Sesampainya di rumah, Aira dan Derren melakukan aktifitas seperti biasanya. Hingga sebuah ponsel Derren berdering dan meninggalkan Aira saat itu juga. Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, Derren menuju tempat yang di beritahukan.
Sesampainya di tempat tujuan, Derren melihat Maya tengah menangis tersedu-sedu. Gadis itu memegang belati di tangan kanan dan menempelkan pada urat nadi tangan kirinya. Dengan gerakan cepat, Derren membuang belati itu dari tangan Maya.
Derren memeluk Maya erat, dan menenangkan gadis manja itu. Membelai lembut rambut panjangnya dan memberikan kenyamanan untuk gadis cantik dan seksi itu.
“Kamu kenapa lagi?” Tanya Derren lembut.
“Jangan pura-pura lagi, aku tau kamu lagi jalan sama Aira! Derren, kamu tau kan aku cinta mati sama kamu. Aku gak mau kehilangan kamu,” ucap Maya.
“Ya sudah maaf, gak akan di ulangi lagi.” Derren menenangkan Maya.
Akhirnya Maya tidur dalam pelukan Derren karena kecapekan menangis. Derren menidurkan Maya sebelum meninggalkan gadis itu sendiri di apartemennya. Derren tak pernah bisa kasar pada Maya karena dia tau kalau gadis itu memiliki tempramen yang buruk.
Derren pulang ke rumah, dan saat memasuki kamar. Derren mendapati Aira sudah tidur dengan nyenyaknya. Beruntung Derren tak mendapat pertanyaan-pertanyaan yang akan sulit di jawab olehnya.
Kecerobohan seperti yang ia lakukan di ruang osis pun sebisa mungkin tak di lakukan lagi. Derren tahu jika hal ini akan menyakitkan untuk Aira, terlebih dia mengetahui jika orang tuanya sudah menyembunyikan status Aira dari Maya, begitupun sebaliknya.
Begitu sulit memsang mempunyai hubungan dengan orang kaya. Mereka masih harus memikirkan bisnisnya dalam memilihkan jodoh anak-anaknya. Maya memang di ketahui sebagai pemilik sebagian saham di perusahaan keluarga Derren.
Karena mereka menginginkan Derren untuk menjadi pasangan Maya, maka dengan menyembunyikan pernikahan Derren dan Aira adalah tindakan yang paling tepat. Di samping itu, keluarga Aira dan Derren memiliki bisnis yang tak saling berhubungan, meski keduanya bersahabat sejak di bangku sekolah.
Pagi menyapa, seperti biasanya. Aira menyiapkan sarapan sederhana untuk Derren dan dirinya sebelum berangkat sekolah. Tapi, Derren malah terburu-buru berangkat sebelum sarapan.
“Lu gak sarapan dulu?” Tanya Aira sedikit berteriak karena Derren sudah menjauh.
“Nanti aja di kantin,” jawab Derren yang juga berteriak.
“Hais, kenapa lagi ini anak.” Aira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah sarapan, Aira baru berangkat ke sekolah dengan mengendarai motor matic miliknya. Sesampainya di parkiran sekolah, Aira tak mendapati mobil Derren.
“Kemana lagi ini anak. Tadi buru-buru sekarang malah gak ada di sekolah,” gerutu Aira.
Aira berjalan santai ke menuju kelasnya, tak memperdulikan keramain sekitarnya, ya begitulah Aira. Sesampainya di kelas, Aira kembali duduk bersama dengan Tata. Itu karena Derren benar-benar tak masuk sekolah.
Sampai jam pelajaran berakhir, Derren memang tak datang ke sekolahan. Mungkin ada keadaan yang benar-benar penting, yang membuatnya harus mendahulukan urusan itu di bandingkan sekolahnya.
Aira pulang ke rumah seperti biasanya. Tak ada yang aneh selain tak adanya Derren hampir seharian ini. Selesai membersihkan diri, Aira menonton televisi di dalam kamarnya --hingga tertidur--.
Malam menyapa. Dan Derren belum juga pulang kerumah.
Mungkin dia lagi banyak kerjaan, jadi lembur. Pikir Aira positif.
Hingga pagi menjelang Derren tak kunjung pulang. Bahkan tanda-tanda dia akan pulang pun tak ada. Aira mencoba berfikiran positif, sebisa mungkin dia tak menghubungi suaminya. Aira takut jika telfon atau pesan darinya akan mengganggunya.
