4. Flashback: Permintaan Ibu

1532 Kata
"Tha, kamu ingat dengan Dokter Ghufran." Ibu menghampiri Athaya yang sedang asyik duduk di ruang tengah sambil nonton film Netflix favoritnya. "Ingat, kenapa? Dokter Ghufran bilang, Ibu nggak perlu ke rumah sakit lagi. Ibu bisa ambil obat TB-nya di Puskesmas aja," jelas Athaya setelah mendengar penjelasan dari Ghufran kemarin ketika ia menemani ibunya berobat ke rumah sakit. "Bukan itu yang mau Ibu bilang." "Terus?" Athaya menatap Ibunya sambil menyesap es cokelat yang baru ia pesan melalui akun gojek. "Dokter Ghufran masih single loh, Tha." "Masa sih? Biasanya Dokter spesialis itu udah pada nikah, Bu. Mungkin dia duda kali." "Enggak, dia belum pernah menikah sama sekali. Dari dulu dia fokus sama kerjaannya terus." "Kok Ibu kayak tahu banget sih sama kehidupan Dokter itu." "Tahulah, Ibu kan juga deket sama Dokter Ghufran. Nggak sama Ibu aja sih, sebenarnya. Tapi sama semua pasien dia juga." "Ooo ...." Athaya memasukan popcorn ke dalam mulutnya. "Dokter Ghufran tertarik sama kamu, Tha," kata Ibu yang bikin Athaya tersedak makanannya. Athaya buru-buru menyedot es cokelatnya kembali. "Dia pengen kenal kamu lebih dalam," ujar Ibu lagi. Athaya menatap Ibu sebal. "Bu, bilangin dong kalau aku udah punya pacar." "Siapa? Ofar? Laki-laki nggak jelas itu!" Ibu mulai sewot. Sejak awal pacaran, Ibu nggak pernah menyetujui hubungan Ofar dan Athaya hanya karena Ofar anak band. Bagi Ibu, anak band itu punya kehidupan yang nggak teratur dan nggak jelas. Persis seperti Ayah Athaya. Ngomong-ngomong, Ibu dan Ayah sudah berpisah sejak Athaya berumur lima belas tahun. Alasannya sama, karena kehidupan Ayahnya semakin nggak jelas bersama bandnya. Apalagi ketika Band Ayah bubar dan Ayah nggak punya penghasilan sama sekali. "Kenapa Ibu selalu anggap semua anak Band itu sama, sih? Banyak Band-Band yang sukses di pasaran." "Iya, kecuali Band Ayah dan Ofar. Buktinya sampai sekarang, Ibu nggak pernah lihat tuh, Ofar ada di TV." "Band Ofar cuma tampil offair, Bu." "Karena nggak laku di TV, kan." Ibu semakin meledek Athaya. "Lagian Ofar itu nggak sopan. Kalau ke rumah selalu pake celana dan baju robek kayak gembel. Dia juga nggak pernah tuh salim tangan Ibu." "Ibu sendiri yang nampar tangan Ofar waktu Ofar mau salim Ibu, kan." "Apapun alasannya, masih lebih baik Doker Ghufran daripada Ofar. Jauh malahan! Dokter Ghufran punya masa depan yang jelas." Athaya jadi nggak mood nonton film lagi. Ia menaruh mangkuk popcornnya di atas meja dengan cara dibanting. "Aku nggak suka Ibu banding-bandingin profesi orang!" "Tuh, semenjak kamu pacaran sama Ofar, kamu jadi suka ngelawan!" "Terserah!" Athaya beranjak dari sofa. "Pokoknya besok kamu harus ketemu sama Dokter Ghufran ya, Tha. Ibu nggak mau denger alasan kamu lagi. Kita terima aja kalau Dokter Ghufran mau meminang kamu. Dan jangan pernah menyebut nama Ofar di depan Dokter Ghufran." Athaya tidak mendengarkan ibunya lagi dan masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu. *** "Athaya ini anak saya satu-satunya, Dok. Dia lulusan terbaik dari Universitas Indonesia. Sekarang kerja bagian perpajakan." Ibu mempromosikan Athaya ketika Ghufran datang berkunjung ke rumah mereka. Ghufran menatap Athaya yang hanya diam membisu di sebelah ibunya dengan tatapan kagum. "Wah, hebat. Jarang saya temui wanita independent seperti Athaya ini. Rata-rata, wanita yang kenalan dengan saya itu manja dan berpakaian dengan gaya berlebihan. Kalau saya lihat-lihat, Athaya ini wanita sederhana ya, Buk." "Betul sekali, Dok. Di saat temen-temennya berlomba-loma beli barang-barang branded, Athaya nggak pernah tergiur. Dia lebih suka tampil apa adanya. Sama seperti saya, Dok." Ibu terkekeh geli. Athaya memutar bola mata jengah. Bahkan sifat sederhananya nurun dari sang Ayah. Bukan dari Ibu yang aslinya wanita matre. "Eh, diminum dulu, Dok, tehnya." Tawar Ibu. Ghufran langsung menyesap pelan teh yang sudah disuguhkan oleh sang Ibu. "Kalau Athaya tidak keberetan, Bu. Saya nggak ingin lama-lama jalani hubungan basa-basi. Karena saya mencari istri, bukan pacar." Begitu tutur Ghufran yang membuat Athaya mengangkat sebelah alisnya. Istri? Tidak pernah terbayangkan oleh Athaya kalau dia harus menikah selain dengan Ofar. "Athaya nggak akan keberatan, Dok. Toh, umur Athaya juga sudah matang untuk menikah," ujar Ibu tanpa perlu mendengar jawaban Ahtaya dulu. Athaya tidak terima jika hidupnya bagaikan robot yang mudah diotak-atik seenaknya oleh sang Ibu. Athaya akhirnya berkomentar. "Maaf Dok, saya sudah punya pacar. Sebaiknya Dokter cari wanita lain saja yang mau dengan Dokter. Lagipula, banyak kok, wanita yang jauh lebih baik dari saya." Ghufran dan Ibu terkejut mendengar pernyataan Athaya. Ibu langsung mencubit paha Athaya. "Kamu ngomong apa sih?" "Oh, begitu ya ...." Ghufran merasa sadar diri, kalau ternyata dia salah pilih orang. "Nggak Dok. Athaya dan pacarnya sudah putus sebulan yang lalu. Lagian saya nggak setuju dengan mantan pacarnya itu. Karena dia laki-laki yang nggak sopan." Ibu langsung menyerocos tanpa henti dengan menjelek-jelekkan Ofar. Bikin Athaya sakit hati. "Ibu apa-apaan sih!" Ibu kembali mencubit Athaya dan meminta Athaya untuk tetap diam. "Oh begitu." Ghufran terkekeh. "Kalau memang Athaya single, dan saya pun juga single, kita bisa langsung lanjut pembahasan ini ke jenjang yang lebih serius lagi ya, Bu. Itu juga atas izin Ibuk." "Saya pasti izin, Dok. Saya setuju kalau Athaya bersanding dengan Dokter." Ghufran tersipu malu. "Saya juga akan coba bicarakan hal ini dengan orangtua saya. Jika mereka setuju, Insha Allah lusa saya dan keluarga akan datang untuk bicara kembali." Hati Athaya rasanya mencelos dan sakit ketika melihat mata Ibu berbinar seolah punya banyak harapan agar Athaya dan Ghufran menikah. Bahkan setelah Ghufran pergi meninggalkan rumah pun, Ibu masih terus memaki Athaya. "Ibu kan, sudah bilang. Jangan pernah nyebut Ofar di depan Doker Ghufran, Athaya!!?" "Siapa yang sebut Ofar? Aku cuma bilang sudah punya pacar." "Sama saja!" Ibu berteriak murka. "Dokter Ghufran itu sudah laki-laki paling baik yang Ibu pilihkan untuk kamu. Kamu harus nurut kata Ibu kalau hidup dan masa depanmu ingin panjang." "Bu, aku berhak menentukan pilihanku." "Pilihan yang mana? Ofar bukan pilihan yang tepat! Kamu harusnya bisa berkaca dari nasib Ibu. Memangnya kamu mau hidup menderita seperti yang Ibu jalani ketika menikah dengan ayahmu?" "Stop jelek-jelekin Ayah! Dia nggak pernah salah, tapi Ibu yang salah karena hidupnya nggak pernah bersyukur dan selalu memandang orang dari hartanya! "Kurang ajar mulut kamu, Athaya!" Ibu menampar Athaya. Kepala Athaya terhuyung ke samping, ia menyentuh pipinya yang kebas akibat tamparan sang Ibu. Selama dua puluh enam tahun Athaya hidup, ini pertama kalinya dia mendapat tamparan dari Ibu. Athaya menangis. Ia mengambil ponselnya dari saku celana dan menghubungi Ofar. "Jemput aku, Far. Bawa aku pergi dari sini." Emosi Ibu semakin kalut. Ia mengejar langkah Athaya dan merampas ponsel Athaya. "Heh kamu!" Seru Ibu bicara pada Ofar di telepon. "Jangan pernah hubungi anak saya lagi. Karena sebentar lagi Athaya akan menikah!" Dan Ibu memutuskan sambungan telepon, lalu menahan ponsel milik Athaya. "Sampai kapan pun, aku nggak akan pernah mau menikah kecuali dengan Ofar! Laki-laki pilihanku sendiri!" Athaya masuk ke dalam kamarnya dan mengeluarkan semua pakaian dari lemari untuk dimasukkan ke dalam koper. "Jangan coba-coba buat membantah Ibu dan pergi dari rumah ini Athaya!" Ibu menghampiri Athaya ke dalam kamar. "Aku akan pergi bersama Ofar! Aku akan buktikan dengan Ibu, kalau aku bisa bahagia bersama Ofar." Athaya sudah nggak peduli kalau baju yang dia susun di koper berantakan. Athaya menutup kopernya dan menarik kopernya keluar dari kamar. "Athayaaa! Ibu bilang jangan pernah keluar dari rumah ini!" Bentak Ibu murka. Ibu melangkah menuju dapur untuk mengambil pisau. Lalu ia kembali menghadang Athaya dengan mengancam akan menyayat tangannya menggunakan pisau. "Kalau kamu membantah Ibu, siap-siap kamu akan melihat mayat Ibu di rumah!" Athaya kaget dengan sikap sang Ibu yang terlalu berlebihan. Dia ingat dulu ketika Ibu dan Ayah jatuh miskin, Ibu malah nekat minum banyak obat tidur karena nggak tahan harus hidup menderita bersama sang Ayah. Meskipun Ibu bersikap di luar nalar manusia normal, dan meskipun Ibu sering memarahinya. Tapi, Athaya bisa sukses berkat tangan Ibu yang telah bekerja keras sampai sakit. Bagaimana mungkin Athaya rela kehilangan ibunya hanya karena Athaya lebih memilih hidup bersama Ofar. "Ibu, jangan ...." Athaya menjatuhkan kopernya ke lantai. Ia segera berlari ke arah Ibu dan membuang pisau itu jauh-jauh dari jangkauan Ibu. "Biarkan saja Ibu mati, Athaya. Daripada Ibu harus lihat kamu hidup bersama laki-laki yang nggak jelas masadepannya itu." Ibu menangis histeris. Athaya tidak sanggup melihat ibunya seperti ini. Biar saja dia yang mengalah. "Maafin Athaya, Bu. Athaya nggak akan pergi dari rumah ini, Athaya nggak mau kehilangan Ibu." Akhirnya Athaya nggak punya pilihan lain selain menuruti semua keinginan ibunya. Athaya tidak diperbolehkan lagi keluar rumah selain bekerja. Itu juga selalu diawasi oleh Ibu. Ponsel Athaya juga disita Ibu. Ibu tahu kalau Ofar terus menghubungi ponsel Athaya, tapi Ibu sengaja mengbaikan panggilan tersebut. Bahkan sampai mematikan ponsel Athaya. Ibu yakin kalau dia sudah melakukan yang terbaik untuk Athaya. Semua ini demi masa depan Athaya. Ofar tidak kuliah, tidak punya masa depan, dia kabur dari rumah orangtuanya sendiri hanya karena ingin melanjutkan hidup sebagai musisi dari Band yang nggak terkenal. Ibu sering menangkap basah Athaya sering menangis karena Ofar beberapa kali main perempuan. Ofar suka mabuk-mabukan, dan Athaya juga pernah dibawa mabuk oleh laki-laki b******n itu. Banyak hal yang Ibu nggak suka dari Ofar, meski Athaya sangat mencintai Ofar. Selama ini, Ibu diam-diam saja karena ingin melihat anaknya bahagia untuk sementara. Tapi tidak ingin membuat anaknya terjebak dalam keterpukulan untuk selamanya. Selama lima tahun Ibu berpikir keras untuk memisahkan Ofar dan juga Athaya. Sampai akhirnya, Dokter Ghufran datang sebagai penyelamat yang akan menikah dengan anaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN