Aruna tidak tahu sudah berapa lama ia tak sadarkan diri. Ketika terbangun ia sudah tidak berada di ruang operasi lagi. Kini ia sudah ada di kamar rawat inapnya. Orang yang pertama kali dilihatnya adalah Bu Menik dan Ranti. Kedua wanita itu segera mendekat ke samping ranjang pasien. “Gimana keadaan kamu? Apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya Ranti tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Begitu juga Bu Menik. Wajahnya sarat akan kekhawatiran. Namun wanita itu tidak bisa menunjukkan perhatiannya secara blak-blakan. Ia hanya tersenyum tulus dan menyentuh punggung tangan Aruna. “Tuan Batara mana?” tanya Aruna. “Tadi Tuan Batara berpesan kalau kamu sudah bangun disuruh menghubungi dia. Tadi dia buru-buru kembali ke rumah setelah kamu selesai operasi.” “Oh,” jawab Aruna seadanya.

