Istri seutuhnya

1019 Kata
Pembersihan kandungan sudah di lakukan, kini Aira sudah beristirahat di ruang rawat. Derren serta kedua orang tuanya menunggui Aira di luar ruangan. Derren melihat Diki datang seorang diri, berjalan perlahan dan pasti mendekatinya.   “Ngapain lo ke sini?” tanya Derren dengan nada yang tak bersahabat sama sekali.   “Gue mau jenguk Aira,” ucap Diki merendah.   “Aira baru saja selesai kuret, besok aja lu balik ke sini,” pinta Derren menurunkan volume suaranya.   “Gue gak tau apa yang terjadi di antara kelian berdua. Tapi gue mohon jangan pernah lu sakiti Aira,” ucap Diki yang tek mau sahabat sekaligus orang yang di cintainnya kenapa-kenapa.   “Gue gak akan pernah membuat dia sakit. Tapi gue gak bisa buka-bukaan di sekolah, itu juga untuk melindungi Aira.” Derren merasa sangat respect pada sahabat sang istri.   “Jauhi Maya!” pinta Diki sebelum meninggalkan Derren bersama kedua orang tuannya.   Setelah kepergian Diki, Boy dan Miranda langsung memberondong anaknya dengan pertanyaan. Derren menjelaskan apa yang terjadi di antara Diki, Thada dan juga Aira.   “Jadi ketiga oranga itu bersahabat sudah sangat lama ma, gak mungkin Derren memisahkan pertemanan seperti itu.” Jelas Derren.   “Yang penting kamu jaga Aira baik-baik, mama sama papa sudah sangat bahagia,” Boy berpesan pada sang putra.   “bener juga apa yang di katakan anak tadi. Kamu garus menjauhi Maya deh mulai sekarang,” Pinta Miranda membenarkan apa yang di ucapkan Diki tadi.   “Iya ma, Tapi apa gak apa-apa kalau aku jauhi Maya?” tanya Derren, mengingat saham milik papanya Maya itu cukup besar   “Jauhi saja, itu juga demi hubunganmu dengan Aira. Papa tau, Maya memang sudah keterlaluan sama kamu. Papa akan coba mencari donatur tetap lainnya,” Boy mencoba mengabil jalan tengah untuk hubungan putra satu-satunya.   “Baiklah kalau begitu pa, Nanti Derren akan bantu papa sebisanya.” pungkas Derren sebelum masuk ke dalam ruang rawat Aira.   Malam ini Derren menemani Aira bermalam di rumah sakit sampai besok siang dia sudah bisa meninggalkan rumah sakit.   ***   Pagi menyapa, Miranda dan Mawar sudah datang sebelum Derren dan juga Aira bangun. Kedua orang itu menyaksikan kemanjaan seorang Derren yang tidur memeluk Aira. Ikut tidur di brankar yang di tiduri oleh Aira.   Merasa ada yang membelai rambutnya, Aira pun terbangun dari tidurnya. Aira kaget dengan kedatangan dua orang yang paling di hormati itu melihat Derren yang memeluknya semalaman.   “Mama, dari tadi?” Kaget Aira.   “Stt biarkan Derren tidur, mama kesini cuma mau rapiin barang-barang kamu saja. Itu sudah rapi, Mama pamit pulang dulu ya,” Pamit kedua orang itu dengan senyum yang membuat Aira malu.   “Derren, bangun!” masih dengan suara seraknya, Aira membangunkan suaminya.   “Masih ngantuk Ai,” Jawab Derren dengan mengeratkan pelukannya.   “Ada mama,”   Derren langsung bangun dan melihat ke sekitar.   “Mana?” Tanya Derren yang kelabakan.   “Udah pulang.” jawab Aira sambil bangun dari tempat tidurnya.   Aira bersiap untuk pulang, sedangkan Derren mengurus administrasi. Untuk syarat keluar dari rumah sakit. Karena keluarga pada sibuk semua, Airra hanya di temani Derren saat keluar dari rumah sakit.   Sesampainya di rumah Derren langsung mengajak Aira untuk beristirahat di kamar. Aira merasa bosan pun menolak untuk beristirahat di dalam kamar.   “Jangan macem-macem, lu masih belum boleh keluar jalan-jalan. Inget, lu habis kehilangan anak, bukan kehilangan boneka yang bisa beli lagi,” Derren memaksa Aira untuk tetap mengikutinya beristirahat di kamar.   Dengan teraksa Aira pun mengikuti sang suami yang terlihat lebih galak sekarang.   