “Tunggu, sadar gak lu udah bangunin yang selama seminggun hibernasi?” Cegah Derren saat Aira hendak meninggalkan dirinya.   “Tunggu gue pulang, nanti!” ucap centil Aira pada Derren sebelum meninggalkan lelaki itu sendiri.   “Lu apain itu mayat hidup bisa bersinar kembali?” tanya Thada yang kembali melihat Derren tersenyum.   “Gue cipok, hahaha. Bener apa kata elu, hubungan gue sama Derren itu bukan hanya sekedar pacaran biasa. Tapi gue bakalan bikin Derren meninggalkan Maya sepenuhnya,” jawab Aira sepertinya tau apa yang seharusnya di lakukan.   Bel masuk pun berbunyi, karena kelas dua belas sudah mendekati akhir. Maka try out dan juga bimbel selalu di lakukan sepulang sekolah. Guru pembimbing yang biasanya malas mengajar pun kini jauh lebih aktif masuk kelas.   Memberikan tugas-tugas dan juga banyak materi yang di peruntukkan pada siswa menyambut ujian nasional. Banyak siswa yang mengeluh karena setiap guru masuk, langsung memberikan tugas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN