Hari pembersihan pun telah tiba, setelah berpuasa selama delapan jam. Karena waktu di jadwalkan sore hari, maka Derren masih bisa untuk pergi kesekolah.
Sebagai ketua kelas, Derren mengabarkan jika Aira tidak bisa masuk karena sakit. Diki dan Thada yang mengajaknya minum kemarin pun merasa sangat bersalah.
Jam satu tepat derren langsung pulang dan terlihat sangat tidak biasa, terutama untuk Maya. Biasanya lelaki itu mengantarnya pulang terlebih dulu, tapi hari ini tidak.
“Pasti ini karena Aira lagi!” jengkel Maya saat Derren meninggalkannya di parkiran.
“Kenapa lu, ngomel-ngomel?” tanya Thada.
“Temen lu kemana?” Tanya Maya jengkel.
“Aira? Lu budeg? tadi pacar perfect lu bilang dia sakit,” jawab Thada sedikit tak suka.
“Kalian gak jengukin emangnya?” Maya memancing Thada dan Diki yang saling pandang melempar pertanyaan yang tak terucap.
“Sudah gue ikut!” Maya langsung menaiki motor Thada.
“Kite kemane? Ah ni cewek resek banget sih. Gue cipok juga lu,” geram Thada dengan gaya konyolnya.
“Sudah ikuti aja Derren,” kini Diki memberi saran.
Setelah mengatakan Ok, ketiga orang itu segera menyusul Derren yang nampak terburu-buru. Jarak mereka yang tak terlalu jauh pun membuat ketiga siswa itu dengan mudah menyusul mobil hitam di depannya.
Mobil kecil yang di kemudikan oleh Derren pun masuk ke sebuah rumah sakit besar sedikit jauh dari sekolahnya. Tampak sedikit berlari, Derren membuat ketiga temannya ini semakin penasaran. Diki melihat Derren masuk ke sebuah kamar yang sedikit membuatnya kaget.
“Mbak itu ruang apa ya?” Tanya Diki sebelum mengijinkan kedua temannya itu masuk memasuki ruangan itu.
“Oh itu ruang bersalin, kenapa dek?” tanya balik suster jaga itu.
“Tadi itu teman kami, dan masuk ke sana. Memangnya siapa yang melahirkan?” Tanya Thada sedikit normal.
“Oh mas Derren? Nyonya Derren kemarin keguguran, jadi sekarang di lakukan pembersihan. Kasian mereka belum tau hamil sudah kehilangan,” ucap suster itu seperti tak memiliki dosa.
“Nyonya Derren?” ketiga orang itu barengan.
“Apa yang lu pikir sama dengan apa yang gue pikir May?” tanya Diki yang sepertinya mengetahui apa yang tengah di pikir Maya.
“Kalo lu mikir Aira, berarti kita sepemikiran!” jawab Maya ketus.
“Kenapa bisa Aira jadi nyonya Derren?” tanya Thada yang tak mengerti apa-apa.
“Jadi gini Thada, sempet gue mergoki si Derren gantiin bajunya Aira. Dan kemaren pas kita teler kan kita di rumah Derren. Lu mikir gak sih itu….” Diki menghentikan ucapannya karena teringat sesuatu.
“Mikir apaan?” tanya Thada semakin penasaran.
“May, selama libur kenaikan kelas, lu liburan sama Derren gak?” tanya Diki ingin melanjutkan analisanya.
“Enggak, gue liburan ke Singapur tahun ini. Sekalian milik universitas di sana, emang kenapa?” Tanya Maya semakin bingun saja dengan cara pikir orang pinta itu.
“Selama liburan Aira juga ngilang. Dan setiap kita mau main ke rumahnya sekarang-sekarang ini malah di larang. Gue jadi mikir kalo Aira gak tinggal lagi di rumahnya….”
“Tapi di rumah Derren?” sambar Thada melanjutkan ucapan Diki.
“Yup bener!” setelah mendapatkan jawaban dari apa yang di pikirkan selam ini. Diki bersama dengan maya dan Thada memberanikan diri untuk memasuki ruang rawat yang hanya untuk seorang saja itu.
“Thada, Diki, Maya?” Derren kaget dengan kedatangan ketiga temannya.
“Kaget kita ada di sini?” Tanya Diki merasa puas sudah memergoki derren yang tengah memegang tangan Aira.
“Gua gak kaget, hanya mau bilang ke kalian. Terima kasih sudah menjadi pembunuh bayi yang belum pernah lahir di dunia ini!” ucap berani Derren membuat Diki dan Thada tersentak, namun Maya malah tersenyum puas.
“maksud lu apa?” Tanya Thada yang sedari tadi menunjukkan keseriusannya.
“Kalian kemarin ngajak Aira minum kan? Dan ini yang terjadi. Aira keguguran! Jadi gue ucapin terimakasih dan silahkan pergi meninggalkan tempat ini!” derren sudah tak perduli lagi jika dirinya akan di keluarin dari sekolahan.
Otak Derren kini hanya terpenuhi oleh emosi terhadap kedua sahabat istrinya itu.
“Siapa ayah dari anak Aira?” tanya Diki yang masih tak mau mengerti jika Derren lah ayah dari bayi yang sudah meninggal itu.
“Diki, ayo kita keluar dulu. Derren masih emosi, nanti saja kita temui Aira,” ajak Thada.
“derren, gue bisa ngasih kamu anak yang lucu-lucu,” goda Maya yang tak membuang kesempatannya.
“Jangan mimpi!” Derren dengan kasar mendorong Maya melewati Diki dan Thada keluar dari ruang rawat Aira.
Diki dan Thada meninggalkan rumah sakit di susul dengan Maya yang meminta Thada untuk mengantarkannya pulang. Diki dan Thada berpisah di persimpangan jalan karena arah yang tak sejalur.
Di tengah perjalanan, Thada sepertinya mengerti kalau Maya ingin melakukan hal yang tak baik untuk Aira. Dengan sengaja Thada memberhentikan motornya di sebuah jalan yang terlihat sangat sepi. Maya dengan ragu-ragu, turun dari motor Thada.
“Kenapa berhenti?” Tanya Maya sedikit takut.
“Gue gak pernah mengatakan ini pada siapapun. Karena gue gak pernah seserius ini menghadapi orang. Gue cuma mau peringatin ke elu, sekali lu macem-macem dengan hubungan Aira dan Derren. Lu ada keluarga elu akan merasakan akibatnya!” ancam Thada.
“Lu mau ngancem gue?” tanya Maya tersenyum smrik.
“Mungkin lu gak kenal dengan nama Takada hikaru, tapi papa lu akan tau siapa dia. Tanyakan siapa beliau dan kalau lu masih nekad untuk melakukan hal yang bersifat mencelakai Aira, maka ingat nama Takada Hikaru!” Thada dengan teganya meninggalkan Maya di jalanan sepi yang tak jauh dari gang rumahnya.
Selama di perjalanan Maya terus saja mengomel karena di tinggal begitu saja oleh Thada.
“Memang siapa dia? Berani sekali menurunkan gue di tengah jalan seperti tadi! Awas aja kalau ketemu lagi, gak akan gue ampunin lu!!” omel Maya tak berhenti hingga ada sebuah mobil menghampirinya.
“Thada Gila!!” teriak Maya sebelum dia di kagetkan oleh klakson mobil yang mengikutinya ndari belakang.
“Kenapa kamu teriak-teriak begitu Maya?” tanya papa Maya dari dalam mobilnya.
“Jengkel pa, masak Maya di turunin di jalanan sepi kaya gini?” adu Maya pada orang tuannya.
“Siapa yang nurunin kamu di sini?” Tanya Papanya.
“Temen pa. Pa, papa kenal yang namanya Takada Hikaru?”
“Takada Hikaru? Darimana kamu kenal beliau?” papa Maya malah balik bertanya.
“Tadi temen nyuruh Maya tanya ke papa, siapa Takada Hikaru. Emang siapa sih pa?” Maya semakin penasaran karena papanya juga nampak kaget.
“Takada Hikaru ya?”
Sebenarnya siapa Takada Hikaru? Kenapa seharian ini Maya di bikin pusing oleh oarang-orang yang ada di dekatnya? Maya tak tau apa yang sebenarnya membuat dirinya pusing oleh hal-hal yang bukan pelajaran.