1. Kue Untuk Athaya
"Happy Anniversary sayang ...." Ghufran mencium kening Athaya setelah mereka melakukan ritual tiup lilin dan potong kue seperti yang mereka lakukan di tahun-tahun sebelumnya.
"Aku punya hadiah buat kamu." Ghufran mengulurkan sebuah kotak perhiasan pada istrinya. Athaya langsung membuka kotak tersebut dan terperanjat kaget melihat isi di dalam kotak tersebut adalah kalung berlian seharga dua puluh juta yang pernah Athaya lihat bersama Ghufran saat jalan-jalan di mall.
"Gimana, kamu suka?" Tanya Ghufran.
Athaya mendongak, matanya berkaca-kaca menatap Ghufran. "Ini terlalu berlebihan, Mas."
"Semua ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ketulusan kamu menjadi seorang istri dan juga Ibu dari anak kita. Anggap aja ini juga hadiah karena kamu berhasil melewati tahap lima tahun pernikahan kita dengan sabar dan tanpa bantuan asisten rumah tangga," ujar Ghufran yang bikin hati Athaya terenyuh. Meskipun dulu Ghufran sering menawarkan bantuan asisten rumah tangga, Athaya tetap menolak dan ingin mengurus rumah ini dengan tangannya sendiri.
Harusnya Athaya yang ngomong begitu ke Ghufran karena berhasil menjadi suami yang baik dan juga sabar. Bahkan, setelah lima tahun menjalani bahtera rumah tangga bersama Ghufran, baru kali ini Athaya disadarkan oleh kehebatan Ghufran sebagai seorang suami. Selama ini Athaya kemana saja? Lima tahun sudah Athaya harus hidup dengan pura-pura mencintai Ghufran. Dan sudah seharusnya Athaya mengesampingkan egonya demi rumah tangga mereka yang bahagia.
Bagaimana mungkin Athaya mengabaikan perasaan Ghufran yang tulus mencintainya selama ini.
"Kenapa nangis, sayang?" Ghufran mengusap wajah Athaya yang tiba-tiba saja bersimbah air mata.
"Maafin kalau selama ini, Mas. Karena aku masih gagal jadi istri kamu."
Ghufran tersenyum. "Kamu nggak pernah gagal kok, Tha. Sini ...." Ghufran mendekap tubuh istrinya dengan erat.
"Ih, Ayah sama Bunda pelukan." Suara Jasmine membuat pelukan Athaya dan Ghufran terlepas. Karena suasana romantis yang tercipta, mereka sampai lupa dengan kehadiran putri semata wayang mereka yang berusia lima tahun.
"Jasmine mau ikut Ayah peluk?" Ghufran merentangkan tangannya.
"Mauuuu!" Jasmine berlari ke dalam dekapan sang Ayah.
Bell rumah berbunyi. Athaya bangkit dari sofa, meninggalkan suami dan anaknya yang masih bersenda gurau di ruang tengah.
"Aku buka pintu dulu ya, Mas." Athaya berjalan menuju pintu utama.
Ketika Athaya membuka pintu rumahnya, ia dikagetkan dengan sosok laki-laki tinggi dan berwajah familier yang telah berdiri di hadapannya sambil mengulurkan kotak kue.
"Hai, ini kue untuk hadiah merayakan anniversay kalian yang ke lima tahun," ucap lelaki di depannya tanpa dosa. "By the way, aku tetangga baru kalian," lanjut lelaki itu lagi dengan senyuman ciri khas yang nggak mungkin pernah Athaya lupa.
Athaya membeku di tempatnya berdiri, ia sampai sulit membuka mulut untuk mengeluarkan sepatah dua kata. Apa yang telah dia lihat di depan mata seperti mimpi.
Laki-laki yang selalu memenuhi isi kepala Athaya, laki-laki yang sangat membekas di dalam hidup Athaya dan laki-laki yang begitu Athaya cintai melebihi rasa cinta Athaya kepada suaminya. Bahkan cinta Athaya dengan Ghufran selama ini palsu. Laki-laki itu, kini telah berdiri di depan mata Athaya dalam keadaan hidup. Setelah lima tahun mereka berpisah, mengapa baru sekarang mereka dipertemukan kembali ketika Athaya mulai mencoba untuk mencintai suaminya.
"Ofar ...." Suara Athaya bergetar. "Kamu ...."
"Apa kabar kamu sekarang?" Tanya Ofar.
