Waktu tiga hari untuk berjuang demi kelulusan, sudah berlalu. Aira masih saja belum tidur meski hari sudah hampir berganti. Derren yang sudah tidur dari jam sepuluh malam itu tiba-tiba terbangun, saat ingin memeluk Aira, tapi tak mendapati istrinya di sampingnya. Derren mencari Aira dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kamarnya. Derren melihat pintu kamar terbuka, dan lampu luar kamar masih menyala terang. Derren berjalan keluar kamar dan mendapati istrinya duduk di meja makan dengan bertopang dagu. “Apa yang buat lu gak tidur?” tanya Derren membelai rambut Aira dari belakang. “Kira-kira jawaban gue tadi bener gak ya?” Tanya Aira yang rupanya masih memikirkan apa yang sudah di tulisnya tadi. “Astaga, lu masih mikir itu? Sudah lah, sekarang kita tidur. Biar beso

