Sempat memiliki namun tek merasakan

1127 Kata
Setelah kepulangan kedua temannya, Derren membantu Aira membersihkan badannya sebelum mengganti seragamnya. Dengan telaten Derren mengelap seluruh tubuh Aira menggunakan air hangat.   Merasa terganggu, Aira pun berusaha untuk membuka matanya. Melihat suaminya di depannya, Aira langsung memeluk Derren dengan eratnya. Seakan tak ada hari lagi, Aira seakan tak ingin melepaskan suaminya yang sudah kesusahan bernafas.   “Gak bisa napas,” Derren berusaha melepaskan pelukan Aira.   “Jangan tinggalin gue,” ucap Aira yang semakin mengeratkan pelukannya.   “Iya, gak akan.” janji Derren pada istrinya yang masih setengah sadar.   Perlahan Aira mengendorkan pelukannya, sehingga Derren bisa melepaskannya. Kembali Derren menidurkan Aira setelah mengganti bajunya. Entah apa yang sudah terjadi pada Aira, hingga dia nekad minum di area sekolahan.   Benar-benar istri nakal!   Derren memilih untuk membawa pekerjaannya pelang ke rumah, karena dia merasa tak tega meninggalkan Aira sendirian di rumah. Derren bekerja sambil menjaga Aira, duduk di atas tempat tidur dengan tumpukan kerjaan.   Jam sembilan malam Aira belum juga bangun. Perlahan Derren membangunkannya. Saat membangunkan, Derren menyentuk kening Aira dan merasakan panas yang sangat tinggi. Aira terus di guncangkan oleh Derren, namun tak kunjung bangun.   “Aira, bangun dong! Jangan nakutin gue!” terus saja derren berusaha untuk membangunkan istrinya.   Karena tak ada pergerakan dari Aira, Derren langsung menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.   Cemas, khawatir dan juga takut kini telah bersarang dalam diri Derren. Dia tak berani memberi tahu orang tuannya maupun orang tua Aira. Setelah dokter yang memeriksa Aira keluar, Derren langsung memberondonginya dengan pertanyaan tentang sang istri.   “Bagaimana keadaan istri saya pak? Dia baik-baik saja kan? Gak ada yang serius dengan istri saya kan pak?” tanya Derren yang membuat dokter itu menatapnya tak percaya.   “Benar dia istri kamu?” tanya dokter itu.   “Benar dok! Dokter tak percaya? Saya bisa tunjukkan ini,” Derren menunjukkan buku nikah yang sengaja ia bawa.   Setelah melihat kebenaran dan juga keasliannya, dokter pun mengajak Derren untuk masik ke dalam ruangannya.   “Kenapa pak?” tanya Derren lagi.   “Maaf sebelumnya, tapi kami tak bisa berbuat apa-apa karena saat di bawa ke sini. Janin yang ada dalam kandungan istri bapak sudah tak bernyawa,” kata dokter Ridwan melihat sebuah kekecewaan dan kekagetan dari wajah Derren.   “Maaf, sekali lagi. Kami harus segera mengambil tindakan pembersihan. Silahkan tanda rangani surat ini.”   Derren menandatangani surat persetujuan untuk pembersihan kandungan. Derren lemas ketika keluar dari ruangan dokter Ridwan. Dokter yang sudah puluhan kali menyaksikan kejadian ini, merasa tak tega pada calon ayah yang sepertinya tak tau apa-apa seperti Derren.   Nasi sudah menjadi bubur, itulah pepatah yang mungkin tepat untuk keadaan derren dan juga Aira. Mereka berdua tau setelah kehilangan. Sempat memiliki namun tak pernah merasakan kehadirannya. Kata yang sederhana namun memiliki arti yang mendalam.   Karena tak mampu menahan sendiri, Derren menghubungi orang tuanya juga orang tua Aira. Tak kuasa lagi Derren untuk memendan rasa kecewa dan putus asa sendirian.   Tak berapa lama, kedua keluarga itu datang dan langsung memeluk Derren untuk menguatkan putranya. Derren terlihat sangat kehilangan dan juga tak percaya jika dirinya kehilangan sebelum memiliki.   “Sabar ya, mungkin ini yang terbaik untuk kalian berdua. Sekarang kamu fokus saja pada pekerjaan biar gak terlalu merasa kehilangan,” ucap Boy yang juga datang untuk menguatkan sang putra.   “Iya pa, untuk sementara waktu Derren sama Aira mau pulang ke rumah mama sama papa. Derren gak mau hal seperti ini terulang lagi,” derren memeluk mamanya.   “Rumah kami juga rumah kalian. Tapi, bagaimana kamu menjelaskan ini pada Aira? Mama yakin, pasti dia sangat terpukul sekali.” Mawar memikirkan perasaan sang putri.   “Kami gak ada yang tau ma, mungkin ini yang terbaik buat kami,” jelas Derren dengan apa yang terjadi.   “Bagaimana bisa kalian gak tau sih? Memangnya kalian gak nandain?” Miranda memprotes kecerobohan putranya.   “maaf ma, gimana kami tau masalah seperti itu. Dia hamil empat minggu juga derren yakin sama gak taunya. Tadi di sekolah juga kami baik-baik saja kok, cuma…” ucap derren menggantung.   “maya?” tanya Boy yang mencoba menebak.   “Huum, tadi dia beradu mulut sama Aira. Pa, batalin pertunangan kami. Derren gak suka sama Maya,” tangis Derren pecah, seakan jauh lebih menyakitkan berhubungan dengan Maya dari pada harus kehilangan calon anaknya.   “Papa gak pernah menerima perjodohan itu Derren. Mereka saja yang suka mengaku-ngaku. Sudah lah biarkan saja lah mereka berkembang, kalau sampai mereka menyakiti Aira lagi. Biar papa yang turun tangan.” ucap Boy yang seakan mengetahui apa yang tengah di rasakan putranya.   “Di mana Aira sekarang?” tanya Mawar ingin tau bagaimana keadaan putrinya..   “Ada di dalam Ma,” Derren mengajak kedua keluarga itu masuk ke dalam ruang rawat.   Saat masuk ke dalam kamar, bertepatan dengan Aira yang barusaja sadar. Mawar dan Miranda menghampiri Aira yang sepertinya tengah kebingungan.   “Sayang, jangan panik. Kamu cuma pansa saja, sudah tidur lagi saja,” ucap Miranda yang masih belum tega dengan apa yang tengah menimpa menantunya.   Tanpa mengatakan apapun lagi, kedua wanita itu keluar karena tak tega jika harus mendengar Derren mengatakan yang sejujurnya. Derren mencoba menguatkan hati dan juga mengumpulkan keberaniannya.   Dia tau, Aira akan sangat terpukul dengan apa yang sudah terjadi padanya. Ini semua juga karena dirinya yang tak bisa menjaga sang istri dengan baik.   Derren masuk ke dalam kamar yang hanya tersisa mereka berdua. Perlahan Derren mendekati Aira yang masih tempak kebingungan. Pelan Derren membelai rambut sang istri.   “Aira, aku mau nanya sesuatu sama kamu. Tapi jangan marah atau emosi dili ya,” ucap lembut Derren memastikan untuk istrinya tak marah terhadapnya.   “Iya, kenapa? Kamu mau meninggalkan aku? Atau kamu mau meminta ijinku untuk menikahi Maya?” tebak Aira yang membuat Derren hampir kehabisan kata-kata.   “Apa kamu sudah mencintaiku?” pertanyaan yang begitu saja terbersit setelah mendengar pernyataan dari sang istri.   “Gak tau,” jawab Aira malu-malu.   “He, tenanglah. Aku gak akan pernah meninggalkan kamu demi siapapun, termasuk Maya!” ucap derren yang membuat Aira semakin malu.   “Ada hal penting yang ingin aku sampaikan, tapi tolong. Jangan menyalahkan diri sin diri atau menyalahkan keadaan.” Derren menjeda ucapannya.   Menarik nafas, seakan mencari ketenangan diri. “Aira, apa yang kamu lakukan tadi siang?” tanya Derren memulai dari masalah di sekolahan.   “Maaf, aku emosi. Aku gak mau kamu ninggalin aku dan lebih memilih Maya,” jawab Aira tanpa sadar sudah meneteskan air matanya.   “Hey, jangan nangis. Aku janji, gak akan pernah ninggalin kamu! Kamu mau kita bilang lagi pacaran?” tanya derren seakan menenangkan Aira.   “He,” Aira hanya tersenyum mendengar peryataan itu.   “Tapi ada yang lebih penting dari itu. Aira, aku mau kamu tau satu hal yang sudah terjadi di antara kita.” Derren menarik nafas lagi dan membuangnya dengan perlahan.   “Apa?” tanya Aira lirih.   “Kamu…” berhenti sejenak.   “Kamu, hamil anak aku,” akhirnya satu kalimat telah terucap.   “Ah? Benarkah?” Aira terlihat sangat bahagia mendengar apa yang tengah di katakan oleh Derren, sampai ia lupa jika masih menjadi seorang siswi di salah satu sekolahan swata.   “Iya, tapi….” kembali menggantung ucapannya karena merasa sangat berat untuk mengatakan yang sebenarnya.   “tapi apa? Jangan setengah-setengah gitu!” bentak Aira yang merasa ada firasa jelek.   “Tapi kita harus iklasin dulu si kecil bermain di sisi Tuhan. Karena kita belum bisa ngajak dia main,” akhirnya Derren mengatakan jika mereka sudah kehilangan calon bayinya.   Aira hanya terdiam dan seakan tak memiliki nyawa. Derren memeluk Aira yang masih terdiam selayaknya manekin di sebuah toko baju. Mawar dan Miranda yang menyaksikan di ambang pintu pun tak kuasa lagi untuk menahan tangisnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN