Sudah hampir empat jam sejak kejadian hilangnya kesadaran Fawnia. Perempuan cantik yang kini masih memejamkan mata itu mulai bergerak pelan, kepalanya ia gerakkan ke kanan dan ke kiri tak beraturan. Bibir tipisnya bergerak menyuarakan sesuatu yang hampir tak terdengar jelas di telinga. “Aku membencimu bang...” “Aku membencimu.” ulang Fawnia beberapa kali dengan kesadaran yang masih belum pulih. Beberapa orang yang menunggui Fawnia hanya bisa berharap dalam cemas akan kesadaran perempuan yang tengah dilanda kemalangan bertubi itu. Lirih, gendang telinga Fawnia terusik dengan perdebatan di sekitarnya. Dia memang belum siuman setelah tindakan dokter beberapa jam lalu atas dirinya, namun entah bagaimana telinganya masih peka dan sangat jelas mendengar semua suara di sekelilingnya. Ada sua

