Bab 8

1215 Kata
8. PERNIKAHAN DINI Hampir Di Lecehkan Penulis:Lusia Sudarti Part 8 * Tak terasa aku sudah hampir satu bulan jauh, dari orang tuaku. Apa kabar ya mereka?" Saat ini, usiaku menginjak empat belas tahun, dan aku benar-benar tidak menduga. Jika akan seperti ini perjalanan hidup yang harus aku lalui," lirihku dalam hati. Entah mengapa, seolah hilang semangat untuk, menjalani hari-hari yang terlalu monoton bagiku Bangun pagi, memasak, mencuci baju sendiri, tiduran, begitu seterusnya. Sudah seperti Ibu rumah tangga saja. Aku tak pernah tau, sampai kapan kehidupan yang aku jalani seperti itu. 'Oh Tuhan...sampai kapan aku begini? Apakah Engkau merencanakan sesuatu yang indah buatku?" lirihku dalam hati. Aku hempaskan nafas yang terasa berat, seperti beratnya beban hidup ini. Di usianya yang masih sangat muda ini seharusnya aku sibuk mengejar cita-citaku. Tapi aku bergulat dengan dapur? Aku menangis dalam diam, kususut bening yang mengalir dipelupuk netraku dengan punggung tangan. Hatiku teramat pilu, siapa pun yang melihat kisah hidupku pasti akan trenyuh iba. Menjelang malam, tugasku sudah selesai.. Aku bersiap merebahkan tubuhku, apa pun akan kujalani walau tersendat," gumamnya lirih. Entah mengapa hatiku terasa tak tenang malam ini, seperti akan terjadi sesuatu! Kupeluk bantal dan kuraba gunting yang selalu kusimpan untuk berjaga-jaga. Bukan apa-apa, karena disini laki-laki semua, tak ada salahnya kan?" Krieeett! Aku tersentak kaget. Siapa yang masuk kamarku? Bukankah tadi telah kukunci?" pikirku. Saat aku hendak beranjak memastikan jika semua aman tiba-tiba daun pintu terbuka. Di saat kebingungan dan ketakutan tiba-tiba sesosok orang yang begitu kukenal bahkan tetangga d3sa yang dipercaya orang tuaku untuk menjagaku. Tega masuk tanpa ijin dan hendak berbuat tidak senonoh kepadaku. Aku mundur untuk meraih gunting dibawah bantal, tapi ternyata gerakan kukalah cepat. Ia menangkap tanganku dan mengunci di dinding, aku menahan nafas, aku takut setengah mati. Ingin berteriak, mulutku dibungkam dengan tangan. "Aduuhh," desisku. tubuhku yang mungil terhempas diatas kasur. "Ma-au apa kamu??" ketusku dan berusaha bangkit dari kasur. Sorot kedua bola matanya menatap tajam dan tersenyum sinis. Dia menarikku dengan kasar dan menghempaskan tubuhku kembali ketika aku berhasil bangun dari pembaringan. Dan detik berikutnya. B*j*ng*n itu berhasil menindih tubuhku. Mulutku dibekap agar teriakanku tak terdengar orang-orang diluar. Aku pasrah dan berdoa supaya Allah melindungiku. Air mataku mengalir dan dadaku terasa sesak. Saat b*j*ng*n mendaratkan bibirnya dibibirku. Dan kedua tangannya mencengkram wajahku hingga terasa sakiittt. "Aaawww," desisku yang tertahan ditenggorokan. Detik berikutnya dia melepaskan tubuhku. Sambil berkata dengan nada sinis. "Dasarnya jal4ng tetap jal4ng!" Sergahnya sembari berjalan keluar. Lita benar-benar tak menduga jika akan terjadi seperti ini. Peristiwa itu membuatnya trauma, takut dan sakit hati. Pengalaman pahit yang baru saja ia alami membuatnya berfikir untuk melanjutkan bekerja atau tidak! 'Ya Allah, apa salahku?" jeritku dalam hati. Tangisku pecah tanpa suara, aku takut semua orang tahu, isaknya begitu pilu. Dan semuanya ia pendam sendiri.. Aku duduk dibale bambu didepan mess, termangu, aku bingung, mau berhenti atau lanjut? Aku takut disini," lirihku. Tiga bulan telah berlalu, aku ingin berhenti dari pekerjaanku." Lebih baik seperti itu, karena aku sudah merasakan ancaman jika aku tetap bertahan. ??? Siang ini aku melakukan pekerjaan seperti biasa. aku membantu Ibu memasak, dari Ibu aku betul-betul belajar aneka masakan, entah sayur, ikan mau pun daging. Endang orang yang humoris, mereka selalu bercanda, tak terasa selesai semua, dan aku menghidangkan dimeja makan. Dari Bapak, aku belajar cara menghargai makanan, dipiringnya, tak pernah menyisakan sebutir nasi pun. Disuatu hari ketika kami sedang menyantap makan malam. Beliau menasihatiku panjang lebar, aku mendengarkan dengan seksama. "Lita, kita harus bisa menghargai makanan. Apa maksud menghargai? Yaitu jangan membuang makanan, meski hanya sebutir nasi. Jika kamu lihat kehidupan dikota, mungkin kamu menangis. Mereka orang-orang yang kurang beruntung, susah payah untuk mendapatkan sebutir nasi," beliau menasehatiku, dan aku begitu trenyuh mendengar wejangan-wejangan beliau. "Iya Pak, terimakasih atas nasihatnya." ucapku. Waktu terus berjalan, aku termenung disuatu malam yang masih terasa sunyi, para karyawan belum ada yang keluar, mungkin lelah. Aku terkejut ketika ada yang tiba-tiba menegurnya dari samping. Sontak aku menoleh kesumber suara, ternyata Bapak dan Ibu telah berada disampingku. Seperti biasa mereka akan menghabiskan waktu diluar bercerita bersama para karyawan. "Lit, kok melamun? Pamali jangan melamun malam-malam begini," suara Bapak mengagetkan aku. Aku tergagap... "Iya, eh enggak kok Pak," jawabku berbohong. "Sepertinya ada yang membuatmu risau Lit!" Ibu mengamati wajahku sesaat. "Iya Bu," aku menunduk. Untuk mencari kata dan menanti kesempatan, untuk berhenti dari pekerjaan ini. "Kenapa?" Sahutnya seraya menghepaskan tubuhnya diatas bale bambu didepanku. "Saya hanya ingin melanjutkan pendidikan Bu," Bapak kedalam sebentar Bu, mau ambil data-data untuk dikirim keatas melalui email," beliau pamit kepada Ibu. "Iya Pak," jawabnya, kemudian ia fokus kepadaku. "Semoga aja ya Lit!" ??? Keesokan malamnya... Akhirnya aku memberanikan diri. Saat makan malam ku utara kan keinginanku untuk berhenti kerja.. "Pak Lita mau berhenti Pak!!" ungkapku. uhuuk! Bapak kaget sampai tersedak. Begitu juga dengan Ibu. Terkejut dengan ucapanku. Aku menunduk tidak berani menatap mereka berdua. "Kenapa Lit? Apa gajinya kurang?" tukas Bapak. "Bukan Pak, cuma pengen lanjut sekolah aja Pak," dalihku. "Oh gitu, ya udah kalo gitu keinginan kamu. Besok biar diantar sama Ibu dan Nugi." Sambungnya. Aku kaget ketika mendengar sebuah nama dari kedua bosku. "Apa Pak Nugi?" tanyaku, kutatap beliau dengan pandangan tak percaya. "Iya kenapa Lit? Apa ada masalah sama Nugi?" selidik Bapak.. Ibu hanya mendengarkan kami. "Hmm enggak apa-apa Pak." ucapku tergagap. "Ya sudah, tapi beneran gak ada apa-apa sama Nugi!" imbuhnya. "Betul Pak, gak ada apa-apa kok," aku meyakinkan mereka. "Bu tolong ambilkan amplop ditas Bapak yang diatas lemari." titahnya kepada Ibu. "Baik Pak!" Jawab Ibu, kemudian beliau melangkah keluar menuju kamar mereka. "Ini gaji kamu bulan ini sama bonusnya." sang bos memberi uang gaji kepadaku. Kedua bola mataku berbinar menerima amplop tersebut, ia mengukir kenangan pahit yang suatu saat kelak akan menjadi pemicu semangatnya untuk bangkit dari keterpurukan. "Terima kasih Pak, Bu?" ucapku. "Iya Lit, sama-sama." "Maaf kalo selama ini kalau ada kata-kata kami, yang menyakiti kamu," sambung Ibu. "Oh tidak Bu. Justru saya yang minta maaf jika pekerjaan saya kurang memuaskan Bapak juga Ibu." jawabku. "Tidak Lit, sebenarnya Ibu keberatan kalo kamu berhenti. Ibu sudah sangat cocok sama kamu," kedua netra Ibu berkaca-kaca. lalu kupeluk Ibu. Kemudian mereka berpamitan untuk masuk kekamar. Aku membereskan semuanya, kemudian rebahan dikasur untuk melepaskan lelah, terbayang kala Ibu memeluk tubuhku tadi. "Maaf ya Bu, Lita tetap sayang sama Ibu." Gumamku dalam kesunyian. Aku ltak akan tau apa yang akan terjadi kelak setelah ia berhenti dari bekerja. Apa yang kan terjadi didepan sana? Entahlah, aku tak tahu?" Ia menggumam sembari bangkit untuk membereskan pakaiannya untuk disusun ditas. Entah apakah aku bahagia atau bagaimana setelah ia meninggalkan tempat ini! Sepanjang malam aku tak dapat memejamkan kedua netraku. Hatinya resah dan gelisah, kemudian tak terasa aku pun terlelap dalam tidur yang berhias impian tentang sekolah. Keesokan paginya aku terbangun lebih awal, aku segera menyiapkan roti tawar, selai, telor ceplok, blueband dan alat-alat makan. Setelah selesai aku segera membersihkan tubuhku, memeriksa semua barang-barang milikku agar tak ada yang tertinggal. Semua beres dan aku kembali kedapur untuk memasak sesuai resep yang Ibu berikan. Pagi ini aku masih memasak untuk Ibu dan Bapak. Karena ini hari terakhir aku disini!" Sambil menyiapkan bumbu fikiranku melanglang buana. Selamat tinggal semua... Di sini aku mendapatkan pengalaman hidup untuk kujadikan pelajaran berharga," Sifat manusia itu berbeda, rambut sama hitam, tapi kedalaman hati tiada yang tahu, kecuali Allah SWT dan dia sendiri. Bersambung Mohon dukungan para pembaca setia nya Emak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN