teler

1082 Kata
Tak pernah ada yang tau bagaimana nasip memang. Tapi percayalah, jika tak pernah ada orang yang mau menderita. Maka dari itu, banyak orang yang menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan kebahagiaan.   Kebahagiaan yang kendalikan oleh keegoisan dan ketamakan, adalah awal dari kekecewaan. Seangkan kekecewaan itu muncul karena angan yang di bangun oleh diri, sangatlah tinggi. Sehingga adanya rasa kecewa dan terpuruk atau terjatuh jika tak sesuai dengan angan.   Seperti saat ini yang di rasakan oleh keluarga Maya, yang merasa sangat kecewa pada Derren. Ya, keluarga Maya mendengar jika pemuda yang di gadang-gadang sebagai pasangat tercocok untuk putrinya itu telah memiliki pasangan hidup.   “Boy, kamu harus bertanggung jawab untuk masalah ini! Aku gak mau tau, pokoknya anak kamu harus putus dari pacarnya!” kata Dimas Ardian, papa dari Maya Ardian.   “Aku gak bisa mengontrol anak itu lebih jauh Dim. Tolong mengertilah. Ini hidup putra semata wayangku,” ucap Boy Alinski mengiba.   “Karena dia semata wayang, seharusnya kamu memberikan yang terbaik untunya! Bukan menghancurkannya seperti ini!” ucap Dimas lagi sebelum meninggalkan ruangan rekan kerjanya itu.   Anakmu? Tak sebanding dengan putraku! Kata Boy dalam hati dengan seringaian mengejek.   Boy kembali berkutat dengan kertas dan juga deretan angka yang sempat di tinggalkan tadi. Memang tak bisa mengontrol orang untuk tunduk di bawah kaki, meski itu adalah anaknya sendiri. Karena sejatinya manusia ingin di pandang sama, bukan di injak atau dijunjung.   Di sekolah, Derren yang tengah makan di kantin. Tiba-tiba disusul oleh gadis yang tak pernah mau di tinggal olehnya. Duduk di samping Derren an langsung bergelayutan di lengan lelaki yang tengah makan siang itu.   Aira yang melihat kejadian itu langsung mendekati kedua pemuda itu. Duduk tepat di antara Derren dan Maya, memisahkan keduanya. Aira dengan santainya memakan bakso yang di bawanya, sedangkan Maya terlihat tak suka dengan apa yang dilakukan teman sekelasnya itu.   “Lu bisa pindah dari sini?” Maya mencoba menyingkirkan Aira dengan menanyainya pelan namun penuh amarah.   “Kalau gak bisa, gimana?” seakan menantang, Aira menatap Maya dengan tatapan tak bersahabat.   Tanpa bicara lagi Maya menyiram jus yang ada di depannya ke arah Aira.   Kaget? pasti!   Tapi Aira berusaha tenang dan memakan baksonya dengan diam dan damai. Sedangkan Derren melihat ke arah istrinya tak percaya.   “Apa hatimu terbuat dari besi?” tanya Derren pelan.   “Buat apa lu tanya masalah hati gue?” jawab Aira sinis.   “Lupakan!” Derren tak ingin memperpanjang pertanyaannya dan kembali makan nasi campurnya.   “Pergi! Bukan ngobrol!” emosi Maya tersulut, tapi Aira tetap bergeming.   Prang   Maya melempar mangkok bakso milik Aira ke sembarang arah. Memang benar kata orang, jika gadis cantik ini memiliki tempramental yang buruk.   Aira, diam.   Dia tak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh gadis di depannya itu.   Gue yakin, kalau dia tau kenyataan tentang Derren. Pasti gila, dia. Batin Aira sambil tersenyum smrik menatap Maya, seolah mengejeknya.   Aira pergi meninggalkan Derren dan juga Maya yang sudah menunjukkan taringnya.   “Gue gak suka lu batasin hidup gue seperti ini. Lu bukan siapa-siapa gue!” Derren meninggalkan Maya yang semakin emosi.   “Awas lu Aira!” ucap Maya yang menyalahkan Aira.   Suasana kantin yang tadinya sempat hening karena pertengkaran antara Maya dan Aira, kini kembali riuh. Riuh kali ini tak lain tak bukan, tengah membicarakan Derren, Aira dan Maya yang beradu mulut.   “Ih, Aira kenapa nyela gitu ya? Apa jangan-jangan dia suka juga sama Derren?” bisik salah satu murid yang tengah menggosipkan ketiga orang itu.   “Kayaknya sih gitu. Siapa juga yang bisa berpaling dari pesona Derren. Udah ganteng, kaya, tanggung jawab lagi orangnya.” ucap salah satu temennya.   “Tapi masih gak nyangka gue, kalau si Aira itu pelakor,”   “Pelakor dari mana? Lu gak denger tadi Derren bilang kalo dirinya sama Maya gak ada hubungan apa-apa?” jelas salah satu teman lagi.   “Eh, eh, eh berarti ni ya. Kita bisa, tu deketin Derren. Tata, papa lu kan kerja di kantor orang tua Derren tu. Masak lu gak bisa dapetin Derren sih? Secara lu kan gak kalah cantik dari Maya atau Aira,” ucap salah satu teman yang mendorong Tata untuk mendekati Derren.   “Iya juga ya,” jawab Tata.   Bell masuk pun berbunyi, Tata dan teman yang lainnya masuk ke dalam kelas. Tapi trio sengklek itu tak masuk kedalam kelas. Siapa lagi kalau bukan Aira, Diki sama Thada.   Jam pelajaran sudah hampir habis, namun ketiganya belum juga masuk kedalam kelas. Derren terlihat sangat marah karena ulah Aira saat ini.   Derren mengeluarkan ponsel miliknya dan mengirim pesan untuk Aira. Tanpa di ketahui Derren, rupanya Maya meliriknya saat mengetik pesan untuk Aira.   To. Aira.   Di mana lu? Gak mikir sekolah!   Uang jajan lu, gue potong setengah kalau sampek lu gak masuk kelas.   Begitulah kira-kira pesan yang di kirim Derren pada Aira yang membuat Maya merasa ada sesuatu yang aneh.   “Derren, tumben lu main HP?” tanya Maya yang berharap mendapat jawaban dari semua pertanyaan dalam kepalanya.   “Hmm,” jawab Derren singkat.   “Lu kenapa sih? Lu berubah,” oceh Maya yang tak di hiraukan oleh Derren.   Jam pelajaran telah berakhir, namun pesan yang dikirim Derren tak kunjung berbalas. Derren keluar kelas dan mencari keberadaan sang istri dan ketiga orang temannya.   Derren mencari Aira hingga ke belakang kelas kosong di mana jarang di kunjungi oleh para siswa. Derren mendapati Aira tengah terkapar bersama dengan kedua temannya. Tepat di samping Aira terdapat botol minuman yang tak pernah di lihat olehnya. Derren mencium botol tersebut dan aroma minuman itu sama persis seperti yang pernah ia minum sebelum kejadian malam itu.   Derren langsung menggendong Aira dan membawanya ke mobilnya yang di parkir. Setelah itu Derren juga mengajak kedua teman Aira dengan cara membopongnya.   Derren minta ijin untuk pulang terlebih dulu untuk mengantar ketiga temannya yang tengah sakit. Saat pemeriksaan di gerbang sekolah, pak satpam yang mengenali ketiga siswa berprestasi sedang tak sadarkan diri itu langsung meloloskan Derren.   Derren membawa ketiga orang itu pulang ke rumahnya yang di tempatnya bersama Aira. Derren menempatkan Aira di kamar sedangkan untuk Thada dan Diki di ruang tamu.   Sebelum ketiganya sadar, Derren membersihkan tempat tinggalnya dari barang-barang yang menunjukkan Aira dan dirinya adalah suami istri.   Mulai dari foto yang di sembunyukan juga pernak-pernik pernikahan mereka juga di sembunyikan. Derren mencoba membangunkan kedua teman kelasnya. Thada yang sudah sedikit sadar pun kaget tengah melihat sang ketua kelas tepat di depan matanya.   “Derren!”   “Minum ini,” derren menyuguhkan kopi pait pada Thada yang baru saja sadar.   “Makasih, ini di mana?” tanya Thada mengedarkan pandangannya ke segala arah.   “Di rumah pribadi gue,” jawab Derren sambil mencoba membangunkan Diki yang sudah bergerak-gerak.   “Minum ini biar gak sakit kepala li,” Derren menyodorkan segelas kopi pait pada Diki.   “Aira mana?” tanya Diki yang baru saja sadar.   “Udah gue baliki ke rumahnya. Gue gak tau rumah kalian, makanya gue bawa ke rumah gue.”   Setelah keduanya merasa sedikit enakan, maka mereka pamit untuk pulang. Diki masih heran, kenapa dia tak di laporin ke kepala sekolah. Padahal dia sudah melanggar peraturan sekolah, dengan mabuk-mabukan di area sekolah.   Tapi masa bodo ah, yang penting dia tidak di keluarkan dari sekolah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN