2. Lama Tak Bertemu

1033 Kata
Dulu, Ofar paling males bangun di pagi hari. Biasanya paling cepat Ofar bangun pukul satu siang. Tapi masalalu membuatnya banyak berubah. Pagi ini Ofar sudah rajin mencuci mobilnya di depan teras rumah sambil manatanya tetap fokus ke arah rumah sebelah. Ia bisa melihat kesibukan Athaya di dapur dari jendela kaca rumah Athaya yang bening. Athaya masih cantik, sama seperti dulu. Bahkan lebih cantik sekarang. Tidak ada keriput di wajahnya, meski ia memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Pintu rumah Athaya terbuka. Ofar terus memperhatikan seseorang yang keluar dari rumah Athaya. Ternyata Ghufran dan Jasmine. "Aku berangkat dulu ya. sayang." Teriak Ghufran sambil memegang tangan Jasmine menuju mobil mereka. Lalu Ghufran berhenti melangkah. Ia menoleh sejenak ke arah Ofar yang terus memperhatikannya. "Hai," sapa Ghufran. "Saya baru lihat kamu di sini." Ofar menjatuhkan selang air ke lantai. Kemudian berjalan mendekati Ghufran. "Perkenalkan, saya Ofar. Tetangga baru di sini." Ofar mengulurkan tangan. Ghufran ingin membalas salam Ofar, tapi Jasmine menarik tangan Ayahnya seolah sedang ketakutan. "Kata Bunda, ini orang jahat," ujar Jasmine polos ketika menatap wajah Ofar dengan takut. "Sayang, ini bukan orang jahat. Ini tetangga baru kita." Ghufran berusaha menjelaskan pada anaknya. "Saya Ghufran." Akhirnya Ghufran membalas uluran tangan Ofar. "Oh iya, sebentar. Saya punya sesuatu." Ofar berlari cepat masuk ke dalam rumahnya. Beberapa detik kemudian Ofar kembali sambil menenteng kotak kue yang tidak jadi dia berikan kepada Athaya tadi malam. "Ini ada sedikit kue untuk tetangga baru saya." Ofar mengulurkan kotak kue tersebut pada Ghufran. "Ya ampun, terima kasih banyak. Anda nggak perlu repot-repot begini. Seharusnya, saya yang kasih makanan untuk tetangga baru di komplek kami." Ghufran terkekeh. "Mas ... Mas ...." Athaya muncul sambil membawa tas bekal suaminya. Ia menelan ludah kelat ketika melihat Ofar bicara dengan suaminya. Ia takut kalau Ofar akan mengatakan sesuatu yang bikin Ghufran jadi terkejut. "Iya sayang?" Ghufran menoleh. "Bekal kamu ketinggalan," ucap Athaya ragu. Sambil memperhatikan Ofar. "Oh iya, Bun, ini tetangga baru kita." Ghufran menatap Ofar setelah memperkenalkan Ofar pada istrinya. "Ini istri saya, namanya Athaya." Ofar hanya tersenyum. Entah apa yang dipikirkan Ofar saat ini. "Sayang, ini kamu bawa kuenya ke dalam ya." Ghufran memberikan kotak kue kepada istrinya. Ia kembali menatap Ofar. "Sekali lagi makasih banyak ya, Mas. Saya mau berangkat kerja dulu." "Oh iya sama-sama, Mas." Ofar melambai pada Jasmine. Ketika Ghufran membawa Jasmine masuk ke dalam mobil. Dan mobilnya melesat meninggalkan komplek. Setelah memastikan suaminya sudah pergi, Athaya buru-buru masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Ia menuju dapur dan membuka kotak kue pemberian dari Ofar. Happy Anniversary Athayang. Begitu tulisan yang tertera di kue tersebut. Panggilan khusus dari Ofar untuk Athaya. Athaya menggigit bibirnya kuat-kuat. Tanggal pernikahannya bersama Ghufran, sama dengan tanggal jadiannya saat bersama Ofar dulu. Athaya mengambil sendok dan mengacak-acak tulisan di kue tersebut sambil berteriak kencang. Ia kesal, kesal dengan keadaan yang membuat dia terjebak di antara kandang buaya dan kandang ular. Bell rumah Athaya berbunyi, bikin jantungnya mau copot. Athaya bergegas membuka pintu dan mendapatkan Ofar telah berdiri di hadapannya. Ketika Athaya ingin menutup pintunya kembali, Ofar langsung mendorong tubuh Athaya masuk ke dalam rumah bersama dirinya. Lalu menutup pintu. "Apa yang kamu lakukan?" Bentak Athaya tampak syok dengan sikap Ofar. "Kalau ada yang lihat kamu tiba-tiba masuk gimana? Pergi ... pergi dari rumahku." Athaya menarik tubuh Ofar. Tapi percuma saja karena tenaganya kalah dari tubuh Ofar. "Tha, kita harus bicara." "Apa lagi yang harus kita bicarakan, Far. Aku sudah menikah!" "Selama lima tahun, Tha. Selama lima tahun aku nunggu-nunggu momen ketemu sama kamu, sama anak kita." "Jasmine bukan anak kamu!" Bentak Athaya murka. "Oh ya? Terus anak siapa?" Ofar mencekram kuat lengan Athaya. "Kamu ingat satu hari sebelum hari pernikahan kamu? Kamu nginep di apartemenku. Dan aku pikir kamu nggak mungkin lupa dengan apa yang udah kita lakukan berdua." Perkataan Ofar membuat Athaya tersentak dan kembali mengingat masalalu. "Kamu bilang apa sama aku? Kamu pengin hamil anak aku agar pernikahan kamu gagal. Kalaupun nggak gagal, kamu pengin kita punya anak agar aku bisa mengunjungi kamu dan anak kita. Kamu ingat kan!? Semua itu kita lakukan atas permintaan kamu sendiri." Ofar bicara penuh emosional. Nadanya terdengar lantang sampai bola matanya merah. "Aku udah lupa! Aku lupa!" Athaya menarik tangannya kembali. "Jasmine anak aku dan Ghufran. Bukan anak kamu!" "Lalu kenapa namanya harus Jasmine?" Teriak Ofar. Bibir Athaya bergetar, ia mengggelengkan kepalanya. "Aku nggak tahu. Aku nggak tahu Jasmine darah daging kamu atau Ghufran. Karena ... aku juga berhubungan dengan Ghufran di malam pertama kami." Hati Ofar mencelos seperti ditancap dengan pisau tajam. Bahkan di hari sebelumnya, Athaya janji tidak akan bersentuhan dengan Ghufran. Tapi Athaya menginkari janjinya. "Jasmine harus tes DNA," ucap Ofar dengan yakin. "Nggak, aku nggak mau. Jangan pernah menyentuh Jasmine." Athaya menampar Ofar dengan kencang. Ofar mengusap wajahnya. "Tamparan kamu begitu kuat ya, Tha. Sama seperti tamparan Ibu kamu lima tahun lalu." Ofar terus mengenang masalalunya. Membuat Athaya ikut mengingat masalalunya yang kelam. "Kenapa kamu pergi ninggalin aku dan menikah sama laki-laki itu, Tha. Kenapa?!" Ofar berteriak sangat kencang. Athaya sampai memicingkan matanya karena takut melihat amarah Ofar yang sudah meluap. "Apa yang sudah kamu bilang dengan Ibu kamu sampai aku bebas dari penjara? Dan ketika aku ingin menemui kamu, pesta kalian sudah bubar. Kamu sudah menikah dengan laki-laki itu. Kenapa, Tha????!" Ofar sangat emosional. "Aku cari kamu kemana-mana, katanya kamu sampai pindah kota. Kamu memang ingin meninggalkan aku? Melupakan aku?" Ofar mencengkram erat kedua lengan Athaya sampai bikin tubuh Athaya bergoncang. "Jawab, Tha, jawab!!!" "Stop, Far, stop!! Cukup." Athaya menangis dan menjatuhkan tubuhnya di lantai. "Aku lakukan semua ini demi kebaikan kamu. Aku nggak mau kamu hidup di penjara." Air mata Athaya meriak membasahi wajahnya. "Aku bikin perjanjian sama Ibuku, Far. Jika Ibu bebaskan kamu dari penjara, aku akan menuruti semua keinginan Ibu. Termasuk menikah." Penjelasan itu baru pertama kali Ofar dengar. Selama ini Athaya telah mengorbankan dirinya agar Ofar tidak mendekap di penjara. Ofar ikut menjatuhkan lutut ke lantai dan membungkukkan badannya sambil menangis. "Maafin aku, Tha. Seharusnya aku bisa menjaga kamu lebih baik lagi. Seandainya aku sudah mapan, kamu nggak akan menderita seperti ini." Ofar menyentuh wajah Athaya dengan telapak tangannya. "Apa laki-laki itu baik sama kamu." Athaya mengangguk sambil menangis. "Syukurlah." Ofar langsung membawa tubuh Athaya ke dalam pelukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN