Sesampainya di rumah mereka berdua, Aira membantu Derren untuk membersihkan diri. Siapa yang sangka, jika di dalam baju kemeja putih bersih milik suaminya itu menyimpan luka, dengan darah yang sudah mengering.
Aira membersihkan luka dengan air hangat sebelum memberikan obat dan membungkus dengan perban. Saat membersihkan luka, tak ada kata yang keluar selain air mata dan isak tangis dari bibir tipis milik Aira.
“Jangan nangis, rasanya bisa perih,” ucap Derren yang tak ingin wanitanya menangisi apa yang di deritanya.
“Gue pilek, gak usah kepedean! Lagian, bagaimana bisa berasa perih kalau gue nangis,” ucap Aira tak tau dari mana lelaki dewasa yang selalu bertindak dengak otaknya itu kini malah seperti anak lima tahun --tak bernalar--
Suasana kembali hening, karena keduanya lebih merasa nyaman untuk saling diam. Pernahan Aira membasuh dan mengoles krim obat pada luka Derren.
Perih, panas dan merasa sedikit nyeri pada setiap sentuhan lembut Aira. Setelah selesai membasuh dan mengobati luka di punggung Derren. Aira menutup dengan kapas dan membalut perban agar tak tersentuh bakteri.
“Sekarang lu tidurnya tengkurep aja. Luka lu kebanyakan di punggung,” ucap Aira dengan membereskan peralatan pengobatan yang di pakai olehnya.
Derren menuruti apa yang di ucapkan Aira. Tanpa mengenakan baju, Derren pun tidur tengkurap. Setelah merapikan kotak obatnya, Aira ke dapur untuk membuat bubur.
Tepat di tengah malam, Derren tiba-tiba teriak dan meminta ampun. Dengan terpaksa Aira membangunkannya secara paksa.
“Derren, bangun!” Aira memukul lengan Derren.
Derren langsung memeluk Aira dan memastikan jika dirinya memang sudah di rumah yang di diami oleh dirinya dan sang istri, Aira.
“Aira, Aira!” begitula ucap Derren yang terus mencari Aira dalam gelapnya kamar yang hanya di terangi lampu dari luar kamar.
“Iya ini gue,” Aira paham dan langsung menyalakan lampu kamar. Membalas pelukan Derren dan meyakinkan jika lelaki itu sudah berada di tempat yang aman saat ini.
Karena merasa ketakutan, Derren tidur dalam dekapan Aira hingga pagi menjelang.
“Lu gak usah sekolah, lagian luka lu belum sembuh total,” kata Aira menasehati Derren yang sudah siap di meja makannya.
“Gue kuat,”
Sok sekali orang ini. Batin Aira.
Karena keras kepala, Aira pun tak bisa berbuat apa. Dan membiarkan Derren untuk berangkat ke sekolah.
“Motor gue di rumah elu, gue bareng naik mobil lu,” kata Aira yang sudah duduk di kursi penumpang samping kemudi.
“Tapi gue mau jemput Maya,”
Satu kata yang mampu membuat Aira sedikit merasa nyeri di uluhatinya.
“Ya sudah,” Aira keluar dari mobil milik Derren.
***
Kembali seperti orang yang tak saling mengenal dekat, Derren dan Aira selalu menjaga jarak. Tapi entah sejak kapan hal ini membuat Aira merasa sedikit nyeri di d**a tengah atas perutnya.
“Kenapa lu Ai?” Tanya Diki yang menyadari jika gadis di depannya tengah merasa sedikit sakit di hatinya.
“Maag kambuh,” kilah Aira yang tak mau teman-teman yang lainnya mengetahui apa yang tengah terjadi diantara dirinya dan juga ketua kelas ini.
“Itu pak ketua suku masuk Ai. Katanya lu mau ngomelin dia pas udah masuk? Waktu dan tempat di persilahkan,” goda Thada yang mengingat setiap omelan Aira untuk ketua kelas yang melimpahkan semua tugas-tugas ketua kelas padanya.
“Udah malas, liat wajahnya malah bikin gue tambah emosi,” ucap Aira jengkel.
“Lu malas, apa cemburu sih? Kok saru-saru gitu keliatannya.” kini Diki menggoda sekaligus ingin tau apa yang sebenarnya terjadi di antara Aira dan Derren sang rival.
"Cemburu?” Aira melihat ke arah Derren yang lagi di gelayuti oleh Maya.
“Pacaran yuk Dik,” lanjut Aira yang membuat Thada dan Diki tersedak gorengan yang di makannya.
Uhuk
Uhuk
“Lu nembak Diki?” tanya Thada tak percaya.
“Ya kalau elu mau sama gue juga gak pa pa kita pacaran bertiga,” jawab Aira santai.
“Kalau kita pacaran, berarti boleh dong gue minta sun sama elu?” Goda Thada sambil memajukan bibirnya ke arah Aira.
“Sun santan kental?” jawab Aira yang membuat Diki dan Aira tertawa terbahak.
“Hahaha lu juga ngapain nanggepin ni anak sih. Udah tau otaknya tinggal separo, masih aja di anggap serius,” Diki berlalu meninggalkan Thada dan Aira.
Jam pelajaran pertama di mulai setelah bell masuk berbunyi. Aira mendengarkan pelajaran dengan sangat serius, tapi pandangannya masih sering teralih ke arah samping --bangku Derren--
Pelajaran matematika yang membuat pusing kepala di pagi hari. Rupanya tak membuat Diki mengenyahkan bayangan indah tentang ungkapan Aira tadi.
“Diki, lu gak nulis?” Tanya Thada yang melihat buku teman sebangkunya itu masih bersih seperti anak perawan.
“Ah? Malas,” jawab Diki tak biasa.
“Gila, seorang Diki juara umum kedua bisa malas juga?” ledek Thada tak percaya.
“Hais, gue juga manusia kali. Buakan robot!” jawab Diki jengkel.
Tak
Satu lemparan spidol dari arah depan pun tepat mengenaki dahi milik Thada.
“Sudah pintar kah kalian?” ucap bu Atik di depan kelas.
Pelan, tapi aura yang dikeluarkan guru perempuan berwajah lembut itu membuat murid di kelas terdiam. Tak terkecuali Thada dan Diki yang mendapat teguran langsung.
“Maaf bu. Kami salah,” ucap Thada membuat bu Atik melanjutkan mengajarnya dengan suasana lebih tenang dari pada di awal.
Selama pelajaran berlangsung, semua siswa dan siswi tak berani bergerak. Karena itu belajar matematika membuat kelas semakin hening dan suara guru cantik itu bagai lagu nina bobok untuk Aira.
Semilir angin yang tiba-tiba di rasakan Aira, membuat tidurnya semakin lelap. Dengan bisikan-bisikan yang didengar Aira, seakan menjadi dongeng tidurnya. Ketika tangan menyentuh pipinya Aira pun bergumam.
“Hmmm, bentar lagi…” masih dalam tidur nyenyaknya, Aira tak sadar jika dia masih dalam kelas.
Tangan itu semakin kuat menekan pipi Aira, membuatnya merasa terganggu dan mengeluarkan kata yang membuat teman sekelasnya terdiam.
“Derren!!”
Aira berteriak dan membuat semua teman yang masih di kelas itu memandang ke arahnya. Pemilik nama pun terkaget mendengar namanya di sebut.
“Lu mimpiin gue?” goda Derren untuk mengalihkan kenyataan.
“GR!” bentak Aira yang merasa malu sebelum meninggalkan kelas.
Sedangkan Thada dan Diki hanya berpandangan tak percaya jika Aira menyebut nama ketua kelasnya.
“Aira yang tidur. Kenapa gue yang ngimpi, sih!” Thada masih heran.
“Aira yang tidur, lu yang ngimpi dan gue yang ngelindur!” timpal Diki.
Akhirnya kedua orang itu beranjak dari duduknya dan mengejar Aira yang keluar kelas.
Duduk di kantin dengan segelas teh dingin di depannya, Aira mencoba menghilangkan rasa kantuknya. Dua temannya melihat, dan menghampiri Aira dengan membawa semangkok bakso.
“Lu ngapain tadi bentak manggil Derren sih?” Tanya Thada sambil menikmati baksonya.
“Gue pikir dia yang bangunin gue tidur,” jawab Aira yang menerangkan jika dirinya merasa tidur di kelas.
“Iya juga, lu kan tidurnya di kelas. Ngorok pula,” goda Thada lagi.
“Sialan!”