7. Ngobrol

1010 Kata
Ini hari Minggu, biasanya Athaya dan Jasmine menghabiskan waktu untuk bikin kue. Jasmine sangat suka brownis choco chip buatan ibunya. Persis seperti Ofar dulu yang sangat menyukai brownis choco chip buatan Athaya. Dulu, hampir tiap hari Athaya rajin bikin kue untuk Ofar. "Enyaaak!" Jasmine mengacungkan jempol. "Nih, kamu bawa satu piring untuk Ayah ya." Athaya memberikan satu piring berisi enam potong brownis. "Oke, Bunda!" Jasmine dengan semangat mengantar kue ke taman yang ada di depan rumahnya. Sedangkan Athaya lanjut membereskan dapur yang berantakan. Beberapa menit kemudian, Jasmine kembali lagi menghampiri Athaya. "Bunda, kata Ayah bikin teh satu lagi," kata Jasmine bijak. "Untuk siapa? Jasmine nggak boleh minum teh banyak-banyak." Athaya memang sangat menjaga makan dan minum anaknya seperti mengurangi gula. "Bukan buat aku, Bunda. Tapi buat Om Ofar." Seketika Athaya membeku. Mau apa lagi Ofar mengganggu suaminya. "Om Ofar ada di sini?" Jasmine mengangguk. "Lagi duduk bareng Ayah." Jantung Athaya rasanya cenat-cenut. Ia membuat teh dengan tangan bergetar. Kemudian membawanya menuju taman depan rumah. "Ini tehnya, Mas." Ia bicara pada Ghufran sambil menaruh gelas teh di atas meja. Bahkan Athaya tidak sanggup menatap Ofar. "Makasih Mba," kata Ofar penuh dengan kepalsuan. "Brownis ini, Mba Athaya yang bikin?" Ofar basa-basi. "Istri saya jago banget bikin kue, Far. Kadang tiap Minggu Athaya dan Jasmine punya jadwal untuk bikin kue." Ghufran memuji istrinya. "Enak," kata Ofar setelah mencicipi brownis Athaya. Meskipun Ofar sering mencicipinya dulu. Tapi sudah lima tahun berlalu dan Ofar hampir lupa dengan rasanya. "Ini brownis choco chip kesukaan saya." Ofar menunjukan brownisnya pada Ghufran. "Wah sama dong dengan Jasmine. Dia juga suka banget brownis choco chip buatan Atahaya," ujar Ghufran. Ofar terdiam sejenak sambil menatap Athaya. "Ternyata, saya dan Jasmine punya kesamaan ya." Athaya berhasil dibuat salah tingkah. Dia sampai bingung harus bersikap bagaimana. "Saya permisi dulu." Athaya hendak pergi meninggalkan suaminya dan Ofar. Tapi Ghufran menahan lengan Athaya. "Duduk sini dulu bentar sayang. Sambil ngobrol-ngobrol seru dengan tetangga baru." Perintah suaminya yang tidak bisa Athaya bantah. Ia pun menarik kursi dan duduk di antara mereka dengan canggung. "Tha, ternyata Ofar ini punya label music loh. Dia juga punya studio music yang bisa disewakan untuk para musisi." Ghufran bicara penuh semangat. "Ofar, istri saya hobby banget sama music. Dia suka dengerin lagu band ...." Ghufran menatap istrinya. "Apa nama bandnya Bund?" Athaya enggan menjawab. "Sechond Chance Band?" Ofar menyebut nama bandnya dulu. "Ah iya. Padahal grup band itu udah lama bubar. Tapi, Athaya masih aja suka putar lagu itu." "Kalau Mba Athaya mau, saya bisa pertemukan Mba dengan salah satu personil band-nya." Ofar menatap Athaya sambil tersenyum smirk. "Wah, kebetulan banget tuh, Mas," kata Ghufran. "Boleh deh." "Mas ...." Athaya menyentuh tangan Ghufran. "Aku nggak mau." "Kenapa sayang? Bukannya kamu suka banget sama Band itu." Athaya menggeleng. "Sekarang udah enggak." "Waduh...." Ghufran garuk-garuk kepala. Dia sangat tahu istrinya. Selama lima tahun menikah, istrinya selalu menangis setiap kali mendengar lagu dari band Ofar. Dan selama ini Ghufran selalu menanggap kalau Athaya sangat menyukai grup band tersebut dan sempat terlintas dalam otaknya untuk mengajak Athaya nonton konser dari band tersebut. Sayangnya, Sechond Chance Band sudah bubar sejak dua tahun lalu. "Hahaha, nggak apa-apa, Mas. Wanita memang cenderung malu-malu," ujar Ofar. "Aku boleh masuk kan, Mas." Athaya minta izin dengan suaminya. Sekalipun dulu Athaya tidak mencintai Ghufran, izin suami adalah nomor satu. "Yaudah sayang, silakan." *** "Tha, berhubung besok tanggal merah. Aku mau ajak kamu dan Jasmine mancing," ujar Ghufran saat melihat Athaya keluar dari kamar mandi. "Tumben." Athaya meledek. Ia duduk di meja rias sambil menggunakan cream malam di wajahnya. "Udah lama banget nggak mancing. Mumpung ada temennya, jadi aku kepikiran buat mulai mancing lagi." "Temen?" Athaya menatap Ghufran dari cermin. "Ternyata Ofar hobby mancing juga, Tha." Mendengar nama Ofar, lagi-lagi jantung Athaya berdegup. "Mas ... Kamu jangan terlalu dekat dengan tetangga baru itu, deh." "Kenapa?" Ghufran menatap istrinya bingung. "Kayaknya dia bukan orang baik. Lihat aja, asal-usulnya nggak jelas gitu. Dan dari kemarin dia coba sok kenal sok dekat dengan kamu." Ghufran tertawa. "Bukan sok kenal sok dekat, sayang. Tapi dia coba berbaur dengan tetangganya. Dan syukurnya lagi, obrolan kami cocok. Ternyata dia lebih muda dari aku, usianya samalah kayak kamu. Tapi dia sopan banget orangnya." Sopan? Athaya mematut dalam hati. Dulu di mata Ibu, Ofar paling dikenal sebagai orang yang nggak pernah sopan. "Kamu nggak takut kalau Ofar malah ganjen sama aku." Entah kenapa Athaya harus ngomong begitu. Ghufran mengangkat alisnya. Athaya sadar kalau dia terlalu percaya diri. "Eh, bukan maksudku geer atau sok kecantikan, Mas." Athaya meralat kata-katanya. "Kamu emang cantik kok, sayang." Puji Ghufran terang-terangan. "Tapi, aku nggak mungkin takut atau cemburulah. Wong, Ofar sudah punya istri kok." "Ha?" Athaya bengong dibuatnya. "Ofar sendiri yang ngomong sama aku begitu." Sejak kapan Ofar bilang dia sudah menikah!? Dan kalaupun Ofar sudah menikah, kenapa dia harus mendekati Athaya? Pikiran itu terus membuat kepala Athaya berkecamuk. "Terus mana istrinya? Aku nggak pernah lihat." "Istrinya di Bandung, sayang. Dia LDR dengan istrinya." Athaya semakin terkejut dibuatnya. Tapi apalah daya, memangnya Athaya bisa apa? Memangnya Athaya harus berespons bagaimana selain berkata, "Ooooh." Athaya beranjak dari meja rias dan menuju jendela. Gorden jendelanya terbang ditiup angin. Saat Athaya hendak menutup jendelanya, ia tak sengaja menatap ke arah rumah di sebelahnya. Ternyata Ofar juga ikut berdiri di depan jendela, entah sudah berapa lama lelaki itu melihat ke arah sini. Membuat Athaya berdigik ngeri. Athaya buru-buru menutup jendela, mematikan lampu terang dan menyalakan lampu tidur di atas nakas, lalu ikut bergabung bersama suaminya dikasur. "Tetap aja perasaan aku nggak enak, Mas," kata Athaya lagi. "Sepertinya Ofar bukan orang baik." Ghufran lagi-lagi terkekeh geli. "Sudahlah, jangan bahas Ofar lagi. Malam ini aku pengen mesra-mesraan sama kamu." Kemudian mereka berciuman sampai akhirnya b******u di ranjang. Sedangkan di sisi lain, Ofar masih berdiri di depan jendela. Memperhatikan kamar Athaya yang sudah redup dan hanya menyisahkan cahaya kuning. Tapi, samar-samar Ofar bisa melihat apa yang mereka lakukan di kamar, kaena gorden Athaya berwarna putih dan berbahan agak tipis. Ofar mengepalkan tangan geram. Rasanya sakit harus menyaksikan pemandangan ini setiap hari. Ofar berjanji akan merebut kembali sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN