Cyrene mengentakkan kaki, tetapi api itu tak kunjung menghilang dari kakinya. Saat putus asa menahan sakit fisik dan hatinya, dia ingin sekali berharap pada Ozzazin. Tetapi, sebelum dia melancarkan harapan itu, sesuatu yang dingin menjalar di tubuhnya. Shrink! Shrink! Api-api itu berubah menjadi es dan menyisakan asapnya saja. Seluruh api di rumah Cyrene berubah menjadi es. Tepat ketika seorang gadis berdiri di hadapannya, api di kaki Cyrene berubah jadi es. Bola mata Cyrene melebar tak percaya. “Kerie?” katanya dengan suara bergetar. Gadis dengan rambut kepang satu itu berlutut di depannya. Tangannya mencoba melelehkan es di kaki Cyrene dan menggantinya dengan angin sejuk. Kini yang terlihat hanya sisa terbakar saja di kulit mulus Cyrene. “Maaf aku terlambat,” kata gadis itu dengan n

