Bab 17. Makan lo boleh nggak?

1016 Kata

"Malam apa?" tanya Sakha asik menyendok nasi tanpa memedulikan raut rumit Xella yang kemudian mendengus. "Malam pertama, kedua, ketiga? Malam mana yang lo maksud, Boncel?!" "b*****t lo ngatain gue apa? Boncel?" Dengan entengnya Sakha mengangguk lalu meneguk segelas air putih. "Lo pendek, boncel. Mau gue piting juga nggak bisa karena PENDEK." "KA!" Xella balas berteriak. Meja makan jadi ricuh karena Sakha melempari Xella dengan irisan timun lalu dibalas juga oleh Xella, alhasil mereka perang timun membuat meja berantakan dan basah. "Ah bodo, deh. Nggak guna," maki Xella meninggalkan Sakha seorang diri. Ditinggalkan oleh gadis itu membuat redup tawa di wajah Sakha berhenti dengan mendung. Pemikir keras begitu disinggung jadi kepikiran terus bahkan yang tadinya lahap menjadi nggak nafsu.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN