Bab 9

1056 Kata
9. PERNIKAHAN DINI Berhenti Dari Kerja Penulis:Lusia Sudarti Part 9 *** Pagi ini aku masih memasak untuk Ibu dan Bapak Karena hari ini, hari terakhir aku disini! Selamat tinggal semua," lirihku dalam hati. Di sini aku mendapatkan pengalaman hidup untuk kujadikan pelajaran berharga. Dalam perjalanan ini kugunakan waktu untuk berfikir. Semoga Ibu akan memberikan ijin dan kesempatan kepadaku untuk kembali sekolah. Aku terkenang hari-hariku ditempat kerjaku. Pahit dan manis kureguk dalam waktu bersamaan. Telah begitu banyak air mata yang kutumpahkan. Sifat manusia, itu berbeda, rambut sama hitam, tapi kedalaman hati tiada yang tahu. Kecuali Allah SWT dan diri sendiri. Apakah kepulanganku akan membawa kembali kesekolah seperti cita-citaku selama ini? Atau malah merubah semua? Dihatiku tak ada keinginan lain, hanya sekolah, sekolah dan sekolah! Jika untuk sekarang ini aku betul-betul tak dapat lagi kesempatan untuk melanjutkan pendidikanku, suatu saat aku pasti dinikahkan di usia muda! Alunan musik slow rock dari album Nike Ardila, menemani perjalanan untuk mengantar kepulanganku kembali kerumah. Dalam perjalanan aku tidak banyak bicara. Anganku jauuh menerawang, terbayang jika aku benar-benar bisa melanjutkan sekolah lagi dan menggapai semua cita-citaku.. Aku pasti akan menjadi Anak yang membanggakan kedua orang tuaku.. Tanpa kusadari senyumku terukir." Ternyata Ibu memperhatikanku sedari tadi. "Heemm, kok senyum-senyum Lit? Senang sekali kayaknya kamu pulang, ada yang dirindukan nih?" goda Ibu, ia menoleh kepadaku. Aku menoleh kepadanya dan ku ulas senyum. "Enggak kok Bu, Lita hanya teringat kekocakan Ibu dirumah." sahutku sembari tersenyum kembali. "Ohh ya sudah, kirain ada apa kok senyum-senyum sendiri, jangan-jangan kamu kesambet." timpal Ibu kemudian, ia melirikku dengan ekor matanya. Bibirku menganga mendengar candaan beliau, untung segera sadar kemudian aku menutup mulutku dengan kedua tanganku. "Iih Ibu bikin takut aja," sungutku. "hahaha, kamu ini lucu banget sih, gitu aja takut." sambung Ibu seraya tertawa terbahak. Ternyata sopirnya, orang yang paling aku benci ikut tertawa, ia menatapku dari kaca spion dalam mobil. Aku pun cuek bebek, pura-pura tak melihat aja. Sifat manusia, itu berbeda, rambut sama hitam, tapi kedalaman hati tiada yang tahu. Kecuali Allah SWT dan diri sendiri. Aku bahagia bisa kembali pulang, walau entah bagaimana menghadapi sikap Ibuku nanti. Yang pasti, tempat teraman adalah dirumah kedua orang tuaku, aku takut berada diperantauan, yang terletak didalam hutan, dan mereka adalah kaum Adam, aku bersama Istri bos besar yang berjenis kelamin perempuan. Kita takkan mengetahui apa yang terjadi esok, tak akan pernah tau. Seperti saat ini, takdirku harus putus sekolah, dan menjadi pembantu. Hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Tidak pernah, bahkan dalam mimpiku sekali pun. Tetapi kini aku mengalami semua itu. Bahkan hal yang paling buruk hampir kualami. Aku betul-betul takut akan hal-hal yang membahayakan diriku sendiri. Kita tak akan pernah mengetahui perihal hati manusia, kadang mereka menganggap kita begitu lemah, bahkan mereka menganggap kita perempuan nakal. Keputusanku untuk pulang adalah hal yang paling tepat menurut pemikiranku. Dari pada aku nantinya bisa celaka disana! Apakah kepulangan Lita, akan membawanya kembali kesekolah seperti cita-cita Lita? Sekitar sepuluh menit kami pun sampai dirumahku yang sangat sederhana. "Lit, Lita, kita udah sampai nih, sampai kapan kamu mau duduk dimobil," aku terkejut ketika tangan seseorang menyentuh pundakku perlahan. Sontak aku menatap kesamping, dimana sebuah