Setelah seharian beristirahat, Aira benar-benar merasa sangat jenuh. Ingin rasanya dia keluar kamar, bahkankeluar dari rumah. Tapi Derren selalu berada di dekatnya. Seperti saat ini Derren tengah menikmati tontonan di layar datar yang ada di kamarnya bersama dengan Aira.   “Derren, gue pengen bubur ayam yang ada di dekat kantor elu,” sengaja Aira meminta bubur ayam yang teramat jauh dari rumahnya.   “Ya sudah, siap-siap dulu sana,” Derren keluar kamar dan menunggu Aira berganti baju yang lebih hangat.   Jam tujuh malam, Aira dan Derren keluar rumah untuk menghilangkan stres dengan alasan mencari bubur ayam. Di tengah jalan Derren membelokkan mobilnya ke arah pusat perbelanjaan yang lumayan jauh dari rumah.   Sebelum keluar dari mobilnya, Aira sempat merengek pada Derren karena mengajaknya ke Mall namun tak mengatakan di awal. Aira yang hanya memakai baju tidur berlapis gardigan pun merasa malu untuk masuk ke dalam mall tersebut.   “Derren, tega banget sih lu ngajak gue ke sini tanpa bilang lebih dulu,”rengek Aira sebelum keluar dari mobilnya.   “Mau apa emangnya kalau gue bilang?” Derren memainkan pipi Aira dan membuat bibirnya maju seperti p****t ayam.   “Mau ganti baju yang lebih pantas lah, masak pakek baju tidur ke mall sih,” Aira kembali merengek dengan kemanjaannya.   “Kamu pakai apa saja juga cantik kok. Sudah gak usah ribet, nanti di dalem kita belanja baju,” bujuk Derren agar istrinya itu mau keluar dari mobil.   “Janji mau di beliin baju?” ucap Aira memastikan ucapan sang suami.   Setelah bersepakat, Aira akhirnya mengikuti suaminya untuk masuk kedalam Mall tersebut. Karena memang merasa sangat lapar, Airran dan Derren langsung menuju restoran yang menyediakan bubur sehat untuk orang yang baru melahirkan.   Saat mereka sedang menikmati makanan, rupanya mereka berdua menjadi pusat perhatian di restoran itu. Entah karena Aira yang memang memakai baju tidur, atau apa. Mereka juga tak begitu menghiraukan.   Aira melihat Derren yang terlihat santai menikmati makan malamnya. Aira tersenyum namun air matanya menetes tanpa bisa ia membendungnya.   “Kenapa nangis?” Tanya Derren yang menyadari jika istrinya tengah menatabnya.   “Kita kehilangan calon bayi kita kemari, tapi kita masih bisa menikmati makan malam seperti ini. Gue kira lu akan meninggalkan gue setelah kejadian ini,” Aira tak mampu menahan harunya.   “Ini kesalahan kita, jadi gue gak akan meninggalkan elu cuma gara-gara hal ini. Kalau di pikir lagi, elu yang sangat di rugikan dalam hal ini. Kamu kehilangan apa yang ada dalam diri elu, elu yang merasa sakit. Kalau gue gak ngerti hal itu dan cuma mau enaknya aja, berarti gue bego jadi seorang suami,” Derren membelai lembut rambut Aira dengan penuh kasih sayang.   Airra benar-benar bahagia di buat oleh Derren.dia tak menyangka jika suami yang di nikahinya karena sebuah kesalahan itu bisa memiliki pemikiran seperti itu terhadapnya.   “Gue ngerasa menjadi seorang istri yang seutuhnya,” ucap Aira dalam tangisannya.   “Memangnya selama ini lu gak merasa jadi istri gue?” Aira menggelengkan kepala.   “Apa gue gak pernah muasin elu?” Goda Derren dengan sebuah kerlingan satu matanya.   “Jangan menggoda, Derren!” ucap Aira menahan rasa malunya.   “Ya sudah cepat makan, katanya mau belanja baju,” pungkas Derren dengan menyuapkan daging miliknya pada Aira.   Tanpa mereka sadari, rupanya di tengah-tengah pengunjung yang menatap padanya. Ada seseorang yang melihat Derren dan Aira menyuapkan makanannya dengan sangat mesrahnya. Memfidiokan kejadian itu lalu menyebarkan di group kelas dengan nama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN