Athaya lupa, kapan terakhir kali ia merasa begitu hangat ketika dipeluk oleh seorang lelaki. Bahkan, saat suaminya memeluknya saja, tubuhnya terasa dingin dan Kaku. Athaya selalu ragu untuk membalas pelukan Ghufran.
Tapi, ini? Kenapa? Kenapa dengam mudahnya, Athaya membalas pelukan Ofar. Karena rasa cinta Athaya yang masih tersisa di hatinya.
Rasanya, Athaya tidak ingin moment ini segera berakhir. Ia ingin terus berada di pelulan Ofar sampai kisah ini tamat.
Ofar menarik diri dari pelukan Athaya, tangannya berusaha mengusap pipi Athaya yang basah akibat air mata.
"Jangan nangis lagi, sayang. Aku sudah ada di sini. Bersama kamu...," ucap Ofar berusaha menenangkan. "Ada banyak pertanyaan yang harus aku lontarkan dan kamu jawab. Untuk menuntaskan teka-teki hidup kita yang belum tuntas."
Athaya mengangguk. "Aku mengerti. Kamu duduk dulu di ruang tengah. Aku akan menyediakan minuman."
Ofar mengangguk. Lalu pelukan mereka terlepas. Athaya pergi ke dapur, dan Ofar mengambil tempat di sofa ruang tengah.
Setelah lima menit, akhirnya Athaya muncul sambil membawa dua cangkir teh untuk mereka.
"Ini teh kamu." Athaya menaruh teh tersebut di meja.
Mereka perlu ngobrol banyak dan saling bercerita tentang kisah lima tahun saat merek tidak pernah berjumpa.
"Makasih, Tha." Ofar menyesap tehnya pelan sambil menatap ke arah sekeliling dinding. Melihat foto pernikahan Athaya. Dari sekian banyak foto pernikahannya, tidak ada satupun Ofar melihat Athaya tersenyum.
"Kenapa tanggal pernikahan kamu sama dengan tanggal jadian kita?" Ofar melontarkan pertanyaan pertama setelah menaruh gelas tehnya ke meja.
Athaya mengangkat bahu. "Mungkin suatu kebetulan. Ibuku yang milih tanggalnya."
Ofar terkekeh geli. "Itu bukan kebetulan. Sepertinya ibumu sengaja."
Athaya hanya diam. Sampai detik ini pun, Athaya masih penasaran kenapa ibunya memilih tanggal tersebut. Athaya belum sempat menanyakan hal ini sampai ibunya meninggal.
"Kenapa kamu pindah ke Jakarta?" Tanya Ofar lagi. "Jangan bilang, ini juga rencanamu agar kita nggak bisa berjumpa lagi."
"Enggak." Athaya menggeleng. "Ghufran pindah rumah sakit. Dia diterima di rumah sakit besar di Jakarta."
"Ooo, suamiku Dokter. Sebenarnya aku sudah tahu, tapi lebih terkejut kalau keluar dari mulut kamu. Panteslah, Ibumu setuju menikahkan kamu dengan Ghufran," celoteh Ofar.
Lalu, hening sejenak.
"Darimana kamu tahu aku di sini?" Kini Athaya yang melontarkan pertanyaan.
"Aku udah hilang akal mencari kamu kemana-mana, Tha. Aku nggak bisa nanya sama keluarga kamu, karena mereka pasti mengusirku. Nomor lama Sinar sudah nggak aktif, dan dia juga sudah pindah rumah."
"Terus?"
"Tahun lalu, aku nggak sengaja ketemu Sinar di mall. Dan dia kasih tahu keberadaan kamu." Ofar menarik napas dalam-dalam. "Aku langsung terbang ke Jakarta dan mencari alamat kamu. Sampai akhirnya aku lihat rumah di sebelah kamu dijual, dan aku langsung membelinya."
Athaya speechless mendengar cerita Ofar.
"Kamu masih nge-band?" Tanya Athaya lagi penasaran.
Ofar menggeleng. "Udah bubar. Aku nggak ngeband, tapi aku sekarang sudah jadi produser musik."
Athaya nyaris membuka mulutnya dan berdecak kagum. "Kamu berhasil mencapai impian kamu lebih dari itu."
"Aku udah janji ke diri aku sendiri untuk sukses demi mendapatkan kamu kembali, Tha." Ofar menatap Athaya lekat. "I miss you."
Athaya menelan ludah. Ia merasa gugup dan menyelipkan sejumput rambutnya ke belakang telinga. Lalu Athaya mengambil gelas tehnya kembali dan menyesap tehnya pelan.
"Oh iya, ibu kamu apa kabar? Aku jadi kepengin ketemu Ibu kamu dan menunjukkan kehidupan aku yang sekarang. Agar dia menyesal karena telah membuang aku dari hidup kamu."
Athaya diam beberapa detik. "Ibuku sudah meninggal."
Ofar menganga. "Kapan?"
"Tahun lalu."
"Maaf, Tha. Aku salah nanya." Ofar merasa tidak enak hati karena telah bikin suasana semakin canggung.
"Nggak, kok. Justru aku yang minta maaf atas perlakuan ibuku ke kamu yang selama ini nggak baik. Pasti kamu dendam banget sama Ibu aku, kan?"
"Nggak dendam. Aku cuma ingin membuktikan kesuksesan aku yang sekarang dengan ibumu. Kalau aja dari dulu aku sudah seperti ini, mungkin kita juga sudah menikah, Tha."
"Nggak ada yang perlu disesali lagi, Far. Semua sudah berjalan sesuai takdir Tuhan. Meskipun rasanya sakit, dan aku berusaha mati-matian untuk ikhlas. Tapi, aku tetap bersyukur karena telah bertemu Ghufran. Ternyata, Ghufran suami dan Ayah yang baik untuk aku dan Jasmine."
Ofar termangu dan merasa ditampar keras dengan perkataan Athaya. Seketika Ofar jadi merasa pesimis kalau Athaya tidak akan kembali lagi padanya. Tapi bukan Ofar namanya kalau nggak berjuang sampai akhir. Ofar saja bisa membuktikan kalau dia sukses. Masa sih, menaklukkan hati Athaya kembali dia nggak bisa.
Bagaimana pun caranya, apapun staus Athaya, Ofar nggak peduli. Ofar hanya ingin merebut Athaya kembali dan mencari bukti kalau Jasmine memang anak kandungnya. Entah mengapa Ofar yakin kalau Athaya masih mencintainya seperti dulu.
"Kenapa harus Jasmine?" Ofar coba mengalihkan pembicaraan. "Bukankah itu nama anak impian kamu kalau kita menikah."
Athaya menarik napasnya. Entah sudah berapa banyak oksigen yang Athaya hirup demi membuatnya tetap hidup di depan Ofar. "Jasmine tetap jadi nama favorit aku, kalau punya anak."
"Ooh begitu." Ofar kehilangan kata-kata.
Lalu yang terjadi selanjutnya adalah hening. Ofar menatap Athaya sangat lama sampai Athaya sendiri jadi salah tingkah dan wajahnya berubah warna jadi merah.
"Kamu makin cantik, Tha." Mata Ofar pindah ke bibir Athaya. "Aku rindu menciummu."
Keringat bercucuran di punggung Athaya karena jantungnya terus berpacu kencang. Athaya sudah kebablasan dan hilang akal tadi, karena membiarkan Ofar memeluknya begitu saja. Jangan sampai, Ofar kebablasan lebih dari itu.
Bagaimana pun juga, Athaya harus ingat. Kalau dia sudah memiliki suami.
Athaya tiba-tiba beranjak dari duduknya.
"Oke, sepertinya sudah cukup percakapan singkat kita. Sekarang, aku mau kamu kembali ke rumah kamu lagi. Dan izinkan aku melanjutkan beres-beres rumah, lalu tidur siang dengan damai." Athaya mengambil gelas kotor di atas meja. Lalu membawanya ke dapur.
"Tapi, aku belum puas bertanya." Komentar Ofar.
"Tidak ada lagi yang perlu kamu tanyakan, dan tidak ada lagi yang perlu kamu jawab." Teriak Athaya dari dapur. Lima menit kemudian, Athaya muncul di depan Ofar. "Jangan terlalu banyak berharap lagi dengan kisah kita. Karena kisah kita sudah berakhir. Itu kan, jawaban yang kamu mau dari aku? Aku tetap akan mempertahankan pernikahanku sampai akhir. Jadi, jangan pernah berharap untuk menghancurkan rumah tangga kami."
Lalu, Athaya kembali ke dapur. Athaya berusaha untuk mengalihkan pikirannya yang kacau karena munculnya Ofar dengan mencuci piring kotor.
Ofar terdiam kaku di tempatnya berdiri, seolah tidak bisa berbuat banyak. Mungkin untuk sekarang. Ofar akan memikirkan rencana selanjutnua nanti.
"Kalau gitu, aku pulang dulu ya, Tha." Ofar pamit. Tapi Athaya pura-pura tidak menghiraukan Ofar sampai laki-laki itu keluar dari rumahnya.
Athaya mematikan air keran. Air matanya sudah banjir membasahi wajah. Bagaimana bisa Athaya goyah di saat ia sudah menikah dengan laki-laki lain.