Sejak sadar beberapa saat yang lalu, entah mengapa Heksa terus menangis. Tubuh kurusnya meringkuk dengan posisi menghadap jendela rumah sakit. Namun, tidak satu orang pun tahu alasannya. Setiap ditanya, anak itu sama sekali tak memberi jawaban. Semakin sakit saja Reksa melihatnya. Pemuda itu menghela napas berat, dengan tangan yang tak lepas menggenggam jemari kembarannya. "Dek, lo tahu, kan, kalau gue lemah banget urusan memahami apa yang lagi lo rasain? Gue enggak akan tahu apa pun selama lo terus diam. Tapi, gue bahkan enggak tahu gimana caranya bikin lo terus terang tentang semuanya." Tangis Heksa justru semakin deras. Tangannya yang digenggam Reksa pun setengah terkepal, balik menggenggam kakaknya. Sebelah tangan Reksa terulur mengusap punggung sang adik, berusaha meyakinkan bahwa