Pikiran tak karuan berusaha di tepisnya, dengan meyakinkan diri jika suaminya tengah sibuk kerja. Aira mengendarai motor maticnya dengan kecepatan standart hingga ke sekolah. Sama seperti kemarin, Derren kembali tak masuk sekolah.
“Bisa-bisanya ini anak lari dari tanggung jawab! Kalau gak masuk itu harusnya ijin dan kasi keterangan yang jelas. Ini udah kelas dua belas juga, masih main-main,” ucap Aira ngedumel.
“Kenapa sih lu? Baca mantra?” Tanya Diki yang duduk di bangku belakangnya bersama Thada.
“Tu pacarnya si P ngelimpahin kerjaannya ke gue,” jawab Aira jengkel.
“Utu-utu sini cup dulu sama bang Thada biar capeknya ilang,” goda Thada.
“Idih, Rabies entar gue di cium sama elu!” Aira menjauhkan wajah Thada yang semakin mendekat dan memajukan bibir seksinya.
“Kalau di cium Thada biasa rabies, terus kalau gue yang nyium lu gimana?” kali ini Diki yang menggoda.
“Kalau elu yang nyium? Bahaya,” entah di sadari atau tidak, Aira tengah mengerlingkan sebelah matanya --nakal--
“Hahahha, bahaya dari mananya?” Diki malah terbahak, tapi Aira hanya berdecih menanggapinya.
***
Satu minggu sudah Derren tak pulang ke rumah atau masuk sekolah. Sedangkan Maya selalu mengatakan tak tahu jika ada yang menanyakan dimanakah keberadaan Derren.
Aira yang merasa ini sudah sangat keterlaluan, akhirnya mendatangi kediaman mertuanya. Rumah besar nan megah, dengan halaman luas lengkap dengan taman di depan rumah. Aira datang masih menggunakan seragam sekolahnya.
Di depan rumah Aira di sambut oleh ibu mertuanya. Tersenyum hangat, setelah memarkir motor maticnya, Aira berjalan menghampiri wanita cantik itu. Memberikan salam dengan mencium tangan sang ibu mertua, Aira berharap mendapat jawaban di mana suaminya saat ini.
“Kamu mencari Derren?” tebak Miranda, sang mama mertua.
“Iya ma, apa dia ada di sini?” Tanya Aira berhati-hati.
“Iya,”
Aira mengikuti Miranda masuk ke dalam rumah besar bercat warna putih bersih itu. Miranda membawa menantu tersayangnya masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di bawah tangga rumah mereka.
Perlahan Aira membuka pintu dan langsung menghirup aroma pengap kamar bawah tangga itu. Aira mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan gelap itu. Hanya dengan cahaya lampu temaram, Aira mendapati seseorang yang tengah meringkuk di pojokan kamar yang terasa dingin ini.
Masih mengenakan seragam sekolah, Derren hanya melihat ke arah Aira.
“Ngapain lu kesini!” bentak Derren pada istrinya.
“Inikah sambutan lu buat gue? Gue istri elu, yang seminggu ini lu tinggalin,” bisik Aira mencoba menenangkan Derren yang terlihat sangat ketakutan.
“Bawa dia pulang Aira,” dengan suara seraknya, Miranda meminta Aira membawa putra semata wayangnya untuk pergi meninggalkan kediamannya secepatnya.
“Ma?”
Hanya rasa bingung yang tersisa di benak Aira. Pertanyaan yang tak pernah di jawab oleh mertuanya, karena Miranda segera meninggalkan putra dan menantunya.
“Kita pulang,” Aira membantu Derren untuk bangun dari tempatnya meringkuk.
Entah karena apa, Derren benar-benar lemas seakan tak memiliki tenaga lagi. Dengan menggunakan mobil milik Derren, Aira membawa lelaki itu keluar dari rumah mewah berlantai tiga itu.
Hanya deru mobil yang terdengar di antara keduanya. Aira tak ingin bertanya, meski memiliki banyak sekali pertanyaan di kepalanya. Sedangkan Derren hanya diam entah memikirkan apa, Aira juga tak ingin tau untuk saat ini.
Aira berusaha memberikan kenyamanan untuk suaminya, senyaman sebelumnya. Tak pernah Aira bayangkan jika dia akan mendapati seorang Derren dalam keadaan yang seperti ini.
Tanpa terassa, air mata sudah membasahi pipi Aira tanpa permisi. Air yang sedari tadi di bendungnya, kini tak mampu lagi di tahan oleh wanita belia ini.