Athaya tidak fokus. Ia memperhatikan penampilan Ofar dari atas kepala hingga ujung kaki. Ofar telah banyak berubah. Ofar yang dulu berantakan dan berpenampilan amburadul, kini menjadi Ofar yang berpenampilan rapi dan menawan.
Menawan?
Apa-apaan ini! Bagaimana mungkin Athaya masih berpikir kalau Ofar sangat menawan? Sadar, Tha, sadar! Kamu sudah memiliki suami dan anak. Batin Athaya tengah berperang dan ingin menampar wajah Athya sendiri.
"Baik. Kamu, apa kabar?" Tanya Athaya balik.
"Aku?" Ofar terkekeh geli. "Aku nggak pernah baik-baik saja selama lima tahun belakangan ini. Aku terus mikirin kamu, Tha."
Athaya menelan ludah. "Da-darimana kamu tahu rumahku?"
"Itu nggak penting. Yang penting aku sudah ada di sini untuk jemput kamu."
"Jemput?"
"Iya. Aku ingin bawa kamu kembali dan mengulang kisah kita yang dulu pernah dihancurkan oleh ibumu."
Kalimat Ofar bikin Athaya merasa ditampar.
"Sayang, siapa itu?" Suara Ghufra terdengar berteriak dari dalam.
"Maaf, Far, kamu harus pergi dari sini." Athaya ingin menutup pintu. Tapi Ofar menahan pintu Athaya.
"Kenapa? Kenapa aku harus pergi? Bukankah kita janji akan sehidup semati."
"Tapi sekarang sudah berbeda, Far. Aku sudah menikah!"
"Menikah ya?" Ofar tertawa renyah. "Bukannya kamu tidak mencintai suami kamu?"
Athaya diam cukup lama. Tanpa menunggu jawaban Athaya, Ofar sudah bisa membaca ekspresi Athaya.
"Kamu mencintainya." Tebak Ofar yang mampu bikin Athaya membisu.
"Lalu, kamu anggap aku sebagai apa? Mainan kamu? Ternyata selama lima tahun kita pacaran dan saling cinta, kalah begitu aja dengan hubungan pernikahan selama lima tahun tanpa dasar cinta? Secepat itu kah kamu ngelupain aku, Tha?"
Athaya menangis. Hidupnya kini seperti ada di dalam negeri dongeng.
"Kamu pikir mudah bagi aku untuk ngelupain kamu? Enggak, Far. Aku lelah menjalani hidup yang penuh dengan kepalsuan. Tapi, aku nggak bisa berbuat banyak selain mengikuti alur yang sudah Tuhan atur."
"Nggak, Tha. Alur kita bukan diatur oleh Tuhan. Tapi Ibumu! Kalau Tuhan nggak ingin kita bersatu, kita nggak mungkin di pertemukan kembali." Ofar berhasil menyentuh tangan Athaya. "Tha, please, kasih aku kesempatan sekali lagi untuk membuktikan dengan kamu. Selama ini aku rela mecari kamu, dan menunggu moment yang pas untuk ketemu kamu. Semua aku lakukan cuma buat kamu, Tha." Ofar juga meneteskan air matanya.
"Kita nggak mungkin lagi bersatu, karena cinta kita hanya sepenggal kisah dari masalalu."
"Sepenggal kamu bilang?"
Athaya tidak bisa berkutik. Dia hanya mampu membisu sambil memperhatikan Ofar yang tengah menangis.
"Bundaaa." Jasmine muncul di samping Athaya sambil menarik ujung baju Athaya dan menatap Ofar dengan takut.
Ofar buru-buru menghapus air matanya. "Hai sayang. Siapa nama kamu?"
"Jasmine, Om," ujar Jasmine polos.
Seketika mata Ofar menatap Athaya. Jasmine adalah nama anak impian Athaya jika menikah dengan Ofar. Apa jangan-jangan Jasmine ini anaknya?
Melihat ekspresi Ofar, Athaya segera sadar dan menarik Jasmine ke belakang punggungnya.
"Dia anak aku kan, Tha?"
"Bukan. Dia bukan anak kamu!" Athaya mendorong tubuh Ofar dan menarik Jasmine ke dalam. Lalu menutup pintu dengan kencang.
Athaya menangis di balik pintu. Ia menatap Jasmine sekilas. Lalu membungkukkan tubuhnya untuk memeluk Jasmine.
"Itu siapa Bunda?" Jasmine menatap bengong Athaya yang tengah menangis.
"Bukan siapa-siapa, Nak. Jangan bilang sama Ayah ya, kalau ada orang jahat di luar."
Jasmine mengangguk.