suara memanggil namaku. "Ayo turun, katanya mau pulang! Giliran sudah sampai, kok gak mau turun!" ujar Ibu bos sembari menatapku dalam senyuman. Sementara sang sopir pun demikian, ia enggan untuk turun dari mobil, entah takut atau kenapa! Bodo amit lah, aku gak peeduli mau masuk atau gak," lirihku dalam hati. "Gi ayo turun ," titah bos kepada Nugi. "Iya Bu," jawabnya sembari melepas sabuk pengaman. Nugi pun keluar dari dalam mobil, kemudian aku menyusul keluar mobil. Aku menatap keluar kaca mobil, didepan rumah telah berdiri Ibu dan Adikku dan mereka berdua menyambut kedatanganku beserta bos perempuan yang mengantarkan aku. "Assalamualaikum" Endang mengucap salam kepada Maria Ibunda Lita. "Waalaikumsalam, mari masuk Bu?" ucap Ibu. Adikku bergelayut manja kepadaku, mungkin ia rindu kepadaku setelah sekian bulan aku tak berada dirumah. "Mbak, aku punya jaket yang dibeli dari hasil jual es lilin loh!" Ia menunjukan jaket warna cream kepadaku. "Oh iya," aku meraih jaket itu lalu mengamatinya dan kuberikan kembali kepadanya. "Bagus kan Mbak?" Tanya nya sambil tersenyum dan menyimpan kembali jaket ditangannya kedalam lemari baju. "Bagus kok," jawabku. "Tom, Tomi ayo main yuk," dari luar terdengar panggilan teman-teman Tomi yang mengajaknya bermain. "Sebentar?" Teriak Tomi, ia pamit kepadaku dan bos perempuanku. Aku mengangguk dan berteriak kepadanya. "Jangan lama-lama dan jangan jauh-jauh ya!" "Iyaaa Mbak," jawabnya dari kejauhan. Aku hanya menggelengkan kepala. Mendengar jawaban Tomi. Aku melangkah menuju kursi dan duduk bersama bos perempuanku. Nugi hanya mengekor dibelakang kami dan mengambil tempat duduk diseberang kami. "Oh iya terima kasih Bu!" jawab bosku ramah. "Silahkan duduk Bu, maaf rumahnya jelek," kata Ibu kembali seraya mempersilahkan tamunya masuk. "Ah enggak apa Bu, yang penting hujan gak kehujanan, panas gak ke panasan," tutur bosku lagi sambil tersenyum. "Iya Bu, Ibu betul," "Ibu mau minum apa? Teh panas atau es teh Bu?" tawar Ibuku kepada bos. "Enggak usah repot-repot Bu," tolak Ibu bos. "Cuma air kok. Enggak repot." Sahut beliau, lalu melangkah kedapur. "Heem kebetulan cuaca sedikit panas es teh aja deh Bu," jawab bos mengalah, karena emang betul sekali cuaca sedang panas terik siang ini. Aku pun merasakan demikian. "Oh baiklah, tunggu sebentar ya Bu," "Iya Bu, maaf jadi merepotkan." Sahut Endang sembari mengambil kipas dari dalam tas, kipas tangan yang begitu cantik. "Santai aja Bu, gak usah sungkan." Potong Ibuku. Kemudian Ibu melangkah kedalam ruang yang dijadikan warung bakso dan es. Tak berapa lama beliau keluar lagi. "Panas sekali ya Bu, maklum atapnya seng," jawabku seraya mengamati atap seng yang mulai rapuh. "Enggak apa Lit, yang penting masih bisa untuk bernaung!" Jawabnya yang juga memperhatikan atap seng rumahku. "Semoga suatu saat bisa menggantinya dengan genteng," "Amiinn," jawabku. "Gi, kenapa kamu kok diam saja dari tadi?" tegur Endang. "Enggak kok Bu!" Jawabnya singkat seraya tersenyum, aku diam aja, sama sekali tak peduli kepadanya. Kebencianku mengakar dalam hati terhadapnya. "Saya kedalam dulu ya Bu?" pamitku pada sang bos, rasanya tubuhku begitu pegal dan capek. Berbulan bekerja membuat tubuhku lelah, meskipun bukan pekerjaan berat tetapi rasanya meremukkan sendi-sendi tubuhku. Aku pamit ketika Ibu telah berada dihadapan kami. Beliau membawa baki dan biskuit kaleng dan juga dua gelas es teh. "Silahkan Lita, mungkin kamu lelah, sana istirahat." jawabnya. Aku pun melangkah ke kamarku. setelah mengucapkan terima kasih. Bersambung Wah, Lita pulang nih Mak. Kira- kira apa yang terjadi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN