Godaan

984 Kata
Jam pulang pun berbunyi, namun para siswa kelas dua belas tidak di ijinkan untuk pulang. Mereka harus mengikuti bimbingan belajar sebelum melakukan try out yang di adakan dua minggu sekali.   Dalam pembelajaran pun di bagi menjadi tiga kelas. Kelas unggulan, kelas biasa dan Zona menghawatirkan. Sedangkan Aira yang memiliki otak di atas rata-rata dikit, masuk di kelas biasa. Thada, Diki, dan Derren memiliki otak di atas rata-rata pun masuk di kelas unggulan.   Karena ingin terus berama dengan Derren, Maya memiliki minat belajar yang sangat tinggi sehingga bisa masuk kelas unggulan. Aira bersama dengan Tata di kelas yang sama pun membuat suasana merasa tak nyaman.   “Hei teman-teman, disini itu ada pelakor murahan. Apa gak lebih baik di keluarin aja boroknya? Dari pada semua kena tytanus?” ucap tata dengan sedikit berteriak membuat perhatian semua teman kelas pun tertuju padanya.   “Siapa sih Ta?” tanya Tania yang tak satu kelas dengan Aira dan Tata.   “Tu si Aira!” tata melempar pandangan dengan tatapan tak suka.   “Oh, yang di vidio kemaren itu? Hmmm, gak punya kaca paling di rumahnya,” jawab Tania yang juga memiliki vidio Derren-Aira.   Aira mendekati kedua orang yang duduk di bangku depan. Dengan tatapan tajam Aira, menandaka jika dia sangat marah. Ucapan Tata memang tak pantas di ucapkan oleh seorang siswi.   Menaikkan satu kaki di kursi yang di duduki oleh Tata, menarik kerah baju milik gadis yang pernah menjadi temannya itu.   “Ngomong di depan muka gue! Gue bukan pelakor murahan seperti nyang lu katakan. Karena gue bukan cuma pacar dari Derren Alinski, tapi tunangannya!” ucap Aira dengan nada pelan namun menekan.   Aira keluar dari kelas dan tak mengikuti bimbingan belajar sampai selesai. Aira berjalan cepat menuju parkiran. Dengan mengendarai motor kesayangannya, Aira kembali ke rumah yang sudah hampir satu bulan di tinggalkannya.   Mencium aroma masakan yang lezat, Aira langsung masuk dan menuju ke dapur. Aira melihat Miranda, ibu mertuanya tengah masak di dapur.   “Mama, mama masak apa?” Tanya Aira yang baru saja masuk ke dalam dapurnya.   “Kamu ini ngagetin mama saja. Ini mama masakin ikan goreng saus padang kesukaan Derren, sama mama masak sambal goreng cumi. Mama kan gak tau apa makanan kesukaan mantu,” Miranda memeluk sekilas menantu tersayangnya.   “Aira suka makan apa saja yang enak ma, jadi jangan khawatir kalau Aira gak suka,” Aira mencicipi masakan mertuannya.   “Enak gak?” tanya Miranda dengan harapan menantunya itu menyukai masakannya.   “Enak banget ma, Aira belum bisa masak seenak ini,” kembali aira mengambil makanan yang di buat oleh mertuannya.   “Ganti baju dulu sana, baru makan bareng-bareng. Oh iya, mana Derren?” tanya Miranda yang tak melihat putranya.   “Oh, dia lagi bimbingan ma. Aira nyelip, malas ikut bimbingan,” Aira langsung ngacir ke kamar untuk mengganti bajunya.   Karena Aira tak menyisakan baju santai di rumah ini, dia terpaksa memakai kaos milik Derren. Kaos kebesaran untuk Aira, tapi itu malah membuatnya terlihat tambah sexy. Di tambah dia hanya menggunakan hot pant yang tak sengaja tertinggal.   “Mama, tumben dateng gak ngabarin Derren dulu?” Derren mengagetkan dua orang wanita yang ada di dapurnya.   “Sengaja, mama gak mau kecolongan kalau anak-anak mama sampai pisah rumah kaya anaknya bu Inggrit,” ucap Miranda yang sepertinya mengetahui apa yang terjadi.   “Mama liat kan? Aira sama Derren masih satu tempat tinggal,” Derren menunjukkan kemesraannya di hadapan sang mama dengan memeluk Aira dari samping.   “Iya, mama percaya sama kalian. Ya sudah kamu ganti baju sana, baru kita makan siang bareng,” Miranda di bantu Aira menyiapkan makanan di atas meja makan.   Tak berapa lama, Derren segera bergabung dengan mengenakan baju santainya. Duduk du kursi samping Aira, di depan mamanya duduk.   Setelah selesai makan siang, Miranda pun pamit pulang, karena sebentar lagi papanya Derren pulang kantor. Derren mengantar mamanya sampai pintu, sedangkan Aira membersihkan meja makan.   Saat mencuci piring di dapur, Derren datang dan langsung memeluknya dari belakang. Rambut yang di ikat tinggi, memudahkan Derren menciumi tengkuknya. Bibir mencium, tangan pun bergrilya memasuki kaos Aira yang kebesaran.   “Ini hukuman sudah memakai bajuku tanpa ijin,” kata Derren yang menciuminya dari belakang dengan meremas sedikit keras d**a Aira.   “Agrh, sakit. Kalau gak boleh di pakai, ya sudah aku lepas saja,” Kata Aira menggoda Derren.   “Berani?” Tanya Derren yang berhasil melepas kaitan bh milik Aira dengan satu tangan.   “Kenapa tidak” Aira memutar ke arah suaminya dan membuka bajunya.   Sebelum terlepas, Aira di kagetkan oleh satu teriakan.   “Aira!”   “Mama!” ucap Derren dan Aira secara bersamaan.   “Kalian ini, apa gunanya ada kamar kalau kalian berani buka-bukaan di sembarang tempat gini?” Tanya Miranda yang menahan malu dan juga rasa ingin tertawa.   “Gunanya untuk ronde kedua entar malam ma. Udah, kenapa mama balik lagi?” Derren meninggalkan Aira dan mengajak mamanya untuk keluar dari dapur.   “Kamu ini, bikinin mama cucu yang lucu ya,” Goda Miranda saat derren mendorongnya keluar dapur.   “Iya kalau mama gak ganggu lagi,” jengkel Derren melihat senyum menggoda milik mamanya.   “Hais, mama gak menggoda. Mama ketinggalan hp di deket tv, sana ambilin,” Derren pun mengambilkan ponsel yang memang milik mamanya yang tertinggal.   “Pelan-pelan ya, jangan kenceng-kenceng. Sakit tau di tusuk pas berdiri,” Miranda memperingatkan dengan nada menggoda putranya.   “Mama!” Derren mengantar kembali mamanya ke depan, namun kali ini menunggui wanita yang melahirkan dirinya itu sampai mengendarai mobilnya.   Setelah mengantar mamanya, Derren segera masuk ke dalam rumah dan kembali ke dapur. Saat sudah berada di dapur, Derren tak melihat Aira di sana. Derrean mencari istrinya ke dalam kamar, namun tetap tak ada.   “Aira,” panggil Derren sedikit teriak.   “Di sini,” rupanya Aira berada di kamar mandi.   “Ngapain?” tanya Derren yang melihat Aira duduk di atas closet yang tertutup.   “Gue pulang aja ya,” ucap lirih Aira dengan memanyunkan bibirnya.   “Emangnya kenapa? Tidur di sini aja,” kata Derren yang tak ingin Aira kembali meninggalkan rumah yang di tempatinya.   “Gue datang bulan,” cicit Aira yang membuat Derren membelalakkan matanya.   “Ah? Gagal dapet jatah,” ucap lesu Derren tiba-tiba.   “Maaf, bukan mau gue. Ya sudah entar di bantu deh,” ucap Aira yang membuat Derren kembali tersenyum.   “Tapi polos ya,” pinta Derren dengan riang gembira.   “Mana bisa?” tanya Aira yang kebingungan.   “Bisa,” Derren tersenyum smirk membuat Aira merinding dengan memikirkan apa yang di inginkan oleh suaminya.   Setelah menyetujui permintaan Derren, kini giliran Aira yang meminta Derren untuk membelikannya pembalut. Meski malu, tapi demi nanti malam Derren pun berangkat juga mencarikan di minimarket terdekat.   “Memang, kalau sudah napsu yang jalan. Otak pun gak bisa berfikir!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN