Dalam kekalutan pikiran, Derren memilih untuk mandi sebagai pereda rasa panas di kepalanya. Aira membiarkan apa yang di lakukan suaminya, dia tau jika saat ini Derren membutuhkan pelampiassan. Aira juga tak menyangka jika dari pada marah, Derren lebih memilih untuk mandi. Tak ada kata lagi yang terucap antarea Derren dan Aira setelah selesai mandi. Aira juga mendiamkan Derren yang mungkin masih memiliki emosi di dalam hatinya. Aira meninggalkan suaminya untuk tidur duluan. Malam memang berlalu dengan diam dan sunyi, tapi siapa yang sangka. Dalam kediaman Derren ada sesuatu yang tak akan pernah padam saat bersama dengan Aira. Nafsu. Ya, Derren tak pernah bisa mengintrol hal itu selama bersama dengan Aira. Dalam tidur lelapnya, Aira tak merasakan apa pun. Tapi ketika pagi m

